Currently set to Index
Currently set to Follow

Pasar Sepekan: IHSG Lunglai, Emas dan Kripto Kian Bersinar

Selama sepekan terakhir, nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus terjerumus ke zona merah. Di sisi lain, harga logam mulia dan aset kripto ternyata ngegas di periode yang sama.

Apa yang terjadi dengan pasar selama sepekan terakhir? Simak rangkuman kinerja pasar selama pekan kedua Agustus berikut!

IHSG Lunglai Akibat Minim Sentimen

Nilai IHSG mengakhiri pekan kedua Agustus di level 6.139,49. Sayangnya, nilai ini melemah 1,03% dibandingkan pembukaan perdagangan awal pekan yakni 6.203,75 poin.

Berbagai analis mengatakan bahwa lemahnya nilai IHSG pekan ini disebabkan oleh minimnya sentimen positif. Sehingga, pelaku pasar kurang tergugah untuk lebih agresif membenamkan dananya di pasar modal.

Yang ada, justru malah sentimen negatif yang bertengger di benak pelaku pasar sepanjang pekan ini. Salah satunya adalah kekhawatiran investor soal merebaknya infeksi COVID-19 di Indonesia.

Pada Senin (9/8), pemerintah resmi memperpanjang implementasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 dan 4 di Jawa-Bali hingga 16 Agustus mendatang. Awalnya, pelaku pasar yakin bahwa restriksi sosial ini akan berakhir mengingat kasus harian baru COVID-19 di Indonesia mulai mereda.

Per Jumat, Indonesia mencatat rata-rata penambahan kasus baru COVID-19 di angka 28.154 kasus selama tujuh hari terakhir. Angka ini lebih rendah dibanding sepekan sebelumnya yakni 33.641 kasus. Sehingga, pelaku pasar yakin pemerintah akan melonggarkan implementasi PPKM level 3 dan 4, sehingga kegiatan ekonomi akan berjalan normal kembali.

Normalisasi kegiatan ekonomi akan meningkatkan daya beli dan menjaga penyerapan tenaga kerja. Sehingga, ekonomi bisa segera pulih dan bikin investor kembali menyerbu aset berisiko seperti saham.

Sayangnya, harapan pelaku pasar sedikit buyar pada Jumat. Utamanya setelah Kepala Oxford Vaccine Group, Andrew Pollard mengatakan bahwa kekebalan kelompok (herd immunity) akan susah tercapai hanya dengan program vaksinasi semata. Hal ini bikin investor sangsi bahwa kegiatan ekonomi bisa berjalan normal sesegera mungkin.

Pelemahan IHSG juga disebabkan oleh maraknya aksi jual seiring beberapa saham mengalami penurunan nilai tajam lebih dari 7%, atau dikenal dengan istilah Auto Reject Bawah (ARB), pada pertengahan pekan.

Sementara itu di akhir pekan, IHSG tertekan oleh aksi jual saham perusahaan BUMN konstruksi. Penyebabnya, investor sangsi bahwa pemerintah akan menambah anggaran infrastruktur di RAPBN 2022 lantaran pemerintah kemungkinan masih akan fokus menggunakan APBN untuk memerangi penularan COVID-19.

Namun, kepastian mengenai anggaran infrastruktur akan terjawab pada 16 Agustus mendatang. Di mana, Presiden Joko Widodo akan mengumumkan nota keuangan RAPBN 2022 di gedung DPR RI.

Penurunan anggaran infrastruktur bisa membuat BUMN karya mengalami penyusutan nilai proyek. Hal itu akan bikin kinerja keuangan mereka seret, yang tentu saja mempengaruhi harga sahamnya.

Baca juga: Di Tengah Gempuran Investasi Viral, Kenapa Kamu Masih Perlu Punya Emas?

Pasar Sepekan: IHSG Lunglai, Emas dan Kripto Kian Bersinar, Pluang

Harga Emas Berjaya Pekan Ini

Nasib berbeda ditunjukkan oleh harga emas. Pada Jumat pukul 17.00 WIB, sang logam mulia mencapai titik US$1.756,66 per ons, atau menanjak 3,84% dibanding pembukaan perdagangan awal pekan di angka US$1.691,74 per ons.

Harga emas sempat lunglai di awal pekan seiring reaksi pasar yang berlebihan dalam menanggapi data penyerapan tenaga kerja baru AS (Non-Farm Payroll) Juli yang dirilis Jumat (6/8). Pada bulan lalu, dunia usaha AS berhasil menambah 943.000 tenaga kerja baru, atau melesat dibanding Juni 858.000 tenaga kerja baru.

Kenaikan penyerapan tenaga kerja adalah indikasi bahwa ekonomi AS tengah beranjak pulih. Penambahan jumlah tenaga kerja juga akan memperbaiki daya beli masyarakat, sehingga konsumsi bisa meningkat di masa depan.

Sayangnya, kenaikan pertumbuhan ekonomi bisa membuat inflasi naik tajam. Sehingga, bank sentral perlu menahan laju inflasi dengan mengetatkan kebijakan moneter, yakni dengan meningkatkan suku bunga acuan atau melangsungkan kebijakan tapering.

Namun, kedua aksi tersebut bikin permintaan emas menurun, dan kemudian memudarkan kilau harganya.

