Currently set to Index
Currently set to Follow

Dikenal Sebagai Raja Saham Indonesia, Seperti Apa Profil Lo Kheng Hong?

Seperti halnya Warren Buffett, nama Lo Kheng Hong amat terkenal di kalangan investor, terutama bagi para pialang saham yang telah lama malang-melintang di jagat pasar modal Indonesia.

Sekilas lalu melihat sosoknya yang santai, tampaknya Lo Kheng Hong adalah investor pasar modal yang menikmati hidup sederhana kendati bergelimang kekayaan senilai triliunan rupiah. Namun, di balik itu, LKH dikenal sebagai investor yang gigih, piawai dan konsisten dalam investasi saham. Untuk keunggulannya ini, ia bahkan dijuluki sebagai Warren Buffett-nya Indonesia.

Strategi jitu berinvestasi boleh serupa, tetapi rupanya pria keturunan Tionghoa ini memiliki kisah hidup yang sangat berbeda dengan Buffett.

Sosok LKH dipandang sebagai urban legend bak Jack Ma yang berangkat dari pegawai rendahan dan kini berhasil menjadi salah satu orang terkaya dunia. Bedanya, LKH tidak membangun bisnis seperti halnya Jack Ma. Strategi jitunya dalam berinvestasi seperti Buffett yang kini mengantarkannya ke networth yang fantastis.

Tercatat per 14 Agustus 2020, ia memegang saham induk MNC Group, BMTR sebanyak 947 lembar saham senilai Rp295 miliar. Ia juga memegang saham PT Petrosa Tbk (PTRO) senilai Rp289 miliar per 31 Juli 2020. Di PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS) ia memegang 101 juta saham senilai Rp41 miliar per 31 Juli 2020. Jika dijumlahkan, kekayaannya ditaksir mencapai Rp625 miliar, tidak termasuk aset non-saham.

Bagaimana kisah hidup investor kawakan Indonesia ini?

Baca juga: Sobat Cuan, Ini Bocoran Tips Investasi Lo Kheng Hong di 2021

Dikenal Sebagai Raja Saham Indonesia, Seperti Apa Profil Lo Kheng Hong?, Pluang

Berasal dari Keluarga Miskin, Kekayaan Lo Kheng Hong Bermula dari Investasi Saham

Pria kelahiran 20 Februari 1959 ini berhasil mencapai kebebasan finansial hanya dengan berinvestasi saham. Bahkan di usianya saat ini, ia masih aktif berinvestasi saham dan tidak pernah terpikir untuk berhenti.

Lo Kheng Hong lahir dari keluarga sederhana, dibesarkan sebagai sulung dari tiga bersaudara. Kerap saat diminta berbagi kisah masa kecil, ia bercerita bahwa rumah yang ditinggalinya dulu hanya berukuran 4×10 meter tanpa plafon, dengan atap dan dinding berbahan papan. Rumahnya pun terletak di bawah jalan raya dan kerap terkena banjir.

Pada 1979, setelah lulus SMA, ia tidak dapat melanjutkan studi ke universitas karena keterbatasan biaya. Untuk mengisi waktu dan bertahan hidup, ia melamar kerja di Overseas Express Bank (OEB) dan diterima sebagai pegawai tata usaha. Gajinya sebagai pegawai TU tidak besar, dan dengan gajinya itu ia membiayai studinya di jurusan Sastra Inggris Universitas Nasional sembari tetap bekerja sebagai pegawai tata usaha.

Pada 1989, Lo Kheng Hong mulai berkenalan dengan dunia investasi saham dan mulai membeli saham pertamanya pada usia 30 tahun. Modal investasinya saat itu pun hanya bergantung pada gajinya sebagai pegawai tata usaha yang menurutnya tidak seberapa.

Ia mengenang, saham pertama yang dibelinya adalah saham PT Gajah Surya Multi Finance yang saat itu baru saja ditawarkan kepada publik secara perdana. Lo Kheng Hong rela mengantri panjang untuk memperoleh saham. Ia tidak serta-merta beruntung, harga saham perdana yang dibelinya itu anjlok dan ia merugi, tapi ia bertahan.

Lo Kheng Hong tergerak untuk lebih rajin mempelajari investasi saham secara otodidak dan banyak membaca buku tentang prinsip dan strategi investasi Warren Buffett.

