Masuk Level Bencana Nasional, Gugas PP COVID-19 Jalankan 9.000 Tes PCR per Hari

Indonesia menempati peringkat terendah dalam kategori tingkat pengujian test virus corona. Rapid test virus corona yang diterapkan pemerintah RI termasuk terburuk di dunia, bersama dengan Ethiopia dan Bangladesh.

Sejauh ini, hanya 36 dari 1 juta orang di Indonesia yang diuji dengan rapid test virus corona. Ini menjadikan Indonesia terburuk keempat dalam tingkat pengujian di antara negara-negara dengan populasi 50 juta atau lebih.

rapid test virus corona

Dalam standar test virus corona, Indonesia yang berpenduduk sebanyak 270 juta orang berada di deretan terbawah. Sejajar dengan Ethiopia, Nigeria, dan Bangladesh dalam pengadaan rapid test virus corona.

Sementara Indonesia hanya melakukan tes pada 36 dari 1 juta orang. Ethiopia melakukan tes pada 16 dari 1 juta orang. Sementara, Bangladesh pada 18 dari 1 juta orang dan Nigeria pada 19 dari 1 juta orang.

Sebagai perbandingan, Korea Selatan melakukan pengujian test virus corona dengan 8.996 per 1 juta orang. Sementara, Singapura dengan 6.666 tes pada 1 juta orang dan Malaysia dengan 1.605 tes pada 1 juta orang.

Sejauh ini, dalam menghadapi pandemi COVID-19 ini, Presiden Joko Widodo telah meneken Keputusan Presiden (Keppres) No. 12 Tahun 2020 yang menetapkan virus corona sebagai bencana nasional.

Keppres ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan, yakni per Senin (13/4). Sementara itu, per Minggu (12/4), angka kasus COVID-19 telah mencapai jumlah 4.241, dengan 373 kasus meninggal dunia dan sembuh 359 orang.

Baca juga: Dampak Pandemi Corona, 1,4 Juta Orang Mendaftar Kartu Prakerja Online

Metode rapid test virus corona dan PCR test/swab test yang digunakan di lab Indonesia

test virus corona

Mengenai rendahnya tingkat rapid test virus corona ini, Achmad Yurianto, juru bicara pemerintah untuk penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia angkat bicara.

“Kami tidak menguji berdasarkan ukuran populasi, tapi berdasarkan penelusuran kontak kasus positif serta berdasarkan kunjungan ke fasilitas kesehatan oleh orang-orang dengan gejala COVID-19,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Indonesia telah melakukan rapid test virus corona, tetapi sejauh ini pengujian dengan metode ini tidak menunjukkan angka yang signifikan.

Melalui live streaming di akun Youtube Sekretariat Presiden, Jokowi telah menyerukan pengadaan rapid test virus corona untuk deteksi dini infeksi COVID-19.

Sejauh ini, diketahui terdapat dua cara test virus corona untuk menguji, yakni tes dengan rapid test dan PCR test.

Metode rapid test menggunakan sampel darah, mengukur antibodi pasien. Sementara metode PCR yang sering dikenal sebagai swab test menggunakan sampel cairan dari saluran pernapasan bawah sebagai bahan pemeriksaan.

Pada metode PCR, para peneliti mengekstrak asam nukleat dari sampel cairan yang diambil dari saluran pernapasan bawah ini. Asam nukleat ini mengandung genom virus yang dapat menentukan dengan akurat adanya infeksi di dalam tubuh.

Peneliti dapat mengecek lebih lanjut dengan teknik reaksi berantai transkripsi polimerase terbalik. Ini memberi peneliti sampel besar yang dapat mereka bandingkan dengan virus SARS-CoV-2. Virus SARS-CoV-2 miliki hampir 30.000 nukleotida, blok bangunan yang membentuk DNA dan RNA.

Dari segi waktu, hasil pemeriksaan dengan rapid test membutuhkan waktu 10 menit hingga 2 jam, sesuai yang dilansir oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sementara, metode PCR membutuhkan waktu sekitar 20 hingga 30 menit. Metode PCR diklaim memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap virus COVID-19.

Baca juga: Tetap Produktif Meski Kerja dari Rumah, Ini 9 Trik dari Para Freelancer Sukses

Gugus Tugas Penanganan COVID-19 lakukan percepatan tes, juga peningkatan kapasitas laboratorium

rapid test virus corona

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Letjen Doni Monardo menyatakan prediksi puncak penularan COVID-19 di Indonesia akan terjadi pada Mei 2020.

Karena itu, pemerintah meningkatkan tes PCR untuk mendeteksi risiko terjadinya penularan.

“Puncak COVID-19 di negara kita prediksi lima atau empat minggu yang akan datang,” ujar Doni di Istana Merdeka.

Meningkatkan rapid test virus corona maupun PCR test secara masif ini memanglah upaya penting untuk mengetahui jumlah kasus positif di Indonesia.

Dengan penambahan unit PCR test, pemerintah targetkan melakukan tes setidaknya terhadap 9.000 orang per hari. Dalam pelaksanaannya, Gugus Tugas Penanganan COVID-19 juga telah bekerja sama dengan BUMN dan pihak swasta. Salah satunya adalah dengan membantu peningkatan pengadaan unit PCR.

Dalam rangka menghadapi puncak pandemi pada Mei, pemerintah juga meningkatkan kapasitas laboratorium untuk melakukan uji spesimen. “Perintah Presiden untuk meningkatkan kapasitas laboratorium hingga 78 lab,” ujarnya.

Pemerintah juga mulai mengatur protokol khusus berkaitan tata cara penguburan pasien yang meninggal karena corona dan terkait sikap terhadap perlakuan jenazah.

Pemerintah telah melakukan peningkatan di berbagai sektor. Dari penyelenggaraan rapid test virus corona, 9.000 tes PCR per hari, peningkatan dan penggunaan 78 laboratorium, hingga hingga protokol khusus perlakuan jenazah. Bangkit dari deretan terbawah negara dalam penanganan COVID-19, pemerintah menunjukkan keseriusannya menghadapi “bencana nasional” ini.

Sumber: Straits Times, Tirto, The Conversation, CNN Indonesia, Detik

Simak juga:

9 Rekomendasi Buku Keuangan Terbaik Ini Dijamin Bikin Kamu ‘Melek’ Finansial

Nadiem Makarim sebagai Menteri Termuda dengan Ide Segar, Ini 5 Menteri Muda Lain dari Seluruh Dunia

Investasi di Perfilman Indonesia dengan Patungan Rp10.000 Aja, Mau?

Bantu Atasi Defisit Anggaran, Iuran BPJS Alami Kenaikan 100%

Recent Articles

Retained Earnings adalah

Apa Itu Retained Earnings?

Personal Finance adalah

Apa Itu Personal Finance?

contoh gantt chart

Apa Itu Gantt Chart?

gini index adalah

Apa Itu Gini Index?

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel lainnya