Pandemi COVID-19 Bakal Panjang, Apakah Indonesia Siap Hadapi Krisis?

IMF dan bank sentral Amerika ramalkan krisis ekonomi adalah keniscayaan dan bakal panjang lantaran pandemi COVID-19. Apakah Indonesia akan siap menghadapi resesi ekonomi global?

Sejumlah lembaga keuangan internasional tampak sangat pesimistis dalam menghadapi pandemi yang semakin menjadi. Ramalan muram ini dibarengi proyeksi negara-negara ini yang memangkas angka pertumbuhan ekonomi mereka.

krisis ekonomi adalah

Pemerintah Indonesia pun bersiap menghadapi resesi ekonomi di depan mata. Krisis ekonomi adalah keniscayaan yang akan dihadapi setiap negara dalam hadapi pandemi 1-2 tahun ke depan.

Sebelumnya, lembaga moneter internasional (IMF) memperkirakan ekonomi dunia dapat tumbuh 3,3% pada 2020. Namun, angka ini dipangkas hingga minus 3% lantaran pandemi.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyatakan, kondisi saat ini tidak seperti krisis yang terjadi sebelumnya. Situasi krisis ekonomi saat ini adalah yang lebih kompleks lantaran perpaduan gejolak antara aspek kesehatan yang berkelindan dengan ekonomi dan bisnis.

Aktivitas bisnis dan ekonomi terjegal oleh langkah pencegahan penyebaran COVID-19. Imbasnya, dalam 1-2 bulan ini banyak bisnis yang tersendat dan para pengusaha menyatakan kesanggupan bertahan hanya sampai Juni.

Baca juga: Sri Mulyani: Efek Virus Corona Lebih Rumit Daripada Krisis Keuangan 2008

Krisis ekonomi adalah keniscayaan, tapi meredakan penyebaran COVID-19 adalah langkah taktis untuk mengembalikan ekonomi

resesi ekonomi

Proyeksi ekonomi global berubah drastis pada Q1 2020 ini. Bagaimanapun, laporan World Economic Outlook tetap optimis, memperkirakan ekonomi global akan membaik pada 2021 dan tumbuh 58%.

Kendati, pertumbuhan tersebut pun akan berada di bawah proyeksi sebelum pandemi ini.

“Bahkan pada 2021, kami perkirakan tingkat aktivitas ekonomi berada di bawah proyeksi sebelum pandemi ini,” ujar Kepala Ekonom Gita Gopinath.

“Lebih banyak ketidakpastian. Berdasarkan apa yang kami pelajari, meredakan penyebaran virus corona adalah yang paling efektif untuk memulai kembali ekonomi,” ujar Georgieva dalam pidatonya pertengahan bulan lalu.

Dengan krisis ekonomi adalah hal yang telah dan akan terjadi, dia memprediksi pendapatan per kapita 170 negara akan menurun.

IMF memperhitungkan skenario perkembangan kasus pandemi, bahwa pandemi akan mereda pada semester kedua tahun ini. Kendati, hingga kini belum ada yang dapat memastikan bagaimana pandemi ini akan berakhir, terlepas penantian akan vaksin yang mumpuni.

Berdasarkan data Worldometers.info, total kasus positif COVID-19 per Kamis (23/4) sebanyak 2.672.260 dengan kematian 186.933 orang.

Baca juga: Apa Pengaruh Pelemahan Ekonomi Global dengan Turunnya Harga Minyak Dunia?

Indonesia siap hadapi dampak panjang pandemi pada ekonomi

krisis ekonomi adalah

Menurut David Sumual, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk, fundamental ekonomi dan stabilitas sistem keuangan Indonesia saat ini tergolong cukup kuat dalam hadapi krisis ekonomi ini. Krisis ekonomi adalah apa yang paling mungkin dihadapi dalam beberapa bulan ke depan.

Bagaimanapun, Indonesia memiliki rasio utang berada di kisaran 30% terhadap PDB, jauh lebih rendah dibandingkan sejumlah negara lain. Kondisi permodalan perbankan pun jauh lebih baik.

Rasio kecukupan modal (CAR) bank-bank Indonesia tergolong masih kuat, bahkan termasuk salah satu tertinggi. CAR perbankan Indonesia, menurut OJK, hingga Februari 2020 masih capai 22,42%.

