Currently set to Index
Currently set to Follow

Setelah Inflasi, Earning Season Jadi Fokus Pasar Saham AS Pekan Ini

Ketiga indeks utama Wall Street membukukan kerugian mingguan untuk pertama kalinya bulan ini. Meskipun analisis saham Amerika Serikat pekan lalu menunjukkan bahwa tingkat inflasi akan menjadi penentu kinerja pasar modal AS, namun nyatanya tiga indeks saham utama AS sama-sama terjun ke zona merah karena ada faktor lainnya.

Lantas, seperti apa kondisi pasar saham Amerika Serikat di pekan lalu?

Analisis Saham Amerika Serikat Pekan Lalu

Secara singkat, kinerja tiga indeks saham utama AS sepanjang pekan lalu bisa dilihat di tabel berikut:

Harga Awal Minggu (12/7) Harga Akhir Minggu (16/7) Perubahan
S&P 500 4.369,55 4.327,16 -0,98%
Dow Jones 34.870,16 34.687,85 -0,53%
Nasdaq 14.701,92 14.427,2 -1.90%

 

Pada basis mingguan, Indeks S&P 500 turun 1% setelah mencetakn rekor tertinggi baru sepanjang masa di hari Senin (12/7). Di sisi lain, Nasdaq mendapat pukulan terbesar, turun 1,9% selama lima hari terakhir.

Indeks saham AS mendapat pukulan besar menjelang akhir pekan lantaran investor merasa waswas setelah Biro Statistik dan Ketenagakerjaan AS merilis data inflasi Juni.

Selasa pekan lalu, lembaga tersebut mencatat bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) secara bulanan (month-to-month) Juni tercatat 0,9% atau melesat melebihi prakiraan ekonom yakni 0,5%.

Namun, jika dilihat secara tahunan (year-on-year), tingkat inflasi AS di Juni tercatat di 5,4%, atau 40 basis poin lebih tinggi dibanding Mei yakni 5%. Tingkat inflasi ini ternyata menjadi yang tertinggi dalam 13 tahun terakhir, membuat investor takut bahwa lonjakan kenaikan harga ini akan mengganggu pemulihan ekonomi AS ke depan.

Selain inflasi, ternyata pelaku pasar juga mencemaskan faktor lainnya dan bikin indeks saham utama AS kian mengarah ke zona merah. Apa saja faktor-faktor tersebut?

1. Pesimisme Konsumsi AS

Kecemasan ini semakin menebal setelah Universitas Michigan merilis indeks sentimen konsumen atau Michigan Consumer Sentiment Index (MCSI) pada Jumat (16/7). Indeks survei bulanan ini mencerminkan perasaan konsumen tentang ekonomi, keuangan pribadi, kondisi bisnis, dan kondisi konsumsi masyarakat AS.

MCSI dipandang sebagai indikator ekonomi utama yang penting. Sebab, pengeluaran konsumen menyumbang sekitar 67% dari ekonomi AS. Sehingga, segala hasil survei itu secara tidak langsung menggambarkan prospek tingkat konsumsi masyarakat AS ke depan.

Adapun, indeks sentimen konsumen pada Juni malah jatuh ke 80,8 dibandingkan 85,5 sebulan sebelumnya. Survei tersebut dapat dilihat bahwa warga Amerika menyatakan keprihatinan tentang kenaikan inflasi meski memang penjualan ritel naik di bulan yang sama akibat pembukaan lagi kegiatan ekonomi AS (reopening).

Hal ini tentu mengecewakan semua perkiraan investor dan memutar balikkan keyakinan pasar. Padahal dalam beberapa waktu terakhir, pelaku pasar sangat optimistis dengan percepatan pemulihan ekonomi AS, yang akhirnya bikin nilai tiga indeks saham utama AS ikut meroket.

2. Hype Earning Season ‘Layu Sebelum Berkembang’

Di samping itu, investor nampaknya kurang menyambut baik hype mengenai earning season kuartal I 2021 yang sudah dimulai pada pekan ini.

Memang, beberapa analis akan menyambut pertumbuhan pendapatan sebesar 64% lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, investor menyambut hal tersebut dengan sikap suam-suam kuku karena pertumbuhan itu sudah diramal sebelumnya.

Lebih dari 20 perusahaan dalam S&P 500 yang mengalahkan perkiraan analis untuk laporan pendapatan kuartal kedua minggu ini, angka rata-rata hasil laba per saham mereka adalah 18% lebih tinggi dari yang diharapkan.

