Currently set to Index
Currently set to Follow

Kabar Sepekan: Indonesia Keluar dari Resesi, Fed Pasang Sikap Hawkish

Perilisan data makroekonomi memang sudah menjadi santapan investor di awal bulan. Tak terkecuali di awal Agustus.

Perilisan data inflasi dan pertumbuhan ekonomi silih berganti di awal bulan ini. Sementara itu, pejabat The Fed memilih untuk memasang sikap hawkish. Seluruhnya bisa kamu temukan di rangkuman kabar sepekan berikut!

1. Inflasi Indonesia Capai 0,16% di Juli

Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin (2/8) melaporkan, tingkat inflasi Juli secara bulanan (month-to-month) berada di angka 0,08%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Juni yang mencatat deflasi sebesar 0,16%.

Kenaikan tingkat inflasi merupakan refleksi atas peningkatan permintaan barang dan jasa di masyarakat.

2. Ekonomi Naik 7,07%, Indonesia Lepas dari Resesi

Pada Kamis (5/8), Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 7,07% secara tahunan pada kuartal II. Kondisi ini cukup kontras dibanding periode yang sama tahun lalu, di mana pertumbuhan ekonomi Indonesia anjlok 5,32%.

Hal ini menandai resminya Indonesia keluar dari jerat resesi. Sekadar informasi, resesi adalah kondisi di mana pertumbuhan ekonomi suatu wilayah berada di zona negatif selama tiga kuartal berturut-turut.

Pertumbuhan ekonomi mencerminkan kenaikan produktivitas dan daya beli di sebuah wilayah. Hal ini bisa menjadi motivasi baik bagi investor untuk berinvestasi di Indonesia, baik investasi langsung maupun investasi di pasar modal. Dengan kata lain, investor bisa berharap cuan yang semakin bertumbuh kala pertumbuhan ekonomi tengah menanjak.

Kabar Sepekan: Indonesia Keluar dari Resesi, Fed Pasang Sikap Hawkish, Pluang

3. Cadangan Devisa Indonesia Meningkat Tipis

Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2021 tercatat sebesar US$137,3 miliar, meningkat tipis 0,15% dibanding akhir Juni. Peningkatan cadangan devisa berasal dari himpunan dolar AS atas penerbitan obligasi valas pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa.

Cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 8,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Artinya, cadangan devisa Indonesia berada jauh di atas standar kecukupan internasional yakni 3 bulan impor.

Cadangan devisa yang memadai akan menjamin stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional. Sebab, Bank Indonesia memiliki persediaan dolar AS yang mumpuni untuk mengintervensi pasar valas, sehingga nilai tukar rupiah bisa kian stabil.

4. The Fed Pasang Sikap Hawkish

Sepanjang pekan ini, pejabat bank sentral AS The Fed silih berganti melontarkan sikap hawkish terhadap kebijakan moneter.

Pertama, pada Selasa (3/6), Gubernur The Fed Christopher Waller memberi sinyal bahwa bank sentral AS bisa sjaa mempercepat kebijakan tapering pada awal Oktober nanti. Asal, laporan tenaga kerja AS (Non-Farm Payroll) pada Agustus dan September bisa mencatat penyerapan tenaga kerja baru di kisaran 800.000 hingga 1 juta orang.

Pertumbuhan penyerapan tenaga kerja merupakan indikasi bahwa ekonomi AS tengah bertumbuh. Sehingga, The Fed perlu meresponsnya dengan pengetatan kebijakan moneter, baik dalam bentuk tapering atau kenaikan suku bunga acuan, agar pertumbuhan ekonomi tersebut tidak menimbulkan inflasi yang sadis.

Angka inflasi di AS memang tengah meledak belakangan ini. Terakhir, pada Juni, tingkat inflasi AS tercatat 5,4% secara tahunan (year-on-year), yang merupakan inflasi tahunan tertinggi dalam 13 tahun terakhir.

Hanya saja, tapering bisa berdampak pada berkurangnya likuiditas di pasar modal. Sehingga, kinerja pasar modal bisa terancam.

Dua hari kemudian, Wakil Ketua The Fed Richard Clarida mengatakan bahwa bank sentral AS tersebut berencana menaikkan suku bunga acuan Fed Fund Rate pada 2023 mendatang. Alasannya, otoritas moneter itu yakin bahwa AS bisa mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 3,8% pada akhir 2022 mendatang.

Selain itu, ia menilai bahwa The Fed perlu mengetatkan kebijakan moneternya karena tingkat inflasi AS sudah berada di atas target yakni 2% per tahun.

Kenaikan suku bunga acuan merupakan instrumen bagi bank sentral untuk menahan laju inflasi. Sebab, langkah tersebut akan mengerek naik suku bunga pinjaman dan suku bunga tabungan. Sehingga, masyarakat akan cenderung menahan konsumsi dan lebih memilih menabung di bank.

Namun, karena kenaikan suku bunga menghambat konsumsi dan investasi, maka pertumbuhan ekonomi bisa ikut terhambat.

5. Hard Fork London Ethereum Akhirnya Meluncur

Ethereum, rumah bagi koin Ether (ETH), pada Kamis (5/8) secara resmi telah meluncurkan hard fork London. Setelah pembaruan ini, maka biaya transaksi di blockchain Ethereum akan menjadi lebih efisien.

Selama ini, implementasi hard fork London digadang menjadi katalis positif bagi harga ETH ke depan. Sebab, melalui pembaruan sistem tersebut, Ethereum akan mengurangi suplai ETH dalam mekanisme yang disebut pembakaran koin, yang bertujuan untuk menstabilkan biaya transaksi di Ethereum.

Sesuai hukum ekonomi, suplai yang mengetat tentu bisa mendorong harga suatu barang. Buktinya pun sudah terlihat di pasar kripto, di mana harga ETH telah melonjak 40% dalam 15 hari terakhir akibat rencana tersebut.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img