Currently set to Index
Currently set to Follow

Rangkuman Kinerja Pasar di Bulan Juli: Emas, S&P 500, dan Cryptocurrency

Bulan Juli menjadi masa-masa yang bergejolak bagi harga emas dan indeks saham Amerika Serikat. Di sisi lain, harga aset kripto ternyata menemukan momentum di akhir bulan. Untuk lebih jelasnya, berikut tinjauan rangkuman kinerja pasar dan aset Pluang sepanjang bulan Juli.

1. Emas

Harga sang logam mulia mengawali Juli dengan bertengger di posisi US$1.768,39 per ons dan sukses melesat 3,14% ke US$1.824 per ons di akhir bulan. Meski berhasil menguat, harga emas sayangnya harus merintangi banyaknya jalan terjal di bulan lalu.

rangkuman kinerja pasar
Pergerakan harga emas sepanjang Juli. Sumber: Tradingview

Sepanjang bulan lalu, harga emas terombang-ambing berkat reaksi investor terhadap gerak-gerik bank sentral AS, The Fed.

Dalam rapat FOMC yang dihelat 15 Juni, The Fed sempat berkomitmen untuk menaikkan suku bunga acuan Fed Rate dari posisi 0% hingga 0,25% selama dua kali pada 2023 mendatang. Langkah ini ditempuh mengingat tingkat inflasi AS meledak pada Mei dan Juni.

Akibatnya, harga emas anjlok 7% pada Juni dan masih tetap bergeming hingga akhir bulan lalu.

Sinyal mengenai kenaikan suku bunga acuan tentu berdampak negatif terhadap permintaan emas. Sebab, kenaikan suku bunga acuan akan mengerek imbal hasil produk jasa keuangan seperti tabungan dan deposito. Alhasil, opportunity cost investor dalam menggenggam emas akan naik dan mereka akan cenderung memilih menaruh uang di produk-produk tersebut. Apalagi, emas tidak memberikan imbal hasil periodik layaknya produk perbankan.

Hanya saja, sikap hawkish The Fed tersebut perlahan memudar. Dalam testimoninya di hadapan Senat AS 15 Juli, Ketua The Fed Jerome Powell berujar bahwa saat ini adalah periode yang terlalu cepat bagi The Fed untuk mengetatkan kebijakan moneter. Meski memang, ia agak “mencemaskan” tingkat inflasi yang tinggi.

Sikap itu kembali ditegaskan dalam rapat FOMC 28 Juli. Dalam perhelatan tersebut, The Fed memandang kebijakan moneter akomodatif masih diperlukan demi mengakselerasi penyerapan tenaga kerja baru di negara adidaya tersebut.

Selain The Fed, salah satu faktor yang mendorong harga emas bulan lalu adalah penyebaran COVID-19 varian Delta. Investor khawatir bahwa varian COVID-19 yang berbahaya ini akan bikin kegiatan ekonomi terhenti, sehingga mereka beralih ke emas sebagai aset safe haven.

Baca juga: Rangkuman Pasar: IHSG Menguat, Emas Terkulai Lemah

2. Indeks S&P 500

Sementara itu, kinerja indeks S&P 500 juga terbilang moncer meski mengalami perjalanan yang berliku. Indeks S&P 500 mengawali pekan di level 4.293 dan finish di posisi 4.416,13 di akhir bulan, alias bertumbuh 2,87%. Dengan demikian, indeks tersebut berhasil menorehkan pertumbuhan selama enam bulan berturut-turut.

rangkuman kinerja pasar
Kinerja S&P 500 Sepanjang Juli. Sumber: Tradingview

Di awal bulan, indeks S&P 500 mendapat dorongan kuat dari mumpuninya hasil data penyerapan ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payroll). Departemen Ketenagakerjaan AS merilis data jumlah tenaga kerja baru yang terserap pada Juni sebesar 850.000, lebih tinggi dibanding penyerapan Mei sebesar 583.000 pekerja.

Data tenaga kerja yang oke mengindikasikan bahwa pemulihan ekonomi AS sedang menuju jalur tepat. Makanya, investor berani mempertaruhkan uangnya di aset berisiko, utamanya saham.

Hanya saja, investor melakukan aksi jual pada 19 Juli, menyebabkan indeks S&P 500 turun dari 4.329,41 di penutupan sehari sebelumnya menuju 4.251,84. Hal ini disebabkan oleh kepanikan investor bahwa kenaikan kasus COVID-19 di AS bisa kembali merusak ekonomi AS.

Tetapi, bukan indeks S&P 500 namanya kalau tak bisa bangkit cepat. Di akhir bulan, indeks S&P 500 malah berhasil tembus ke area 4.400 akibat kinclongnya laporan keuangan perusahaan-perusahaan AS di kuartal II. Data FactSet menunjukkan bahwa sebanyak 88% dari 295 perusahaan yang mengumumkan laporan keuangannya bulan lalu berhasil membukukan laba yang jauh melebihi ekspektasinya.