Sejumlah langkah pun telah disiapkan dalam hadapi krisis ekonomi ataupun resesi ekonomi akibat pandemi. Pemerintah, BI, OJK, dan LPS menyiapkan langkah mitigasi apabila krisis menjalar ke sistem keuangan.

BI menginjeksi likuiditas ke perbankan lebih dari Rp400 T. Sementara itu, OJK melonggarkan ketentuan terkait restrukturisasi kredit dan keluarkan ketentuan merger lebih awal bagi bank dengan indikasi kesulitan modal.

LPS miliki total aset Rp128 T, Rp120 T akan dipergunakan untuk menangani perbankan jika ada yang gagal. Krisis ekonomi adalah hal yang telah diantisipasi oleh lembaga-lembaga keuangan ini.

Saat ini, pemerintah sedang menggunakan skenario berat dampak pandemi corona dalam memproyeksi pertumbuhan ekonomi 2020 sebesar 2,3%. Ini turun drastis dari target APBN 2020 sebesar 5,3%.

“Kita melihat pada 2021 akan rebound, tapi juga belum tahu akan rebound seperti apa karena sangat tergantung pada apa yang terjadi tahun ini. Apakah bisa menahan di 2,3% atau lebih rendah dari itu,” ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal Febrio Kacaribu.

Baca juga: Karena Pandemi, Miliarder Terkaya di Dunia Merugi Hingga USD 408 M

Pemerintah Indonesia siap menambah stimulus ekonomi jika situasi makin mengkhawatirkan

NKRI Indonesia harga mati

Sejauh ini, selain penerapan PSBB di beberapa daerah, pemerintah Indonesia telah menerbitkan Perppu No. 1 Tahun 2020. Pengganti undang-undang ini memberi keleluasaan pemerintah dalam mengambil langkah cepat untuk tangani COVID-19.

Perppu ini mengatur pula kebijakan keuangan negara dan sektor keuangan dalam rangka menghindari krisis ekonomi lebih dalam. Kebijakan keuangan negara terkait pelonggaran defisit APBN hingga keleluasaan realokasi anggaran.

Dalam sektor kebijakan sektor keuangan, perluasan kewenangan komite stabilitas sistem keuangan (KSSK) diterapkan. Persiapan langkah hadapi krisis ekonomi adalah poin kunci KSSK. Ini bersamaan dengan upaya memperkuat OJK dan LPS dalam mencegah risiko stabilitas sistem keuangan.

“Kami belajar dari pengalaman 1998 dan 2008 sehingga pemerintah lebih siap mengantisipasi dampak ekonomi. Harapannya tidak ada krisis di sektor keuangan,” ujar Febrio.

Untuk perkara menghadapi krisis ekonomi ini, pemerintah telah menggelontorkan stimulus dalam tiga tahap. Total stimulus tahap pertama mencapai Rp8,5 T, tahap kedua Rp22,5 T, dan tahap ketiga Rp405,1 T.

“Namun terus terang kami juga ragu itu cukup. Pemerintah akan siap-siap kalau tidak cukup, apa yang harus dilakukan. Tanda-tanda yang kami lihat agak mengkhawatirkan,” ujar Febrio.

Sejauh ini, untuk mencapai angka stimulus tersebut, pemerintah telah lakukan perubahan APBN lewat Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2020. Dalam Perpres tersebut, belanja negara dihemat sebesar Rp190 T dengan realokasi belanja Rp54,6 T.Bersamaan dengan stimulus anggaran tersebut, pemerintah juga tambah belanja negara untuk penanganan COVID-19.

Krisis ekonomi adalah hal yang sedang dihadapi sebagian besar negara dan resesi ekonomi tampaknya memang tak terhindarkan. Hal yang dapat kita lakukan dalam mengurangi dampak ekonomi yang lebih besar adalah melakukan anjuran #physicaldistancing dengan sebaik-baiknya.

Sumber: Katadata

Simak juga:

Pengin Bikin Start-up? Ini 5 Strategi Awal yang Harus Kamu Ketahui

Tetap Bisa Traveling Saat Kantong Tipis dengan 9 Trik Ini!

Menyulap Hobi Menjadi Bisnis dengan 7 Trik Andalan Ini!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img