Currently set to Index
Currently set to Follow

Reaksi Pasar Atas Risiko Inflasi Jadi Fokus Indeks Saham AS Pekan Ini

Tidak ada yang bisa menebak nasib dengan tepat di dunia ini. Kadang, seseorang bisa ketiban untung, namun ada juga yang harus buntung dalam sekejap.

Begitu pun dengan para investor yang bergelut di pasar saham Amerika Serikat. Nasib untung nampaknya hanya dialami mereka yang memegang keyakinan di indeks Dow Jones. Ini lantaran nilai Dow Jones ditutup menguat 0,36% pada Jumat (21/5).

Sementara itu, nasib kurang mujur dialami mereka yang mempercayakan uangnya di indeks Nasdaq dan S&P 500. Sebab, kedua indeks itu ditutup melemah di hari yang sama, seperti terlihat pada tabel di bawah ini.

Dow Jones 34.207,84 +0,36%
S&P 500 4.155,86 – 0,08%
Nasdaq 13.470,99 – 0,48%

*data per penutupan pasar di Jumat, 21 Mei 2021

Kendati demikian, semua indeks utama mengalami pertumbuhan negatif jika dilihat dari kinerja mingguan. Sementara itu, S&P 500 membukukan penurunan mingguan kedua untuk pertama kalinya sejak Februari tahun ini.

Analisis: Pertumbuhan Ekonomi Global dan Inflasi Pengaruhi Pasar Saham AS

Gado-gadonya nilai indeks saham utama AS disebabkan oleh dua sentimen utama. Yakni, optimisme pertumbuhan ekonomi global yang diiringi dengan kekhawatiran akan kenaikan inflasi.

Faktor Pertumbuhan Ekonomi

Para investor menyadari bahwa aktivitas ekonomi sedang meningkat di seluruh dunia. Hal ini dibuktikan dengan data indeks manufaktur yang dirilis pada Jumat (21/5).

Data IHS Markit menunjukkan bahwa indeks manufaktur AS bertengger di angka 68,1 pada Mei, atau melonjak dibanding 63,5 sebulan sebelumnya. Pada dasarnya, nilai indeks di atas 50 menunjukkan adanya pertumbuhan yang mumpuni.

Kondisi serupa juga terjadi di Zona Eropa, meski industri manufaktur di kawasan tersebut masih terbendung oleh minimnya pasokan dan hambatan penyerapan tenaga kerja.

Faktor Inflasi

Namun, terdapat pula kabar buruk di sisi lain. Kinerja pasar saham Amerika Serikat nampaknya telah dihantui bayang-bayang inflasi, di mana hal tersebut akan menurunkan laba perusahaan dan menghambat ekspansi usaha. Penjelasan lebih lanjut mengenai pengaruh inflasi ke kinerja saham bisa dilihat di artikel ini.

Kini, banyak perusahaan di negara adidaya yang mengeluhkan kenaikan biaya produksi. Sebagian disebabkan oleh tipisnya suplai bahan baku produksi seperti microchip dan sebagian lain disebabkan oleh tingginya upah tenaga kerja.

Bank sentral tentu memiliki cara sendiri untuk menghambat kenaikan biaya tersebut, salah satunya adalah dengan menaikkan suku bunga acuan. Sayangnya, kabar angin tentang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat kemungkinan akan membuat beberapa investor menjauh dari pasar saham.

Namun, di sisi lain, terdapat pula anggapan bahwa inflasi yang melanda bisnis di AS bersifat sementara.

Analis dari Julius Baer mengatakan inflasi saat ini hanyalah jangka pendek. Hal ini dapat terlihat dari timpangnya data antara inflasi inti (core inflation) dan inflasi secara total (headline inflation) seperti yang tertera di grafik bawah ini.

Adapun headline inflation mengukur total inflasi dalam suatu perekonomian, termasuk komoditas seperti harga pangan dan energi, yang cenderung jauh lebih tidak stabil dan rentan terhadap lonjakan inflasi. Sementara core inflation adalah perubahan biaya barang dan jasa tetapi mengecualikan sektor makanan dan energi.