3. Aset Kripto

Bitcoin

Nasib mujur juga menghinggapi dua raksasa cryptocurrency, Bitcoin (BTC) dan Ether (ETH).

Sepanjang Juli, harga BTC berhasil menanjak 19,29% yakni dari US$34.898,75 di awal bulan menjadi US$41.595,35 di akhir Juli. Hal itu bisa dilihat dalam grafik di bawah ini.

rangkuman kinerja pasar
Pergerakan harga Bitcoin sepanjang Juli. Sumber: Tradingview

Sejak awal hingga pertengahan Juli, harga BTC terlihat betah berada di level US$30.000 hingga US$35.000. Hal ini disebabkan karena reaksi pelaku pasar yang seolah-olah enggan mengakumulasi BTC lantaran berbagai sentimen negatif yang dialamatkan kepadanya.

Sentimen negatif pertama muncul dari China. Otoritas negara tersebut terbilang getol “menguliti” pertambangan Bitcoin di negara tersebut dengan dalih bahwa aktivitas itu menguras daya ketenagalistrikan di China.

Tak hanya itu, beberapa negara pun tengah memincingkan mata terhadap Binance, sebuah platform exchange kripto terbesar dari sisi volume perdagangan, yang tentu saja bikin pelaku pasar ragu-ragu untuk menginjak pasar cryptocurrency.

Belakangan, beberapa regulator jasa keuangan memang tengah melarang operasi Binance karena dianggap “berisiko tinggi” dan “aktivitasnya berseberangan dengan regulasi jasa keuangan di negara tersebut”. Terakhir, regulator jasa keuangan Italia sudah menabuh genderang penolakan terhadap Binance, mengikuti kawan-kawan lainnya di Uni Eropa.

Pada 20 Juli 2021, harga Bitcoin pun tumbang dari kisaran US$30.000 dan menuju kisaran US$29.000 mengikuti aksi jual yang berada di pasar saham AS.

Namun, harga BTC kembali bersinar setelahnya berkat komitmen investor institusi untuk terus mengadopsi BTC. Adapun tingkat adopsi BTC merupakan faktor yang mendorong kepercayaan pelaku pasar untuk masuk kembali ke pasar aset kripto.

Dalam perhelatan B Word Event pada 21 Juli 2021 lalu, punggawa Tesla Elon Musk mengatakan bahwa Tesla “kemungkinan besar” masih akan berniat menggunakan Bitcoin sebagai alat pembayaran kendaraan listrik itu. Di samping itu, ia mengatakan bahwa Tesla dan SpaceX sama sekali tidak pernah menjual Bitcoin yang dimilikinya.

Harga BTC semakin terdongkrak dan menembus US$40.000 berkat kabar yang mengatakan bahwa Amazon sedang “mengeksplorasi implementasi cryptocurrency“. Pelaku pasar kian antusias setelah Amazon ternyata membuka lowongan kerja untuk posisi pemimpin produk sistem blockchain dan mata uang digital dalam tim pembayarannya.

Alhasil, harga BTC berhasil melesat 40,32% di 10 hari terakhir bulan Juli.

Ethereum

Sepanjang Juli, harga ETH tumbuh 14,08% dari US$2.257,98 menuju US$2.513,16. Sama seperti BTC, harga ETH pun turun di 20 Juli 2021 mengikuti aksi jual yang terjadi di pasar kripto dan juga pasar modal.

kinerja ETH
Pergerakan harga ETH sepanjang Juli. Sumber: Tradingview

Namun, harga ETH tiba-tiba bangkit dari posisi US$1.743,90 pada 20 Juli 2021 menjadi US$2.513,16 di akhir bulan. Alias, tumbuh 44,11% dalam 10 hari saja.

Penyebabnya adalah meningkatnya kepercayaan diri pelaku pasar kripto terhadap ETH. Apalagi, setelah Elon Musk mengatakan dalam the B Word Event bahwa ia pun menggenggam ETH selain BTC.

Secara keseluruhan, aset kripto dan altcoin lainnya mengikuti jejak Bitcoin yang reli dan kembali mencapai level yang sama mengesankannya, termasuk Ethereum. Di minggu terakhir bulan Juli, volume transaksi harian ETH juga melonjak mencoba untuk mengejar volume transaksi harian Bitcoin.

Tren kenaikan secara keseluruhan sedang terjadi di pasar cryptocurrency dengan nilai kapitalisasi pasar global yang melampaui US$1,55 triliun, selangkah lebih dekat ke level tertinggi yang terlihat di bulan April dan Mei tahun ini.

Selain itu, permintaan ETH juga kian deras menjelang akhir bulan seiring pemberlakuan hard fork London, yang rencananya akan diluncurkan pada Agustus.

Baca juga: Menilik Ethereum Improvement Proposal dan Manfaatnya bagi Ethereum

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img