Setelah Inflasi, Earning Season Jadi Fokus Pasar Saham AS Pekan Ini, Pluang

Moderna Masuk di Daftar S&P 500

Namun, cuaca tak selamanya mendung. Masih terdapat kabar baik lainnya dari pasar modal AS yang bisa menjadi sentimen positif bagi pergerakan ketiga indeks saham utama AS ke depannya. Salah satunya adalah kabar mengenai masuknya Moderna (MRNA) ke daftar indeks S&P 500.

Ya, saham dari perusahaan pembuat vaksin virus corona itu akan terpampang di papan S&P 500 pada Rabu mendatang. Setelah pengumuman itu terbit di Kamis (15/7) malam, saham Moderna pun langsung lompat 10% setelahnya.

Masuknya Moderna ke jajaran indeks saham bergengsi seantero Amerika Serikat itu tentu akan berdampak positif ke kinerja S&P 500 secara keseluruhan. Sebab, nilai saham Moderna telah naik lebih dari tiga kali lipat selama 12 bulan terakhir. Musababnya, apalagi kalau bukan persetujuan pemerintah AS terkait penggunaan darurat vaksin COVID-19 produksinya.

Moderna masuk dalam daftar perusahaan S&P 500 setelah melaporkan hanya satu kuartal laporan terakhir profitabilitas sebagai perusahaan publik. Dengan kenaikan harga hampir 175% tahun ini, nilai pasar saham Moderna saat ini lebih dari US$100 miliar. Reli ini juga telah membuat Moderna sebagai saham berkinerja terbaik di indeks Nasdaq 100.

Reli meteoriknya sejauh ini dapat menempatkannya di posisi teratas perusahaan S&P 500 jika telah bergabung minggu ini. Untuk saat ini, saham berkinerja terbaik di benchmark S&P 500 adalah L Brands Inc., dengan lonjakan 96%.

Setelah Inflasi, Earning Season Jadi Fokus Pasar Saham AS Pekan Ini, Pluang
Grafik menunjukkan kinerja harga saham Moderna dibandingkan saham berkinerja top lainnya saat ini di S&P 500. Kemungkinan besar Moderna akan menjadi saham berkinerja top di S&P 500. Sumber: Bloomberg.

Analisis Saham Amerika: Hal yang Dinanti Investor Pekan Ini

Setelah melalui pekan yang bergelombang, lantas bagaimana analisis saham Amerika Serikat untuk pekan depan? Nah, semuanya bisa ditentukan jika investor jeli melihat perkembangan hal-hal di bawah ini:

1. Earning Season: Penentu Analisis Saham Amerika Serikat Pekan Ini

Meski gagal bikin investor berdecak kagum pekan lalu, pelaporan keuangan kuartalan (earning season) perusahaan terbuka AS pekan ini disinyalir akan membuat investor terpaku.

Sebab, perusahaan-perusahaan bonafide silih berganti akan merilis laporan keuangan pekan ini, seperti United Airlines, Coca-Cola, Johnson & Johnson dan Netflix.

Pada umumnya, investor hanya peduli dengan prospek masa depan – terutama enam bulan ke depan karena perusahaan akan memerangi inflasi, konsumen yang berhati-hati, potensi kebangkitan COVID-19 di seluruh dunia, dan pasar tenaga kerja yang sulit. Investor akan memantau panduan pada panggilan konferensi kuartalan perusahaan-perusahaan ini selama beberapa minggu ke depan.

Investor masih berharap kinerja yang moncer dari perusahaan-perusahaan ternama tersebut. Hal ini akan mengekor lebih dari 20 perusahaan dalam S&P 500 yang telah mengalahkan perkiraan analis untuk laporan pendapatan kuartal kedua minggu ini, di mana rata-rata hasil laba per saham mereka adalah 18% lebih tinggi dari ekspektasi.

2. Pertemuan Suku Bunga Bank Sentral Eropa

Bank Sentral Eropa (ECB) akan mengadakan rapat tentang suku bunga di Kamis ini (22/7).

Untuk sementara, tidak ada yang mengharapkan bank sentral untuk mulai menaikkan suku bunga. Investor menunggu untuk melihat apakah dan kapan bank sentral akan mulai mengurangi pembelian aset dan langkah-langkah stimulus fiskal lainnya.

Pemulihan ekonomi di zona euro terhenti dalam beberapa bulan terakhir, dan munculnya varian Delta COVID-19 dapat memaksa penutupan sebagian negara untuk pengunjung asing, tepat di puncak musim pariwisata. Ekspektasi untuk ECB adalah mereka akan tetap berada di jalurnya, sama seperti mitranya di Amerika Serikat.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img