Currently set to Index
Currently set to Follow

Indeks Saham AS Pekan Ini Mencoba Bangkit dari ‘Terjangan’ The Fed

Pekan lalu kembali menjadi periode yang kurang mengenakkan bagi pasar saham Amerika Serikat. Tiga indeks saham utama Amerika Serikat, yakni Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq, harus tumbang dengan mencetak pertumbuhan negatif sepanjang pekan kemarin.

Seperti yang dijelaskan pada analisis saham Amerika Serikat pekan lalu, kinerja bursa saham negara Paman Sam tersebut memang digoyang oleh pengumuman bank sentral AS, The Fed, yang berencana mengetatkan kebijakan suku bunganya. Seperti apa dampaknya ke pasar ekuitas? Mari tengok bersama tabel kinerja indeks utama saham AS berikut.

Baca juga: Yuk, Kenalan Dengan 2 Jenis Indikator Ekonomi yang Pengaruhi Investasi

Grafik di atas menunjukkan bahwa Dow Jones merupakan indeks saham AS yang paling terpukul pada pekan lalu. Bahkan, pekan kemarin adalah pekan terburuknya sejak Oktober 2020.

Di sisi lain, nilai indeks Nasdaq justru terbilang suam-suam kuku. Sementara itu, nilai indeks S&P 500 terlempar dari zona nyamannya yakni di kisaran 4.200.

Pertanyaan besarnya, apakah memang dampak pengumuman The Fed sedahsyat itu bagi pasar saham AS?

Baca juga: Di Tengah Gempuran Investasi Viral, Kenapa Kamu Masih Perlu Punya Emas?

Analisis: The Fed Biang Keladi Lesunya Indeks Saham Amerika Serikat

Pada Rabu (16/6), The Fed memberi sinyal akan menaikkan suku bunga acuannya sebanyak dua kali pada 2023 mendatang. Hal ini diketahui setelah dalam rapat bulanannya, pejabat The Fed merevisi proyeksi suku bunga acuan dari saat ini 0,1% menjadi 0,6% dalam dua tahun mendatang.

Alhasil, pasar pun gaduh dan bergegas meninggalkan pasar ekuitas. Sebab, investor khawatir bahwa pertumbuhan ekonomi AS jangka panjang mungkin akan terpangkas hanya gara-gara kenaikan suku bunga acuan.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi, yang disertai dengan penguatan konsumsi, sangat diperlukan bagi perusahaan yang bergerak di bidang non-kebutuhan pokok (consumer discretionary) dan industri (atau biasa disebut cyclical stocks) untuk meningkatkan penjualannya. Jika konsumsi terhambat, maka pendapatan mereka pun bisa tersendat.

Selain itu, kenaikan suku bunga acuan juga menyebabkan biaya kredit usaha (cost of borrowing) dari perbankan juga meningkat. Hal ini tentu akan menyulitkan para perusahaan untuk ekspansi dan memperbaiki neraca keuangan mereka.

Pesimisme pertumbuhan ekonomi juga terbaca dari sikap investor yang kini melarikan uangnya ke instrumen utang pemerintah AS jangka pendek ketimbang jangka panjang. Hal itu mengindikasikan bahwa investor justru melihat optimisme ekonomi dalam jangka pendek dibandingkan di masa depan.

Akibatnya, selera pasar pun bergeser. Investor yang tadinya sudah bergegas mau mendulang cuan di aset berisiko, salah satunya pasar saham, kini harus beralih ke instrumen yang lebih "aman". Bahkan, emas yang dianggap sebagai aset safe haven pun tak luput dari pukulan The Fed.

Indeks Saham AS Pekan Ini Mencoba Bangkit dari ‘Terjangan’ The Fed, Pluang

Fokus Investor Beralih ke Inflasi

Setelah gonjang-ganjing yang diumumkan The Fed, pekan ini nampaknya investor akan fokus menggunakan data inflasi sebagai basis utama keputusan investasi mereka.

Kini, investor sudah mengetahui bahwa The Fed memperkirakan inflasi berada di angka 3,4% sepanjang tahun ini. Sehingga, mereka kini mulai menyasar instrumen seperti saham-saham perusahaan komoditas.

Sikap tersebut adalah hal lumrah lantaran kenaikan harga komoditas adalah "sinyal" tradisional terhadap angka inflasi yang tinggi. Bahkan, harga komoditas menurut indeks harga produsen pada Mei lalu bertumbuh 8,4% secara bulanan atau 57.9% secara tahunan.

Namun, investor tetap perlu waspada dengan komentar-komentar prank dari The Fed lainnya terkait proyeksi inflasi.

Salah satu komentar prank tersebut terjadi sebulan lalu, di mana The Fed mengatakan bahwa kenaikan inflasi April sebesar 4,2% merupakan inflasi sementara.

Tetapi pada pekan kemarin, Presiden The Fed St. Louis James Bullard mengatakan bahwa laju tingkat inflasi ternyata lebih kencang dari perkiraan. Sehingga, The Fed perlu mengantisipasinya dengan pengetatan kebijakan moneter.

Pernyataan The Fed belakangan ini memang cenderung labil. Tak heran, investor pun kini gampang ketar-ketir.

Baca juga: Apa Benar Inflasi Selalu Mengancam Return Indeks S&P 500? Simak Jawabannya di Sini!

Analisis Saham Amerika Serikat: Hal yang Dinanti Pasar

Setelah mengalami masa-masa yang bikin syok pada pekan lalu, lantas data-data apa saja yang perlu diantisipasi investor demi analisis indeks saham Amerika Serikat pekan ini?

1. Data Pasar Properti AS

Investor akan menanti data yang dirilis pada Selasa dan Rabu ini untuk mengukur kekuatan pemulihan ekonomi AS sejauh ini.

Data ini nantinya akan menyediakan gambaran mengenai penjualan rumah baru dan bekas di AS. Di mana, investor akan menanti apakah rezim suku bunga rendah sejauh ini benar-benar mengerek daya beli masyarakat, yang tercermin dalam data pembelian properti.

2. Keputusan Suku Bunga Bank Sentral Inggris (BoE)

Beberapa ekonom meramal bahwa BoE masih belum berniat mengerek suku bunga acuannya atau mengubah kebijakan moneternya. Hal ini tentu berseberangan dengan apa yang dilakukan The Fed pekan lalu. Namun, bisa jadi BoE pun latah mengikuti langkah The Fed tersebut.

3. Data Konsumen untuk Analisis Saham Amerika Serikat

Data mengenai sentimen konsumen AS beserta ekspektasi mereka di bulan Juni akan dirilis pada akhir pekan nanti. Investor menanti data ini, utamanya dalam menebak apakah konsumen masih punya keyakinan konsumsi setelah The Fed menaikkan suku bunga acuannya.

Data tersebut, tentu saja, akan sangat membantu investor dalam analisis saham Amerika Serikat berikutnya.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img