Currently set to Index
Currently set to Follow

World Economic Forum: Kesenjangan Ekonomi Terjadi di Tengah Pandemi

Di tengah kesenjangan ekonomi global, saat ini terdata ada lebih dari 16 juta kasus COVID-19 yang terkonfirmasi antara April dan Juli tahun ini. Sudah ada 630.000 korban jiwa dan orang-orang terkaya di dunia malah bertambah kaya hingga US$2 triliun.

Para miliarder di seluruh dunia berhasil menambah kekayaan mereka hingga 27,5% dalam 4 bulan. Jumlahnya mencapai US$10, 2 triliun berdasarkan laporan terbaru.

Berita tentang klub elit yang anggotanya berkisar 2.000 orang ini berbarengan dengan berita lain. Ada dugaan triliunan dollar gaji yang hilang. Ditambah lagi akan ada ratusan juga orang yang terjerumus kedalam kemiskinan ekstrim.

Hal yang bertolak belakang tadi membuat banyak orang menjadi khawaitr. Ada banyak uang yang mengalir ke orang yang sudah kaya dan bukannya mendanai layanan yang bisa membantu mereka yang rentan. Ini jelas pertanda bahaya kesenjangan ekonomi. Hal ini juga menunjukkan potensi kemampuan kita untuk me reset ekonomi global agar lebih adil dan berkelanjutan.

Laporan tadi menunjukkan ada 209 orang yang menyumbang sebesar US$7,2 miliar. Uang tersebut digunakan untuk mendanai sumbangan COVID-19 antara bulan Maret dan Juni. Laporan tersebut menunjukkan bahwa para milyuner memberikan uang mereka seperti pada awal abad ke-20.

Baca juga: 7 Langkah Optimal untuk Bangun Portofolio Investasi dan Neraca Keuangan

Kesenjangan ekonomi di tengah pandemi COVID-19

Pada awal abad ke-20, kesenjangan ekonomi relatif tinggi. Hal tersebut mendorong pembuatan pajak pemasukan federal di Amerika Serikat. Beberapa orang berpendapat bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk menambah pajak bagi orang kaya.

Cara ini dianggap akan membantu mendanai upaya penanggulangan pandemi dan tidak membuat bergantung pada sumbangan. Pada jangka panjang, diharapkan cara ini akan mengurangi kesenjangan ekonomi yang selalu menjadi masalah menahun.

Kebanyakan dari keuntungan finansial para miliuner tersebut berasal dari penilaian mereka akan dampak awal pandemi terhadap harga aset. Ini termasuk juga pada merosotnya harga pasar saham, sebagai kesempatan investasi. Karena aset seperti saham mendadak jadi murah, orang kaya bisa membeli banyak-banyak sebelum saham tersebut pulih nilainya.

Kebanyakan orang tidak memiliki akses yang sama kepada pasar ekuitas seperti mereka yang kaya. Orang kaya bisa mempekerjakan bankir dan penasihat untuk mengelola uang mereka. Sebagai contoh, di Amerika Serikat, 1% orang terkaya memiliki saham senilai US$14 triliun pada caturwulan kedua tahun ini. Sementara 50% penduduk yang miskin hanya memiliki saham senilai US$160 miliar.

Kesenjangan ekonomi seperti ini membuat para pakar mengeluarkan seruan untuk menerapkan pajak progresif. Pajak tersebut akan digunakan untuk mendanai pemulihan pandemi. Menurut para pakar, mereka yang kaya masih jauh lebih terlindungi dibandingkan orang lain. Maka dari itu, masuk akal untuk membuat mereka memberikan lebih banyak kepada mereka yang lebih membutuhkan.

Wabah Hitam pada abad ke-14 adalah contoh di mana pandemi secara drastis mengurangi kesenjangan ekonomi. Akan tetapi analisis ini tidak dapat diterapkan pada kasus saat ini. Kesenjangan ekonomi dan kemiskinan akan semakin meningkat setelah pandemi COVID-19 ini berakhir.

Baca juga: Perkaya Portofolio, Ini 5 Pilihan Investasi Jangka Pendek Untukmu

Kesenjangan ekonomi nyata terjadi

Di saat dunia terus mencari solusi untuk memecahkan masalah kesenjangan ekonomi yang semakin tajam akibat pandemi, ini juga mematahkan satu hal. Hal tersebut adalah anggapan bahwa kita semua bernasib sama. Pendapat tersebut semakin tidak relevan karena terbukti menurut analisis The Conversation, orang miskin di Inggris sangat terdampak.

Di Amerika Serikat sendiri, COVID-19 semakin mempercepat kesenjangan ekonomi dalam angkatan kerja. Harvard Business Review menyatakan bahwa pekerja kelas menengah dipaksa melakukan pekerjaan rendah.

Belum lagi adanya ancaman kecerdasan buatan yang akan semakin melebarkan kesenjangan ekonomi yang sudah ada sebelumnya. Keikutsertaan negara berpendapatan tinggi sangat penting untuk upaya penanggulangan COVID-19. Ini akan membuat proses distribusi vaksin COVID-19 lebih terjangkau. Hanya saja, dua kekuatan ekonomi terbesar tidak ikut bergabung.

Pada negara berkembang yang memiliki kesenjangan ekonomi yang besar memutuskan berbeda. Berdasarkan Brookings, mereka sudah meningkatkan sepertiga pajak pendapatan yang lebih tinggi dari negara maju. Menurut analisis tersebut, masalah terbesar yang dihadapi negara berkembang untuk mematahkan kesenjangan ekonomi adalah orang kaya itu sendiri.

Mereka mampu memindahkan uang ke luar negeri. Seringkali uang tersebut dibawa ke tempat yang memfasilitasi orang kaya dengan memberikan bunga tinggi dan pembebasan pajak.

Berdasarkan studi terbaru, permukiman dengan pendapatan rendah lebih sedikit memiliki akses transportasi. Akses tersebut harus menyambungkan mereka menuju pusat bisnis dan jasa. Sehingga salah satu cara yang bisa dibilang lebih sederhana untuk mengatasi kesenjangan ekonomi adalah membangun transportasi.

Di lain sisi, Swiss menjadi menarik perhatian. Tempat ini bisa dibilang semacam laboratorium untuk mempelajari pajak progresif. Menurut analisis VoxEU, Swiss dianggap lebih bocor. Ini dikarenakan penegakan pajak untuk orang kaya yang lebih lengang.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Unduh aplikasi Pluang di Google Play Store atau App Store untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam dengan kadar 999,9 mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS seperti Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera unduh aplikasi Pluang!

Sumber: World Economic Forum

Simak juga:

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img