Currently set to Index
Currently set to Follow

Apa Itu Currency War?

Currency war adalah taktik yang dilancarkan beberapa negara untuk membuat nilai tukar mata uangnya bersaing dalam perdagangan internasional.

Biasanya, negara penghasil komoditas ekspor suka dituding sebagai manipulator mata uang oleh Amerika Serikat. Tudingan itu berlandasakan dugaan bahwa nilai tukar mata uang yang lemah akan membuat harga komoditas mereka lebih bersaing di pasar global.

Tudingan itu biasanya disertai dengan langkah kongkrit yang membuat perang mata uang memanas. Ada banyak term yang digunakan merujuk pada situasi ini, seperti currency war dan competitive devaluation.

Mengenal Currency War

Apresiasi dan devaluasi nilai tukar adalah hal yang biasa di era di mana nilai tukar sebagian besar negara dibiarkan mengambang sesuai dengan mekanisme pasar seperti saat ini.

Tapi terkadang, devaluasi tersebut terjadi secara disengaja sebagai bentuk intervensi negara untuk menggenjot ekspor dalam negeri.

Tujuannya untuk membuat komoditas dalam negerinya jadi murah, karena dibanderol dalam mata uang negaranya yang melemah terhadap US Dolar.

Langkah ini amat logis jika dipandang dalam kaca mata pertumbuhan ekonomi. Ekspor yang meningkat akan menciptakan keuntungan dan lapangan pekerjaan baru di suatu negara. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi akan terpacu.

Selain itu nilai tukar yang murah akan membuat investasi di pasar modal suatu negara jadi menarik. Implikasinya, investor asing pun berdatangan membawa dolar AS milik mereka untuk memperkuat pasar modal dalam negeri.

Apa Itu Currency War?, Pluang

Cara Kerja Currency War

Di dalam currency war, sebuah negara dengan sengaja menurunkan nilai tukar mata uang negaranya dengan mata uang negara lain.

Namun, metodenya berbeda-beda, tergantung pada kebijakan nilai tukar yang diterapkan oleh masing-masing negara.

Negara yang menerapkan kebijakan kurs tetap (fixed exchange rates) biasanya hanya membuat pengumuman terkait devaluasi tersebut. Sementara itu, negara lain yang menetapkan kurs mereka ke dolar AS sebagai mata uang cadangan devisa melakukan intervensi moneter. Yakni, dengan membeli dolar AS terus-menerus hingga nilai tukar negaranya berada pada level yang diyakini kompetitif.

Di sisi lain, negara dengan kebijakan flexible exchange rates harus meningkatkan jumlah uang beredar agar nilai mata uangnya terdepresiasi. Ada banyak cara yang bisa ditempuh, selain menerbitkan uang baru, bank sentral juga dapat melakukan quantitative easing dengan stimulasi kredit.

Tak hanya otoritas moneter, nilai mata uang juga dipengaruhi oleh kebijakan fiskal. Kebijakan yang ekspansif seperti membelanjakan lebih banyak atau memberi banyak kelonggaran pajak juga dapat meningkatkan jumlah uang beredar. Namun biasanya langkah fiskal tidak dihitung sebagai upaya untuk terlibat dalam currency war.

Currency Manipulator

Meski menguntungkan bagi suatu negara, namun tentu saja Amerika Serikat jadi ketiban pulung. Sebagai negara yang paling sering jadi sasaran manipulator mata uang lantaran dolar AS yang berharga, AS memulai label bagi pelaku currency war. Nah, mereka menyebut pelaku tersebut sebagai currency manipulator.

Baca juga: Masih Belum Paham Beda DeFi vs CeFi? Yuk, Belajar di Artikel Ini!

Kriteria Currency Manipulator

AS pun menetapkan tiga kriteria manipulator versi negaranya. Negara mitra dagang yang memenuhi tiga kriteria ini akan dicap sebagai manipulator dan dikenakan sangsi. Adapun kriteria yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Negara yang mencatat surplus perdagangan besar versus Amerika Serikat, yakni minimal US$20 miliar per tahun.
  2. Defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) dengan AS pun tinggi, yakni minimal 2% dari pendapatan domestik bruto (PDB).
  3. Terbukti melakukan intervensi pasar uang secara terus menerus dengan cara membeli dolar. Adapun nilai minimal yang ditetapkan juga sebesar 2% PDB.

Bagi negara yang memenuhi ketiga kriteria tersebut harus siap dengan sanksi yang ditetapkan AS. Sanksinya bisa bermacam-macam tergantung dari asesmen, namun umumnya berupa pengenaan tarif bea masuk impor.

Maksudnya, dengan dikenakannya tarif bea masuk impor, harga barang ekspor dari negara manipulator tersebut tidak lagi terlalu murah sehingga pasar dalam negerinya tidak kalah bersaing.

Ironisnya, sejak tahun 2011 sebagian besar mata uang dunia memang terapresiasi terhadap US Dolar berkat kebijakan moneter negara tersebut. Tapi tentu saja perang ini tak hanya terjadi pada Amerika Serikat dan rekan dagangnya saja, tetapi juga pada konteks komoditas dan negara lain.

Baca juga: Apa Itu Minutes of Meeting The Fed?

Contoh Currency War Antar Negara

Beberapa negara tercatat pernah mengalami currency war dengan teknis dan tujuan yang beragam.

Salah satunya adalah Uni Eropa yang terlibat currency war pada 2013 dalam upayanya menggenjot ekspor dan memerangi inflasi. Saat itu European Central Bank mengambil langkah pemangkasan suku bunga menjadi 0,25%. Langkah ini membuat Euro terdepresiasi jadi US$1,3366 per Euro.

Negara lain yang juga sempat memanas dengan AS akibat currency war adalah China. Yuan diperdagangkan pada range 2% dari 6,25 yuan per dolar AS. Namun, pada Agustus 2015, People Bank of China memutuskan depresiasi nilai yuan per dolar menjadi 6,3845 per dolar AS.

Sebelumnya, yakni di tahun 2010, China juga membeli surat berharga AS untuk menjaga nilai tukarnya rendah. Langkah ini berujung pada perang dagang yang membuat inflasi harga bahan makanan.

Kini, AS memantau neraca dagangnya berdasarkan kriteria manipulator currency untuk mengidentifikasi negara mana saja yang harus diwaspadainya. India, Taiwan beserta delapan negara lainnya masuk dalam daftar pantau ini.

Baca juga: Apa Itu Kebijakan Makroprudensial?

Dampak Currency War

Meski pada jangka pendek perang mata uang ini terbukti mengungkit nilai ekspor hingga berimbas pada pertumbuhan ekonomi yang pesat, untuk jangka panjang strategi ini ternyata kurang efektif.

Sebab, produktifitas suatu negara tetap membutuhkan barang impor yang harganya jadi mahal akibat perang mata uang. Jika depresiasi mata uang yang dilakukan tidak disertai dengan reformasi struktural, maka lambat laun produktivitas ekonomi negara tersebut akan menurun.

Selain itu, perang mata uang juga akan berdampak pada hubungan antar negara yang membuat barrier perdagangan meningkat. Dampak negatif juga akan berimbas pada volatilitas nilai tukar, keluar masuknya kapital dan inflasi.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Investopedia, The Balance, CNBC

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img