Currently set to Index
Currently set to Follow

Pasar Sepekan: Indeks Meluncur 2%,  Harga Emas Tiarap

Selama sepekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu bertahan di zona hijau. Sayangnya, harga emas harus keok di pekan pertama Agustus.

Seperti apa lengkapnya? Berikut kinerja pasar selama sepekan.

IHSG Bertumbuh di Tengah Perpanjangan PPKM

Pada Jumat (6/8), IHSG mendarat di posisi 6.203,43 atau bertumbuh 2% dibanding awal pekan. Indeks saham tanah air berhasil tumbuh meski pemerintah kembali memperpanjang Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 hingga 9 Agustus mendatang.

Biasanya, pembatasan sosial bisa berdampak buruk bagi kinerja saham. Sebab, kegiatan ekonomi akan terhenti di periode tersebut, di mana hal tersebut akan mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Nah, kinerja keuangan sendiri merupakan aspek fundamental dari harga saham.

Hanya saja, kini kondisinya terbilang berbeda. Investor merasa bahwa kegiatan ekonomi akan berjalan normal secepat mungkin mengingat jumlah kasus baru harian COVID-19 kian melandai. Pada Jumat, Indonesia mencatat 35.764 kasus baru, lebih rendah dibanding sepekan sebelumnya yakni 41.168 kasus.

Selain itu, investor makin optimistis berinvestasi di pasar modal setelah melihat data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II sebesar 7,07% secara tahunan.

Pertumbuhan ekonomi yang mumpuni menjadi motivasi bagi investor untuk kian percaya diri membenamkan dana di aset berisiko, utamanya saham. Sebab, mereka bisa berharap imbal hasil saham yang kinclong ketika pertumbuhan ekonomi sedang subur.

Baca juga: Harga Emas Hari Ini Pulih Seiring Rapuhnya Obligasi AS

Pasar Sepekan: Indeks Meluncur 2%,  Harga Emas Tiarap, Pluang

Harga Emas Melemah Seiring Antisipasi Data Ketenagakerjaan

Sayangnya, nasib serupa tidak terjadi pada emas. Pada Jumat (6/8) pukul 17.00 WIB, harga emas spot bertengger di posisi US$1.798,6 per ons, melemah 1,18% dibanding posisi awal pekan.

Pelemahan harga emas pekan ini disebabkan oleh sikap investor yang terlihat ragu-ragu memasuki pasar emas. Sebab, mereka mengantisipasi data ketenagakerjaan Amerika Serikat (Non-Farm Payroll) Juli yang dirilis pada akhir pekan ini.

Analis dan ekonom memperkirakan bahwa AS bisa menambah di atas 900.000 tenaga kerja baru pada Juli. Jika ramalan itu benar, maka angka itu terbilang lebih tinggi dibanding capaian Juni yakni 850.000 orang.

Kenaikan penyerapan tenaga kerja merupakan indikasi bahwa pemulihan ekonomi mengarah ke jalur yang tepat. Namun sayangnya, kondisi itu bisa memotivasi bank sentral AS The Fed untuk meningkatkan suku bunga acuannya. Mengapa demikian?

Ekonomi yang bertumbuh bisa menaikkan permintaan barang dan jasa. Sayangnya, hal itu bisa mengerek tingkat inflasi. Sehingga, The Fed perlu menahan laju inflasi dengan menaikkan suku bunga acuannya. Kondisi itu akan mengerek bunga deposito dan bunga pinjaman, sehingga masyarakat akan mengerem konsumsinya.

Sayangnya, kenaikan suku bunga akan menahan laju harga emas. Sebab, masyarakat akan lebih tertarik menabung mumpung suku bunganya sedang tinggi ketimbang menimbun emas.

The Fed sendiri sudah menelurkan sinyal untuk menaikkan suku bunga acuan. Pada Kamis (5/8), Wakil Ketua The Fed Richard Clarida mengatakan suku bunga acuan Fed Fund Rate bisa saja dinaikkan pada 2023 mendatang. Alasannya, otoritas moneter itu yakin bahwa AS bisa mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 3,8% pada akhir 2022 mendatang.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img