Currently set to Index
Currently set to Follow

Arah Indeks Saham AS Pekan Ini Menanti Harap-Harap Cemas Sikap The Fed

Pekan kemarin nampaknya menjadi pekan yang manis bagi sasar saham AS. Seluruh tiga indeks saham utama AS menutup pekan kedua Juni dengan mendarat di zona hijau. Sesuai analisis saham Amerika Serikat sebelumnya, kinerja pasar saham minggu lalu benar-benar terangkat oleh optimisme ekonomi negara adidaya tersebut.

Rangkuman performa tiga indeks tersebut dapat dilihat di tabel di bawah ini:

Dow Jones 34.479,60 + 0,04%
S&P 500 4.247,44 + 0,19%
Nasdaq 14.069,42 + 0,35%

 

Pada pekan lalu, nilai indeks S&P 500 nyaris menyentuh rekor tertinggi baru. Sementara itu, nilai Nasdaq naik hampir 2%, di mana peristiwa ini merupakan kenaikan dalam empat minggu berturut-turut. Lantas, apa yang terjadi dengan pasar saham AS pada pekan lalu?

Analisis Saham Amerika Serikat Pekan Lalu

Ternyata, moncernya kinerja pasar saham Amerika Serikat pekan lalu disebabkan oleh melorotnya imbal hasil obligasi negara AS bertenor 10 tahun. Terlebih, pekan lalu merupakan pekan terburuk bagi kinerja instrumen tersebut dalam setahun belakangan. Betapa tidak, yield obligasi AS dengan tenor tersebut anjlok dari 1,53% di awal pekan menjadi 1,44% di akhir pekan.

Hal ini mengindikasikan bahwa investor mulai kembali bergairah untuk menggenggam aset-aset berisiko, seperti saham. Hal ini mungkin ada hubungannya dengan meningkatnya tingkat kepercayaan diri investor gara-gara data ekonomi yang mumpuni.

Apa saja data-data tersebut?

1. Data Ketenagakerjaan

Pada pekan lalu, hasil survey lowongan kerja AS (Job Openings and Labor Turnover Survey) menunjukkan hasil yang mencengangkan. Ternyata, Departemen Ketenagakerjaan AS mencatat 9,3 juta lowongan pekerjaan baru pada April, melesat dibanding 8,3 juta lowongan di Maret.

Bahkan, angka ini melebihi ekspektasi analis yakni 9,28 juta lowongan kerja baru. Selain itu, jika dilihat secara tahunan, penambahan lowongan kerja baru ini tumbuh 4,7 juta dibanding April tahun lalu.

Memang, secara kasat mata, data ini menunjukkan penguatan sinyal-sinyal pemulihan ekonomi. Namun, di dalam survei yang sama, Departemen Ketenagakerjaan AS juga mencatat tingkat pengunduran diri yang tinggi yakni 2,7% di April.

Ini menunjukkan bahwa ada tingkat ketergantian (turnover) tenaga kerja yang tinggi, yang juga mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja AS terbilang ketat. Dengan kondisi suplai tenaga kerja yang sempit, ada kemungkinan gaji pegawai dengan tingkat kemampuan rendah juga meningkat.

Sayangnya, kondisi ini akan menciptakan inflasi yang meradang jika berlangsung dalam jangka panjang. Hal ini pun bisa menggerogoti kinerja indeks S&P 500, seperti yang dijelaskan di artikel berikut.

2. Inflasi AS Naik ke Level Tertinggi dalam 13 Tahun

Minggu lalu, Biro Statistik AS juga melaporkan tingkat inflasi tahunan sebesar 5,2% pada Mei. Di mana, angka ini merupakan inflasi tahunan tertinggi sejak 2008 lalu.

inflasi AS

Alasannya sama seperti moncernya data ketenagakerjaan. Yakni, pemulihan ekonomi AS.

Konsumen melihat harga yang lebih mahal untuk konsumsi mereka, terutama barang-barang berharga mahal seperti kendaraan. Indeks untuk furnitur, tarif penerbangan dan pakaian jadi juga naik tajam di bulan Mei.

Memang, di satu sisi, inflasi memang bisa menggerus kinerja indeks S&P 500. Namun, perlu diingat bahwa kondisi ini sangat berdampak baik bagi saham-saham yang kinerjanya ditopang oleh kondisi makroekonomi, atau biasa disebut growth stocks. Penjelasan growth stocks bisa dibaca di artikel berikut.

Analisis Saham Amerika: Hal yang Dinanti Investor Pekan Ini

Setelah melalui pekan yang berbunga-bunga, bagaimana analisis saham Amerika Serikat pada pekan ini? Apa saja hal yang tengah dinanti investor?

1. Pertemuan The Fed

Investor akan memusatkan perhatian pada pernyataan The Fed pada di pertemuan yang akan berlangung dua hari di hari Rabu. Pertemuan ini terbilang agak menegangkan, mengingat latar belakang investor yang terus menerus khawatir tentang usainya pelonggaran kebijakan moneter bank sentral AS tersebut.

The Fed telah berulang kali mengatakan bahwa lonjakan harga jangka pendek tidak akan diterjemahkan ke dalam inflasi yang langgeng. Bahkan, Ketua The Fed Jerome Powell diperkirakan akan tetap pada pendirian ini dan meyakinkan pasar bahwa kebijakan Fed akan tetap akomodatif.

Sementara angka inflasi meningkat, pemulihan di pasar tenaga kerja tetap lamban. Ekonomi menambahkan 559.000 pekerjaan bulan lalu setelah kenaikan hanya 278.000 pada bulan April. Itu membuat lapangan kerja sekitar 7,6 juta pekerjaan di bawah puncaknya pada Februari 2020.

Sebagian besar analis tidak mengharapkan The Fed untuk mulai membahas penskalaan kembali program pembelian asetnya sebelum konferensi tahunan di Jackson Hole, Wyoming, pada akhir Agustus.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img