Currently set to Index
Currently set to Follow

Apa Itu Litecoin?

Litecoin adalah salah satu koin alternatif atau altcoin pertama yang dikembangkan oleh engineer Google, Charlie Lee. Dijuluki sebagai ‘perak’-nya Bitcoin lantaran strukturnya yang mirip, Litecoin kerap menjadi versi beta bagi upgrade terbaru Bitcoin.

Seperti apa sejarah dan penjelasan lengkap tentang Litecoin? Yuk, simak artikel berikut!

Litecoin Adalah Proyek “Iseng”

Apa yang kamu lakukan saat ingin bersenang-senang? Mungkin, kamu akan pergi berbelanja ke pusat perbelanjaan atau nongkrong bersama teman-temanmu. Namun, tidak demikian dengan seorang teknisi Google bernama Charlie Lee.

Dua tahun setelah Bitcoin diluncurkan pada 2009, Lee yang merupakan lulusan Massachusetts Institute of Technology (MIT) ini membuat hardfork Bitcoin yang dinamakan Litecoin. Lee mengaku ide untuk mengembangkan Litecoin datang saat ia sedang bermain-main dengan basis kode Bitcoin sebagai ‘proyek sampingan untuk bersenang-senang’.

Proyek senang-senang tersebut kemudian diluncurkan sebagai mata uang kripto baru pada Oktober 2011. Litecoin lahir dua tahun setelah perilisan Bitcoin dengan tingkat efisiensi yang diklaim lebih unggul.

Baca juga: Apa Itu Altcoin Season?

Algoritma Litecoin Adalah Scrypt 

Scrypt adalah kunci dengan fungsi turunan berbasis password. Awalnya, Scrypt dikembangkan untuk aplikasi back up berbasis internet, Tarsnap, yang diklaim lebih aman dari pembobolan.

Inspirasi Scrypt datang dari observasi Lee atas sistem Bitcoin.

Selain menjadi teknisi Google, Lee suka menyambi jadi penambang Bitcoin. Kegemarannya tersebut membuatnya paham bahwa algoritma Bitcoin memiliki kelemahan yakni rentan diretas. Dia juga menyoroti lamanya block time Bitcoin, yakni waktu yang dibutuhkan untuk membentuk suatu file data di dalam blockchain.

Algoritma Litecoin ciptaan Lee merupakan koreksi terhadap algoritma Bitcoin ciptaan sesosk anonim bernama Satoshi Nakamoto, yakni SHA-256. Sebagai konsekuensinya, Litecoin membutuhkan lebih banyak RAM untuk membuat konsensus protokol yang lebih rumit agar Litecoin lebih aman dari peretasan ketimbang Bitcoin.

Namun keduanya, baik Litecoin maupun Bitcoin, masih menggunakan konsensus Proof of Work (PoW). Hal ini membuat keduanya bak pinang dibelah dua. Serupa, tapi tak sama.

Baca juga: Yuk, Simak Panduan Gunakan Bollinger Bands Untuk Trading Kripto!

Apa Itu Litecoin?, Pluang

Litecoin Adalah Versi ‘Perak’ dari Bitcoin

Keduanya, baik Litecoin maupun Bitcoin, merupakan mata uang digital peer-to-peer yang terdesentralisasi lewat blockchain. Lee mengembangkan Litecoin untuk menambal kekurangan Bitcoin yang ia temukan. Karenanya, Litecoin memiliki keunggulan dibanding Bitcoin disamping algoritma yang sudah lebih aman.

Adapun kelebihan Litecoin diantaranya memiliki limit koin empat kali lebih banyak dibandingkan Bitcoin yakni 84 juta. Waktu pembuatan block atau block time hanya 2,5 menit, jauh lebih kencang ketimbang waktu pembuatan block Bitcoin yang mencapai 10 menit.

Kelebihan ini membuat penambang Bitcoin tergiur juga untuk mulai menambal Litecoin. Namun, berkat algoritmanya yang lebih rumit, penambang Altcoin membutuhkan perangkat keras yang lebih mutakhir dan besar kapasitas RAMnya.

Saat pertama kali diluncurkan, penambang akan memperoleh 50 Litecountuk setiap block yang terbentuk. Saat ini rewardnya hanya 12,5 LTC. Namun, tiap keping LTC saat ini berharga sekitar USD 133 atau senilai Rp 1,9 juta!

Bitcoin Beta Version

Lantaran kemiripan strukturnya, Litecoin sering menjadi beta version dari Bitcoin. Tiap kali ada sistem atau protokol baru yang ingin diterapkan pada Bitcoin, Litecoin kerap jadi kelinci percobaannya.

Salah satu sistem yang diujikan pada Litecoin adalah SegWit atau Segregated Witness. Konsep ini dikembangkan oleh pengembang Bitcoin Pieter Wuille untuk meningkatkan limit block Bitcoin pada blockchain.

Intinya, SegWit melakukan segregasi pada signature tiap transaksi yang terjadi pada noda Bitcoin. Hal ini membuat kapasitas block meningkat lantaran tidak lagi menyimpan data signature tiap transaksi.

SegWit mulai dikembangkan pada tahun 2015. Namun, sebelum diaplikasikan pada Bitcoin, Litecoin terlebih dahulu mengadopsi SegWit pada sistemnya di tahun 2017. Setelah terbukti sukses barulah SegWit diterapkan pada transaksi Bitcoin yang menghasilkan hardfork lain bagi Bitcoin yakni Bitcoin Cash.

Skema serupa juga diterapkan saat Bitcoin ingin mencoba menggunakan lightning network untuk meningkatkan transaksinya. Litecoin terlebih dulu mengadopsi sistem ini untuk meningkatkan kapasitas transaksi yang menjadikannya mata uang kripto pertama yang menjajal lightning network.

Baca juga: Apa Itu Ripple?

Prospek Litecoin

Saat ini, Litecoin duduk di peringkat 13 dengan market cap mencapai US$8,8 miliar. Terdapat 66,7 juta Litecoin yang tersirkulasi dalam pasar kripto dengan volume perdagangan harian mencapai US$1,5 miliar perhari.

Dalam setahun belakangan market cap Litecoin telah tumbuh sebanyak 473,98%. Bahkan, di tahun 2017, Litecoin adalah mata uang kripto dengan market cap ketiga terbesar di dunia.

Salah satu daya tarik Litecoin adalah fee transaksinya yang lebih murah. Pada tiap transaksi Bitcoin saat ini kamu harus membayar fee transaksi sebesar USD 36,96 atau sekitar Rp 534.293. Sementara transaksi Litecoin hanya memerluikan fee sebesar USD 0,046 atau senilai Rp6.629 saja.

Memang jauh lebih efisien bukan?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Investopedia, Litecoin

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img