Memutuskan Berhenti Kerja Kantoran, Lo Kheng Hong Fokus Pelajari Dunia Pasar Modal

Setelah bekerja selama 10 tahun di OEB, ia memutuskan pindah ke Bank Ekonomi pada 1990. Dalam satu tahun, Lo Kheng Hong diangkat sebagai Kepala Cabang. Setelah enam tahun bekerja, ia mengambil keputusan untuk berhenti bekerja pada 1996. Keputusannya berhenti bekerja lantaran ia ingin fokus menekuni dunia investasi saham.

Alhasil, waktu luangnya pun semakin banyak untuk digunakannya meninjau pergerakan dunia pasar modal. Lo Kheng Hong mengaku terus belajar dan memperkaya diri dengan ragam informasi seputar saham. Baik informasi pasar modal dalam maupun luar negeri ia lahap dengan gigih. Kenaikan dan peningkatan aset, keuntungan, maupun kekayaannya pun bergerak lurus sejalan dengan pengetahuannya soal saham.

Beberapa saham yang ia akui paling menguntungkan baginya adalah saham MBAI, PNLF, dan RIGS. Ia tidak asal membeli saham, karena sebelum membeli saham emiten PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI) ini misalnya, ia telah mempelajari profil dan analisis fundamental perusahaan ternak ayam kedua terbesar di Indonesia ini. Harga saham yang ditawarkan MBAI saat itu ia anggap terlalu murah untuk perusahaan sekelas itu. Lo Kheng Hong melihat prospek perusahaan tersebut, sementara banyak orang tidak begitu menyadarinya.

Dengan prediksi jangka panjang yang serupa dengan MBAI, LKH membeli saham PNLF dan RIGS. Ia memang gemar mencari saham-saham potensial dan langsung membelinya dalam jumlah besar. Tak tanggung-tanggung, ia beli saham PNLF sebanyak 850 juta lembar (setara Rp85 miliar) dan saham itu naik 2,6 kali lipat dari harga awal. Setelah 1,5 tahun, ia jual saham itu dan memperoleh keuntungan 160% dengan harga Rp260 per lembar saham. Total penjualannya senilai Rp221 miliar dan ia pun meraup untung Rp136 miliar.

Baca juga: 5 Produk Investasi Ini Bikin Kamu Cuan Maksimal dengan Modal Rp1 Juta

Memilih Investasi (Jangka Panjang), dan bukan trading (Jangka Pendek)

Banyak pemula di dunia pasar modal yang tidak fasih dengan perbedaan istilah investasi dan trading. Bagi Lo Kheng Hong, sudah jelas yang ia pilih sejak semula adalah berinvestasi. Artinya, ia menyimpan saham-saham tersebut dalam jangka waktu cukup lama antara waktu pembelian dan penjualan.

Menurutnya, menjadi seorang trader memberi banyak tekanan karena sang trader harus terus memantau harga saham dalam hitungan hari, bahkan jam. Saat nilainya belum seberapa, trader kerap menjualnya dengan cepat kendati keuntungannya belum begitu besar.

LKH menyarankan investasi saham karena dengan demikian investor telah memperhitungkan dengan lebih cermat titik beli yang akan memberi keuntungan optimal. Untuk itu, sang investor harus mampu memperkirakan nasib dari bisnis yang dihadapi perusahaan yang ia pegang sahamnya selama beberapa tahun mendatang.

Kehebatannya dikenal karena keberanian dan mentalnya membeli saham ketika investor lain justru ragu dan justru memilih menjual sahamnya. Saat flu burung sedang marak-maraknya, LKH malah berani membeli saham MBAI yang kini merger dengan PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA).

Bergelimang Harta, Tetap Hidup dalam Kesederhanaan

Walaupun kini kekayaannya mencapai taksiran triliunan rupiah, gaya hidup Lo Kheng Hong tetaplah amat sederhana. Sehari-hari, ia masih setia dengan mobil merek Volvo yang telah dimilikinya selama 10 tahun.

Menurutnya, harga barang-barang mewah seperti mobil cenderung menyusut seiring waktu. Ia justru lebih memilih berinvestasi dengan melakukan perjalanan wisata dan menerapkan rutinitas RTI (reading, thinking, and investing). Sesekali dalam setahun, ia berplesir cukup lama sekitar 2 minggu ke berbagai tempat untuk sekadar menikmati hidup. Dengan harta kekayaannya saat ini, sembari travel, tentunya ia pun masih tetap dapat melakukan kegiatan yang begitu dicintainya seumur hidup: berinvestasi saham.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Kumparan, Cermati, CNBC Indonesia

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img