Currently set to Index
Currently set to Follow

Indeks Saham AS Cetak Sejarah dan Makin Jauhi Zona Merah

Indeks utama pasar saham negeri Paman Sam kembali menorehkan kinerja mumpuni pada pekan lalu. Indeks Dow Jones dan S&P 500 ditutup pada rekor tertinggi terbarunya, seperti yang sudah diterangkan pada analisis saham Amerika Serikat pekan sebelumnya.

Pada sesi perdagangan Jumat (9/4), indeks S&P 500 menembus angka 4.100 untuk pertama kalinya, tepatnya di posisi 4.128. Sehingga, menyebabkan nilai indeks yang berisi perusahaan paling bonafit seantero AS ini bertumbuh 2,7% selama pekan lalu.

Kinerja yang manis juga dicatat oleh indeks Dow Jones Industrial Average, yang ditutup di angka 33.800 di hari yang sama. Ini merupakan rekor kedua Dow Jones dalam sepekan terakhir, yang ikut mendongkrak nilai indeks ini sebesar 2% sepanjang minggu kemarin.

Badai tampaknya juga tak menerjang indeks saham penting AS lainnya, Nasdaq. Pada Jumat, nilai indeks tersebut mencatat 13.900 atau naik 3,1% selama sepekan.

Kenaikan tersebut terjadi secara keseluruhan, dengan saham industri, ritel, dan teknologi mendorong pasar menjadi lebih tinggi. Dua pertiga dari komponen Dow berada di wilayah positif. Tetapi, volume perdagangan tetap rendah seperti yang terjadi sepanjang minggu lalu.

Moncernya kinerja saham AS ini disebabkan oleh sikap investor yang tampak optimistis dengan pemulihan ekonomi negara adidaya tersebut. Pada Jumat lalu, Departemen Ketenagakerjaan AS mencatat bahwa indeks harga produsen terkerek 1% secara bulanan (month-to-month) di Maret atau, 4,2% secara tahunan (year-on-year). Pertumbuhan tahunan indeks harga produsen ini merupakan yang tertinggi sejak 2011 silam.

Nampaknya, investor lebih memilih untuk menyuarakan optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi meski ada ancaman inflasi yang mengintai dari perilisan data tersebut. Sekadar informasi, kenaikan tingkat inflasi akan mengancam nilai riil dari dividen saham, sehingga investor pun akan berpaling dari pasar modal.

Rekor pada Wall Street ini tidak hanya berlaku untuk indeks saham saat ini saja. Penelitian Bank of America menemukan bahwa investor telah memasukkan uang US$576 miliar ke pasar modal AS dalam lima bulan terakhir. Angka ini lebih besar dibanding 12 tahun lalu yakni US$452 miliar.

Indeks Saham AS Cetak Sejarah dan Makin Jauhi Zona Merah, Pluang

Analisis Saham Amerika Serikat: Apa yang Investor Perlu Perhatikan Minggu Ini?

Minggu lalu dapat dikatakan relatif kuat untuk pasar ekuitas AS, meskipun hanya ada sedikit berita. Sementara, investor akan menanti gelombang berita untuk minggu ini karena dinamika di pasar modal AS akan marak. Lantas, apa saja hal-hal yang perlu diantisipasi investor dalam analisis pasar saham Amerika Serikat pekan ini?

1. Laporan Pendapatan Perusahan Kuartal I 

Berbagai perusahaan AS akan melaporkan rapor kuartal I pada minggu ini, dan prospeknya sangat berbeda dari tahun lalu. Dari segi neraca dan prospek ke depannya, sebagian besar perusahaan yang telah bertahan selama 12 bulan terakhir menunnjukkan kinerja yang lebih bagus.

Menurut data Institutional Brokers ‘Estimate System (IBES) yang dikutip oleh Reuters, secara keseluruhan pendapatan S&P 500 diperkirakan telah melonjak 25% pada kuartal pertama dihitung dari setahun yang lalu. Hal ini akan menjadi peningkatan kuartalan terbesar sejak 2018, ketika pemerintahan Trump memberlakukan Pemotongan Pajak dan Undang-Undang Pekerjaan 2017.

Bank-bank besar akan menjadi perusahan pertama yang melaporkan hasil minggu ini (12/4), termasuk JPMorgan Chase, Goldman Sachs, dan Wells Fargo. Margin bunga bersih telah meningkat seiring dengan kebijakan suku bunga The Fed mendorong laba perusahaan keuangan raksasa ini. Adapun saham bank telah menjadi salah satu yang berkinerja terbaik di tahun 2021, karena keuntungan perusahaan didorong oleh lebih banyaknya pengeluaran konsumen dan kenaikan suku bunga.

2. Penawaran Umum Perdana (IPO) Coinbase di Bursa Saham AS

Analisis pasar saham Amerika Serikat pekan ini juga akan dipengaruhi rencana go-public Coinbase, bursa cryptocurrency terbesar di Amerika Utara, pada 14 April melalui Direct Listing. Investor telah menunggu peristiwa satu ini lantaran Coinbase adalah bursa aset kripto pertama yang melepas sahamnya ke publik.

Perusahaan ini akan menjual sebanyak 114,9 juta saham langsung ke publik, menurut pengajuan S-1 ke otoritas pasar modal AS, the Securities Exchange and Comission. Coinbase berencana untuk mengungkapkan harga referensi untuk saham sehari sebelum perdagangan dimulai, tetapi analis telah menilai perusahaan dengan rentang valuasi mulai dari US$70 miliar hingga US$100 miliar.

Dalam pengajuannya, Coinbase juga mengatakan bahwa perusahaan memiliki 56 juta akun terverifikasi dan melaporkan pendapatan sebesar US$1,8 miliar pada kuartal terakhir, dengan laba bersih di sekitar US$730 juta hingga US$800 juta. Pendapatan ini naik lebih dari 800% pada kuartal pertama 2021 dibandingkan dengan tahun sebelumnya, belum jika mempertimbangkan pangsa pasar yang belum “tersentuh”. Faktor kuat ini dapat menjadikan Coinbase menjadi saham terpanas tahun 2021.

Tetapi, akan sulit untuk memperkirakan pendapatan masa depan untuk perusahaan oleh karena ketergantungan Coinbase pada pergerakan harga crypto.

Banyak trader crypto percaya bahwa saham Coinbase, dengan kode COIN, yang terdaftar di bursa akan membawa dunia cryptocurrency ke kancah arus utama investasi. Sementara, ada juga yang mengatakan bahwa ini akan menjadi peluang bagus untuk mengurangi beberapa volatilitas yang terkait dengan aset digital.

3. Waspada Kenaikan Imbal Hasil Obligasi Pemerintah AS

Sikap pasar modal seolah-olah mengabaikan dampak inflasi dari optimisme ekonomi AS tetap perlu menjadi perhatian. Sebab, ada kemungkinan obligasi pemerintah AS akan kembali menjadi primadona secara diam-diam seiring ekspektasi inflasi yang meningkat.

Pada pekan lalu, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun melonjak lebih dari 2% pada pekan lalu setelah pengumuman Departemen Ketenagakerjaan tersebut.

Asal tahu saja, kenaikan ekspektasi inflasi akan dibarengi dengan harapan investor untuk mendulang cuan dari Surat Utang Negara (SUN). Sebab, menanjaknya ekspektasi inflasi kemungkinan besar akan direspons bank sentral dengan menaikkan suku bunga acuannya. Alhasil, jika suku bunga acuan terdongkrak, maka imbal hasil obligasi pemerintah pun akan semakin moncer.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img