Currently set to Index
Currently set to Follow

Pekan Ini, Harga Emas Gantungkan Asa ke Antisipasi Inflasi Bank Sentral Global

Pekan lalu masih menjadi periode yang biasa saja bagi sang logam mulia. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah kegalauan The Fed menyoal pengetatan kebijakan moneter, seperti yang tersirat dalam analisis harga emas pekan lalu.

Namun, ternyata bukan hanya The Fed yang jadi biang keladi stagnannya harga emas pekan lalu. Lantas, apa yang terjadi dengan emas di minggu kemarin?

Analisis Harga Emas Pekan Lalu

Pergerakan harga emas selama sepekan kemarin, secara garis besarnya, bisa Sobat Cuan lihat di grafik di bawah ini.

analisis harga emas
Pergerakan Harga Emas dalam Rentang Perdagangan 4 Jam. Sumber: Tradingview

Harga emas selama pekan kemarin berada dalam rentang US$1.750 hingga US$1.780 per ons. Pergerakan dengan rentang yang singkat ini merupakan cerminan dari reaksi investor yang kelihatannya masih bimbang untuk menggenggam sang logam mulia.

Kebimbangan itu terjadi karena investor berada di tengah dua situasi yang bertolak belakang.

Yang pertama, pelaku pasar menanti sinyal apakah The Fed benar-benar menaikkan suku bunga acuannya sebanyak dua kali pada 2023 mendatang. Sebab, pejabat The Fed silih berganti memberikan komentar mencla-mencle terkait wacana yang dimaksud.

Dalam rapat FOMC The Fed yang berlangsung Rabu (16/6), The Fed memberi sinyal pengetatan tersebut. Hanya saja, sepekan kemudian, Ketua The Fed Jerome Powell malah mengatakan bahwa The Fed masih akan melanjutkan kebijakan moneter yang pro-pertumbuhan dan pro-penyerapan tenaga kerja.

Seolah-olah tak cukup dibuat puyeng dengan dua pernyataan tersebut, investor kemudian harus dibikin pusing dengan ucapan tiga pejabat The Fed. Mereka semua mengatakan bahwa inflasi akan terjadi dengan cepat sehingga pengetatan kebijakan moneter harus dilakukan.

Seolah kurang pusing dengan wacana hawkish The Fed, pelaku pasar pun makin bingung ingin menggenggam emas atau tidak setelah melihat perkembangan pandemi COVID-19 yang terjadi. Sebagaimana diketahui, saat ini dunia melihat kembali gelombang kasus baru COVID-19 yang disebabkan oleh hadirnya varian delta yang dianggap cukup berbahaya.

Hal ini bikin pelaku pasar khawatir bahwa ekonomi mungkin akan mengalami penutupan kembali. Dan di saat-saat seperti ini, tentu investor akan lebih selera dalam menggenggam emas sebagai aset safe haven.

Namun, investor nampaknya baru bisa menentukan pilihan di akhir pekan dengan menunggu rilis data ketenagakerjaan.

Dan akhirnya, investor kembali merangsek masuk pasar emas setelah Departemen Ketenagakerjaan AS mengatakan bahwa tingkat pengangguran AS naik dari 5,8% di Mei menjadi 5,9% di Juni. Data tersebut bikin investor makin yakin bahwa The Fed kemungkinan tidak akan mengerek suku bunga acuannya secepat mungkin.

Hal itu, termasuk meningkatnya daya tarik emas sebagai safe haven, tercermin dari tren harga emas yang meningkat di akhir pekan.

Baca juga: Pekan Ini, Emas Akan Didorong Sentimen Positif di Tengah Sentimen Pemulihan Ekonomi

Pekan Ini, Harga Emas Gantungkan Asa ke Antisipasi Inflasi Bank Sentral Global, Pluang

Analisis Harga Emas Pekan Ini

Setelah melalui pekan yang bimbang, lantas bagaimana analisis emas untuk pekan ini? Jawabannya, mungkin logam mulia masih harus dirundung awan gelap. Sebab, ada kemungkinan investor masih menerka data ketenagakerjaan yang dirilis akhir pekan lalu.

Memang, tingkat pengangguran AS tercatat meningkat. Namun di sisi lain, dunia usaha AS ternyata mencatat tenaga kerja baru sebesar 885.000 orang. Alias, melesat dibanding Mei yakni 559.000.

Sebagian investor mungkin akan lambat laun akan membaca data tersebut sebagai sinyal pemulihan ekonomi yang kuat. Sehingga, mereka merasa bahwa The Fed pun akan mengerek suku bunga acuannya. Nah, akibatnya, mereka mungkin akan melepas emas dan memburu investasi yang moncer saat rezim suku bunga tinggi, seperti obligasi pemerintah AS.

Selain itu, ada kemungkinan besar reli singkat harga emas di awal pekan bisa seumur jagung. Sebab, ada kemungkinan momen ini dimanfaatkan bagi segelintir investor untuk ambil untung.

Tapi, investor tak perlu khawatir. Sebab, masih ada angin segar yang bisa mengerek nilai sang logam mulia. Yakni, akumulasi emas oleh bank sentral global.

Beberapa bank sentral di Serbia, Thailand, dan Ghana sudah meningkatkan kepemilikan emas untuk mengantisipasi percepatan inflasi. Dalam jangka panjang, emas memang dianggap penjaga dan penjamin yang signifikan dari inflasi dan berbagai risiko keuangan lainnya.

Bahkan, peristiwa tersebut sudah tercermin di pergerakan harga emas awal pekan ini. Pada Senin (5/7) pukul 11.00 WIB, harga logam mulia berhasil menangak 0,17% ke US$1.786,35 per ons.

Selain itu, pekan ini pun minim jadwal perilisan data makroekonomi terkini. Namun, investor perlu mewaspadai perilisan risalah rapat The Fed Juni pada pekan ini dan penerbitan data terbaru mengenai pertumbuhan sektor jasa AS.

Baca juga: Marak Sentimen Positif, Harga Bitcoin Diramal Menguat di Pekan Ini

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Goldprice

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img