Dengan demikian, Julius Baer menyimpulkan bahwa angka inflasi yang tinggi tersebut bukan merupakan lampu merah bagi investor. Investor baru bisa pasang sikap kuda-kuda jika inflasi inti terlihat ngamuk.

inflasi

Kita telah melihat harga logam meningkat, terutama tembaga, yang digunakan dalam banyak keperluan industri. Pasar juga telah melihat banyak kenaikan pada harga tembaga, energi dan harga makanan naik tahun lalu. Ini semua adalah masalah kenaikan yang terkait dengan rantai pasokan, sehingga dapat dikatakan bersifat jangka pendek.

Analisis Saham Amerika Serikat: Investor Jangka Panjang Sudah Cuan

Di dalam dunia pasar saham yang lebih monoton dibanding kripto, investor yang telah buy and hold telah mendapatkan reward atas kesabaran dan kedisiplinan mereka.

Seperti terlihat pada grafik di bawah ini. Dapat dilihat bahwa indeks S&P memiliki kenaikan nilai tertinggi dibandingkan indeks utama AS lainnya, yakni 95,81% sejak April 2020 hingga saat ini.

saham amerika

Baca jugaMembuat Rencana Investasi, Apa Saja Strategi yang Perlu Diketahui?

Analisis Saham Amerika Serikat: Hal yang Dinanti Investor Minggu Ini

Setelah mengalami pekan yang cukup bergelombang, lantas bagaimana analisis pasar saham Amerika Serikat pekan ini? Kemudian, hal-hal apa saja yang dinanti investor?

1. Rotasi Pada Pasar Saham Amerika Serikat

Kita telah memasuki penghujung bulan Mei, dan sepanjang bulan ini, Nasdaq dan S&P 500 telah menunjukkan penurunan. Nasdaq dan S&P 500 telah turun sebanyak masing-masing 3,5% dan 0,6%. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average telah naik sekitar 1% sepanjang bulan ini, karena kekhawatiran inflasi membayangi saham-saham sektor growth.

Investor telah dihantui kekhawatiran tentang jalur kebijakan The Fed di masa depan dalam merespons risiko inflasi yang meningkat. Risalah The Fed minggu lalu menunjukkan bahwa beberapa pembuat kebijakan siap untuk “mengetatkan” kembali kebijakan operasi pasar terbuka, yang selama ini ditujukan demi meningkatkan daya beli masyarakat AS.

Para analis memperkirakan perputaran rotasi dari sektor pertumbuhan (growth stocks) ke sektor nilai (value stocks) akan terus berlanjut karena pemulihan ekonomi memegang kendali yang lebih besar. Adapun perbedaan value stocks dan growth stocks dijelaskan dalam artikel berikut.

“Investor harus mengubah pola pikir mereka dan memahami bahwa teknologi akan menjadi perdagangan jangka panjang sekarang. Mereka tidak mungkin melihat peningkatan 20% di Apple dalam beberapa bulan mendatang,” kata Sylvia Jablonski, kepala investasi di Defiance ETFs.

2. Data Ekonomi

Data utama yang harus diperhatikan di minggu ini adalah data pendapatan dan pengeluaran pribadi hari Jumat (28/5), yang mencakup indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE).

PCE inti, tidak termasuk makanan dan energi, adalah ukuran inflasi pilihan The Fed untuk target rata-rata fleksibel sebesar 2%. Angka ini naik 1,8% dalam 12 bulan hingga Maret.

Data tersebut dapat menguji tekad The Fed untuk menjaga pembelian aset pada kecepatan mereka saat ini dalam menghadapi rebound ekonomi dan inflasi.

Data kepercayaan konsumen, harga rumah dan penjualan rumah baru keluar pada hari Selasa (25/5), sementara angka pesanan barang tahan lama dan klaim pengangguran awal akan dirilis Kamis (27/5).

Selain memantau perkembangan global dan data ekonomi yang dirilis, tentunya investor jangka panjang akan tetap berinvestasi dan melakukan diversifikasi portfolio.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img