Currently set to Index
Currently set to Follow

Apa Itu Fungibility?

Fungibility adalah salah satu aspek kualitas dari suatu barang atau aset untuk bisa ditukarkan dengan aset lain yang bernilai sepadan.

Kualitas ini merupakan hasil secara konsensus dari masyarakat. Sehingga, barang tersebut dapat diterima secara universal pada aktivitas pertukaran atau transaksi.

Masih bingung dengan konsep fungibility? Kamu bisa menemukan contohnya pada uang.

Misalnya, kamu meminjam uang Rp100.000 kepada temanmu. Kemudian, temanmu memberikanmu satu lembar uang Rp100.000.

Lalu, saat kamu melunasinya, kamu memberikan temanmu lima lembar pecahan Rp20.000. Tentu nilai tersebut sama dengan satu lembaran uang Rp100.000, bukan?

Nah, itulah contoh fungibility yang paling kentara. Yakni, kondisi di mana satu jenis barang (uang Rp100.000) bisa ditukarkan dengan barang lain dengan nilai sepadan (lima lembar Rp20.000). Di mana, kesetaraan nilai ini merupakan konsensus dari kamu dan temanmu.

Dengan basis logika serupa, ternyata konsep fungibility juga berlaku di sebagian besar aset kripto. Namun, ada juga lho aset kripto yang tidak fungibel sama sekali.

Agar dapat memahami lebih jauh mengenai fungibility, yuk simak penjelasannya!

Uang dan Fungibility

Salah satu fungsi uang adalah menyederhanakan transaksi yang awalnya dilakukan secara barter alias bertukar barang. Hanya saja, di satu titik, peradaban manusia menyadari bahwa tidak semua barang fungibel atau dapat ditukar dengan sepadan.

Benda atau aset yang tidak sepadan bukan berarti tidak bernilai. Acap kali justru amat bernilai seperti rumah dan mobil. Hanya saja karakteristiknya tidak memenuhi kualitas fungibility sehingga tidak dapat dijadikan alat tukar.

Baca juga: Menilik ERC-20, Standar Emas Penciptaan Token-Token DeFi

Apa Itu Fungibility?, Pluang

Subjektifitas Fungibility

Fungibility adalah nilai yang terkadang bersifat subjektif. Alias, tergantung bagaimana kamu meihat “kekuatan daya tukar” dari benda yang kamu miliki tersebut.

Contohnya begini. Jika kamu punya satu butir telur, maka kamu bisa menukarnya dengan satu butir telur milik orang lain tanpa kendala berarti. Hal itu lumrah saja, sebab keduanya adalah barang identik.

Namun, tidak demikian dengan tiket pesawat yang sudah kamu pesan di baris terdepan atau di samping jendela. Kamu mungkin akan keberatan jika penumpang lain minta bertukar tempat duduk denganmu padahal tiketnya tidak mengakomodasi baris terdepan atau berdekatan dengan jendela.

Meski harga tiket pesawatmu dengan penumpang lain sama, namun belum tentu dua benda yang identik itu fungibel. Hal inilah yang dimaksud dengan subjektifitas dalam fungibility.

Uang dan aset fungibel menjadi mediator transaksi dari aset-aset tidak fungibel ini agar transaksi yang dilakukan tidak menimbulkan kerugian bagi salah satu pihak.

Uang senilai Rp100 ribu akan sepadan dengan aset non-fungibel senilai Rp100.000 menurut konsensus pasar. Namun, tanpa uang, aset tersebut akan sulit ditukar dengan barang lain lantaran dipandang tidak fungibel.

Baca juga: Mengenal Token DeFi dan Alasan Kenapa Kamu Harus Perhatikan Mereka

Fungibility Aset Kripto

Kondisi serupa pun ternyata terjadi di pasar cryptocurrency. Tak heran, sebab konsep aset kripto adalah “mata uang digital” yang awalnya memang diciptakan untuk bertukar nilai.

