PHK Bukan Akhir Dunia, Ketahui Jenis-jenis PHK dan Trik Menghadapinya

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) banyak terjadi sebagai akibat dari pandemi COVID-19.  Namun, perbedaan sudut pandang antara pengusaha dan karyawan terkait definisi PHK membuat sering terjadi konflik. Yuk, kenali apa saja jenis jenis PHK supaya terhindar dari konflik yang tidak signifikan.

Data per Senin (13/04) menunjukkan 1,6 juta orang telah dirumahkan, jelas Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Doni Monardo.

pemutusan hubungan kerja

Pemutusan hubungan kerja bisa terjadi kepada siapa saja dan kapan saja. Jenis jenis PHK pun beragam. Namun, apa pun jenisnya, karyawan memiliki hak yang mesti dipenuhi oleh perusahaan.

Pemutusan hubungan kerja tidak sesederhana berakhirnya hubungan antara perusahaan dan karyawannya. Tapi, ada banyak jenis jenis PHK dan berbagai macam alasannya.

Simak, yuk, pemutusan hubungan kerja yang sering terjadi serta sejauh apa jenis jenis PHK tersebut diatur oleh undang-undang?

Baca juga: PHK Bisa Terjadi Kapan Saja, Ketahui Prosedur dan Hak-hakmu Sebelum Terjadi

Jenis-jenis pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam praktiknya…

jenis jenis phk

Pemutusan hubungan kerja diatur dalam UU Ketenagakerjaan No. 13 tahun 2003. Pada dasarnya, pemutusan hubungan kerja terjadi ketika hak dan kewajiban antara pekerja dan pengusaha berakhir dikarenakan suatu hal.

Dalam praktiknya, ada tiga jenis jenis PHK yang terjadi.

Pertama, pekerja mengundurkan diri atas kemauan sendiri atau biasa dikenal dengan PHK sukarela. Pemutusan hubungan kerja ini diakhiri tanpa penetapan lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial (Pasal 162 UU No 13 Tahun 2003). Beberapa alasan PHK ini adalah karena berakhirnya masa kontrak, tidak lolos masa percobaan (probation), pekerja memasuki usia pensiun, atau buruh meninggal dunia.

Kedua, pengusaha melakukan PHK atau biasa dikenal dengan “diberhentikan”. Pemutusan hubungan kerja ini dilakukan oleh perusahaan karena alasan internal. Seperti kondisi keuangan ekonomi perusahaan yang tidak stabil atau bahkan bangkrut. Atau ketika perusahaan melakukan “merger” atau restrukturisasi dengan perusahaan lain sehingga perusahaan harus menghilangkan beberapa posisi yang ada.

Sesuai dengan Pasal 151 dan 152 UU No 13 Tahun 2003, pengusaha diwajibkan untuk melakukan perundingan dengan karyawan maupun serikat buruh yang ada jika akan melakukan “pemberhentian karyawan”. Hal ini dilakukan untuk memastikan karyawan tetap mendapatkan kompensasi yang semestinya yang diatur dalam UU.

Ketiga, PHK secara tidak sukarela atau “dipecat” oleh perusahaan. Berbeda dengan “diberhentikan”, pemutusan hubungan kerja ini diakibatkan oleh perilaku karyawan itu sendiri. Misalnya karyawan tidak menunjukkan kinerja yang baik, tidak jujur, dan tidak bisa bekerja dalam tim. Atau ketika karyawan melakukan pelanggaran yang berat, seperti tindakan kriminal. Penjelasan tentang kesalahan berat itu diatur dalam Pasal 158 UU no 13 tahun 2003.

Meski memiliki beberapa jenis-jenis pemutusan hubungan kerja, setiap karyawan berhak mendapatkan kompensasi sesuai dengan UU yang berlaku. Dengan menjunjung asas musyawarah, kompensasi bisa didiskusikan lagi diantara kedua belah pihak tersebut.

Baca juga: Dampak Pandemi Corona, 1,4 Juta Orang Mendaftar Kartu Prakerja Online

PHK bukan akhir dunia!

pemutusan hubungan kerja

Kesal, marah, sedih, dan kecewa adalah hal yang wajar ketika kalian di-PHK. Kalian bisa mengambil waktu untuk meluapkan emosi tersebut. It’s okay not to be okay!

Setelah tenang, barulah kalian memikirkan langkah selanjutnya. Berikut adalah beberapa tips yang bisa kalian lakukan setelah di-PHK.

#1 Menghubungi keluarga dan temen

Ketika kamu sudah tenang, kamu bisa mulai menghubungi keluarga serta teman dekat untuk menceritakan kondisimu setelah pemutusan hubungan kerja. Tentu saja, kamu bisa menyimpan detailnya untuk dirimu sendiri. Yang penting, mereka tahu keadaanmu sedang sulit dan kamu butuh support system.

Jika kamu sudah menikah, jangan lupa untuk bercerita kepada pasangan, ya. Atau jika kamu sudah punya anak, berilah pengertian kepada mereka. Mungkin kamu bisa memulai dari dampak PHK ini kepada gaya hidup dan waktu yang bisa kalian habiskan bersama.

#2 Memperketat anggaran setelah pemutusan hubungan kerja

Keuangan menjadi hal serius yang harus dipikirkan matang-matang begitu pemutusan hubungan kerja terjadi. Akan beruntung jika kamu memiliki tabungan dana darurat. Tetapi, jika tidak, kamu bisa mulai menghitung dan mengurangi bahkan menghilangkan pengeluaran yang non-essential. Ada beberapa lembaga yang menawarkan solusi atas keadaan ini. Kamu bisa googling dan mengikuti strategi mereka, lho!

#3 Memperhitungkan keuntungan apa saja kamu miliki

Keuntungan di sini tidak melulu berarti keuangan, ya. Kamu bisa mulai mengalokasikan dan menyimpan kompensasi yang kamu dapatkan. Namun, lihat sisi baik lainnya. Kamu bisa memiliki waktu untuk melakukan hal-hal yang kamu senangi setelah pemutusan hubungan kerja. Misalnya meningkatkan skill bakery-mu yang sudah lama terpendam. Siapa tahu, hobi ini bisa membantu dan menghasilkan uang.

#4 Mulai menerapkan pola pikir panjang

Tidak ada yang tahu sampai kapan pandemi ini akan bertahan. Ada yang meramalkan ini akan berlangsung hingga 1-2 tahun ke depan. Tapi yang pasti, pandemi ini akan berakhir. Stay positive and hopeful! Perekonomian akan pulih pada saatnya. Yang bisa kita lakukan adalah tetap menjalan hidup dengan new routine ini.

Pemutusan hubungan kerja memang menyedihkan. Tapi, lebih menyedihkan lagi jika kalian tidak bisa menghadapinya. Jadi, tetaplah lihat kesempatan baik di depan, ya!

Sumber: Dave Ramsey

Simak juga:

9 Rekomendasi Buku Keuangan Terbaik Ini Dijamin Bikin Kamu ‘Melek’ Finansial

Nadiem Makarim sebagai Menteri Termuda dengan Ide Segar, Ini 5 Menteri Muda Lain dari Seluruh Dunia

Investasi di Perfilman Indonesia dengan Patungan Rp10.000 Aja, Mau?

Bantu Atasi Defisit Anggaran, Iuran BPJS Alami Kenaikan 100%

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img