Kenaikan suku bunga acuan akan meningkatkan suku bunga tabungan, sehingga pelaku pasar tentu akan lebih memilih menggenggam dolar AS dan menabung ketimbang menggenggam emas.

Sementara itu, tapering akan membuat suplai dolar AS kian mengetat. Nah, kondisi tersebut akan membuat nilai tukar dolar AS kian mahal. Kenaikan nilai dolar AS akan membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi mereka yang jarang bertransaksi dengan mata uang tersebut. Alhasil, permintaannya pun akan berkurang.

Hanya saja, kecemasan pelaku pasar akan tapering mereda di pertengahan pekan akibat dua hal: rilis inflasi AS dan penyebaran COVID-19 Delta di AS.

Pada Kamis, Biro Statistik AS menyebut bahwa tingkat inflasi negara adidaya tersebut di Juli bertengger di 0,5% secara bulanan, atau mereda dibanding Juni yakni 0,9%. Kondisi tersebut bikin investor yakin bahwa pemerintah AS tak akan segera melancarkan aksi tapering.

Permintaan emas juga menguat seiring kekhawatiran investor bahwa penyebaran COVID-19 varian Delta akan bikin pemerintah Amerika Serikat kembali mempertimbangkan pembatasan sosial.

Restriksi sosial akan menyebabkan kegiatan ekonomi berhenti sementara. Akibatnya, investor kian tak tertarik untuk berinvestasi di aset berisiko. Di masa-masa seperti ini, pelaku pasar akan memarkirkan dananya di aset aman (safe haven) yakni emas.

Baca juga: Sobat Cuan, ini Alasan Menabung Emas Lebih Oke Dibanding Nabung Uang!

Cryptocurrency Berada di Zona Hijau

Pekan ini menjadi masa-masa bulan madu bagi aset kripto. Sepanjang pekan ini, aset kripto utama bertengger di zona hijau dan mampu membawa kembali nilai kapitalisasi pasar cryptocurrency ke angka US$2 triliun pada Rabu (11/8) kemarin.

Pergerakan harga cryptocurrency selama sepekan terakhir dapat dilihat di grafik berikut.

Harga Bitcoin masih berjaya di atas US$45.000 per keping, bahkan masih bisa berakhir di posisi US$46.144 pada Jumat (13/8) per 15.30 WIB.

Salah satu penyebab relinya harga Bitcoin sepekan ini adalah maraknya aksi menahan Bitcoin, alias HODL, yang dilakukan oleh investor institusi. Berdasarkan data firma analis on-chain Glassnode mengatakan bahwa 70% transaksi Bitcoin adalah transaksi bernilai di atas US$1 juta.

Selain itu, data yang sama menunjukkan bahwa kini sebanyak 82% total Bitcoin digenggam oleh penganut HODL. Yakni, pelaku pasar yang menggenggam Bitcoin lebih dari 155 hari.

Tak hanya itu, kenaikan harga juga terjadi akibat meningkatnya pengguna blockchain Bitcoin. Data pada Rabu (11/8) menunjukkan bahwa pengguna Bitcoin tumbuh 1,2 juta pengguna sepanjang sebulan terakhir. Di mana, angka ini adalah laju pertumbuhan pengguna Bitcoin tercepat selama ini.

Kenaikan harga Bitcoin terjadi di tengah kontroversi rencana Senat AS untuk menerapkan cryptocurrency sebagai objek pajak. Meski Senat AS sudah meloloskan rencana tersebut, namun aturan tersebut masih bisa diamandemen sebelum benar-benar disahkan sebagai undang-undnag.

Tak hanya Bitcoin, Ether (ETH) juga duduk manis di atas level US$3.000 dengan bertengger di posisi kisaran US$3.227 per keping di periode yang sama. Kenaikan harga ETH kali ini masih dipengaruhi oleh implementasi proposal perbaikan Ethereum (Ethereum Improvement Proposal/EIP) 1559, yang diluncurkan saat implementasi London Hard Fork pekan lalu.

Implementasi EIP-1559 digadang bisa menurunkan biaya transaksi (gas fees) Ethereum yang kian mahal. Sebagai gantinya, Ethereum akan mengenalkan satu standar biaya transaksi baru yang dikenal dengan nama basefee.

Dan untuk menstabilkan nilai transaksi tersebut, Ethereum telah mengurangi suplai ETH beredar dengan memperkenalkan mekanisme pembakaran koin (coin burning). Per 13 Agustus 2021, Ethereum telah membakar 3,38 ETH atau senilai US$10.000 per menitnya. Nah, sesuai hukum ekonomi, menipisnya suplai tentu akan mengerek naik harga ETH.

Namun, di antara seluruh cryptocurrency utama, kenaikan harga tertinggi ditorehkan oleh ADA, koin native milik Cardano. Penyebabnya adalah antusiasme komunitas kripto atas peluncuran teknologi smart contract Cardano yang segera meluncur dalam waktu dekat, seperti diumumkan oleh punggawa Cardano Charles Hoskinson awal pekan ini.

Smart contract Cardano digadang bisa melawan eksistensi teknologi smart contract Ethereum. Sebab, komunitas kripto bisa menciptakan token termasuk Non-Fungible Token di atas smart contract Cardano, sebuah keistimewaan yang selama ini hanya hadir di atas blockchain Ethereum.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img