Pada pendekatan tertentu, aset kripto yang kamu memiliki punya kegunaan sebagai alat transaksi di pasar kripto. Selain itu, tiap aset juga umumnya memiliki fungsi tertentu pada jaringan blockchain tempatnya beroperasi, yang menjadikannya punya nilai khusus yang dapat disepadankan dengan aset lain ataupun uang fiat.

Karena fungibility-nya, aset kripto dapat ditransaksikan antar aset kripto maupun dengan uang fiat di market.

Misalnya, 1 keping Bitcoin (BTC) saat ini dihargai sekitar US$37.435 atau sekitar Rp542,88 juta per kepingnya. Fungibility yang dimiliki Bitcoin membuatnya punya nilai tawar tinggi hingga diakui sebagai alat tukar yang diakui bahkan oleh beberapa negara.

Non-Fungible Token (NFT): Aset Kripto yang Tidak Fungible

Kendati begitu, terdapat aset kripto yang tidak fungibel. Aset ini adalah token berjenis Non-Fungible Token (NFT). Yakni, sebuah token yang justru berharga karena nilainya yang tidak dapat dipadankan dengan nilai tukar lain.

NFT adalah aset digital yang beroperasi pada jaringan blockchain dengan kode unik dan metadata yang membedakannya dengan yang lain. Dengan kata lain, antara satu NFT dan NFT lainnya tidak punya sifat identik.

Nah karena sifatnya yang unik ini, maka NFT tidak dapat dijadikan alat tukar yang sepadan. Sehingga, satu unit NFT tidak dapat ditukarkan dengan NFT lain. Selain itu, satu keping NFT juga punya harga yang berbeda dengan NFT lain.

Lantas, kalau tidak fungible, kenapa NFT hadir di kancah kripto?

Sobat Cuan perlu tahu bahwa NFT adalah token yang digunakan untuk merepresentasikan aset berwujud (tangible) yang ada di dunia nyata. Token itu dapat dijualbelikan secara efisien dengan mereduksi kemungkinan adanya kecurangan.

Sehingga, NFT dapat membantu orang memiliki suatu barang beneran tanpa harus punya bentuk fisiknya.

Tak hanya aset, NFT juga dapat digunakan untuk merepresentasikan hak properti, identitas seorang tokoh atau pun idola maupun momentum tertentu. Token NFT membuat transaksi dapat dilakukan tanpa lembaga intermediari sehingga transaksinya jadi lebih sederhana.

NFT Tidak Tergantikan

Paradigma umum dalam dunia cryptocurrency sebagai medium transaksi terjungkal oleh keberadaan token NFT. Satu token NFT tidak sebanding dengan token NFT lainnya yang membuatnya tidak dapat dijadikan alat tukar.

Namun, seperti halnya banyak benda dan aset non fungibel di dunia nyata, NFT tetap memiliki nilai berharga yang membuatnya tetap diburu oleh penggemarnya. Sebagian besar NFT yang ada saat ini adalah merchandise atau colectibles dari tokoh maupun momentum yang monumental dari gelaran olahraga seperti NBA.

NFT umumnya beroperasi pada protokol standar ERC-721 di jaringan blockchain Ethereum. Standar ini mengakomodasi detail minimum antar muka, keamanan dan metadata yang sesuai dengan karakteristik aset non-fungible.

Selain itu, terdapat juga protokol standar lain yang kerap digunakan untuk NFT, yakni ERC-1155.

Protokol ini mereduksi biaya transaksi dan penyimpanan untuk NFT serta mengakomodir lebih dari satu jenis kontrak untuk NFT dalam satu smart contract. Multi kontrak dalam satu smart contracts sembuat fungsi mirip escrow untuk token-token yang merepresentasi aset yang berbeda-beda.

Meski terdengar rumit, konsep fungibility dan non-fungible tokens cukup masuk akal, bukan?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Investopedia, Binance

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img