OJK Suspen 7 Produk MNC Asset Management yang Kelola Reksadana hingga Rp6,01 T

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali melakukan suspensi, kali ini atas penjualan 7 produk reksadana MNC. Ini lantaran reksadana PT MNC Asset Management milik perusahaan Hary Tanoesoedibjo dianggap menyalahi ketentuan penempatan portofolio investasi.

Dengan kian berkembangnya industri reksadana, OJK akan mengatur ulang perihal pemasaran dan penjualan reksadana. Kini, OJK tengah meminta tanggapan kepada pelaku usaha terkait Rancangan Peraturan OJK (RPOJK) soal pedoman pemasaran dan penjualan reksadana.

Beleid tersebut ditargetkan berlaku pada pertengahan 2020. Dokumen ini akan digunakan sebagai penyempurnaan atas aturan penjualan reksadana yang ada saat ini.

MNC asset management

Sementara itu, dalam surat yang terbit 16 Desember, OJK tidak memperkenankan MNC Asset Management menambah unit penyertaan baru dari tujuh reksadana. Nilai aktiva bersih (NAB) tujuh reksadana MNC ini sekitar Rp1,21 triliun pada November lalu.

Selain harus menghentikan penjualan, reksadana MNC tidak diizinkan meneken Kontrak Investasi Kolektif (KIK). Ini juga berlaku pada Kontrak Pengelolaan Portofolio Efek demi kepentingan nasabah.

Meski begitu, OJK tidak memerintahkan pembubaran reksadana MNC.Pihak OJK hanya perintahkan agar MNC Asset Management lakukan penyesuaian atas komposisi portofolio efek dan valuasi.

Baca juga: Atur Risiko Investasi Melalui Reksadana, Ini 5 Hal Dasar yang Wajib Kamu Pahami!

Tiga pelanggaran yang diduga dilakukan reksadana MNC

OJK temukan pelanggaran aturan portofolio investasi reksadana dalam tujuh produk MNC Asset Management.

Perihal ini dicantumkan dalam surat OJK bernomor S-1542/PM.21/2019 tertanggal 16 Desember 2019 yang ditandatangani Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal 2A OJK, Yunita Linda Sari.

Surat tersebut nyatakan tiga pelanggaran yang ditemukan pada perusahaan manajer investasi yang kelola reksadana senilai Rp6,01 T per November ini, di antaranya:

Pertama, adanya kepemilikan porto folio dengan porsi lebih dari 10% dari nilai aktiva bersih (NAB, dana kelola) untuk reksadana konvensional dan lebih dari 20% untuk reksadana syariah.

Kedua, pelanggaran efek terafiliasi berporsi lebih dari 20% NAB pada beberapa reksadana yang dikelola perseroan.

Ketiga, penempatan investasi pada efek utang yang sudah gagal bayar (default).

Lantaran pelanggaran ini, OJK sampaikan perintah penyesuaian pada Oktober 2017 dan pada Februari 2018. Kini, sebagai tindak lanjut, pihak OJK bertindak lebih lanjut dengan memberikan larangan menambah unit baru untuk tujuh reksadana MNC ini.

Tujuh produk reksadana MNC yang terkena perintah suspensi beli dari OJK ini ialah: Reksadana (RD) MNC Dana Lancar, RD MNC Dana Likuid, RD Syariah MNC Dana Syariah, RD Syariah MNC Dana Syariah Ekuitas II, RD MNC Dana Ekuitas, dan RD MNC Dana Pendapatan Tetap III.

Baca juga: Mau Coba Investasi Reksadana? Berikut 5 Manajer Investasi yang Bisa Kamu Pertimbangkan

Risiko yang dihadapi investor atas reksadana PT MNC Asset Management

Suspen yang ditetapkan oleh OJK ditujukan untuk mencegah adanya investor baru yang terjebak di produk reksadana yang bermasalah.

Surat yang dikeluarkan OJK dengan jelas menunjukkan bahwa otoritas telah meminta perusahaan untuk melakukan tindakan dalam kurun waktu lebih dari satu tahun.

Sementara pihak PT MNC Asset Management melakukan penyesuaian atas komposisi porto folio efek dan valuasi, nasabah atau investor dilindungi dari risiko default atau gagal bayar lantaran komposisi alokasi aset reksadana yang masih bermasalah.

Selain itu, ada pula risiko likuiditas lantaran beberapa saham yang dimiliki cenderung mentok di harga Rp50 per saham, sehingga sulit untuk dijual.

Dengan adanya kasus ini, OJK diharapkan dapat mendukung untuk mengedepankan transparansi atas isi portofolio reksadana.

Dengan adanya transparansi ini, investor dapat menilai sendiri risiko dari reksadana tertentu sehingga menghindari masuk ke reksadana dengan investasi yang kurang prudent.

Baca juga: Janjikan Fixed Return, 6 Produk Reksadana Minna Padi Dibubarkan OJK

Tanggapan PT MNC Asset Management (MAM) terkait suspensi tujuh produk reksadana MNC

Atas tindakan OJK, pihak MAM memberikan klarifikasi sebagai berikut:

  1. Adanya kelebihan porsi persentase pada porto folio reksadana konvensional lebih dari 10%. Dan reksadana syariah lebih dari 20% serta kepemilikan efek terafiliasi lebih dari 20%.

Hal ini disebabkan oleh perubahan harga pasar dari portofolio dan perubahan Asset Under Management (“AUM”) dari reksadana tersebut. Terutama yang mengakibatkan beberapa reksadana melebih ketentuan yang ditetapkan oleh OJK.

Atas hal ini, reksadana MNC Asset Management sedang lakukan penyesuaian atas komposisi portofolio efek. Ini agar penuhi ketentuan pasal 6 angka 1 huruf d dan j POJK 23 dan pasal 16 POJK 19.

  1. Pada saat melakukan pemilihan portofolio efek, MNC Asset Management selalu berusaha menginvestasikan pada Efek dengan potensi imbal balik yang optimal. Ini dilakukan dengan melakukan kajian komprehensif sesuai dengan prinsip kehati-hatian. Namun, dalam berjalannya waktu, tidak menutup kemungkinan porto folio tersebut mengalami default atau restrukturisasi.

Atas portofolio yang mengalami default atau dalam proses restrukturisasi ini, reksadana MNC Asset Management berkomitmen untuk segera menyelesaikan permasalahan tersebut. Tentunya dengan tetap mengutamakan kepentingan terbaik dari para nasabah MAM.

  1. Selama 19 tahun berdiri, reksadana MNC Asset Management selalu dan akan senantiasa berusaha untuk memenuhi segala ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pernyataan ini diharapkan dapat menjawab berbagai pertanyaan dari investor, sekaligus merupakan klarifikasi atas pemberitaan yang beredar di media massa.

Sumber: CNBC Indonesia, Kontan, Kontan

Simak juga:

Tetap Cuan dengan Menabung Emas Online Kekinian, Bagaimana Caranya?

Menikah VS Beli Rumah, Mana yang Harus Didahulukan?

Naik Hanya 8,51%, Ini Alasan Serikat Buruh Tolak Kenaikan Upah Buruh yang Kecil

Di Tengah Perang Dingin Teknologi AS-Tiongkok, 5G Huawei Optimis Akan Meledak di Pasar

Perbankan Terimpit Persaingan Fintech, OJK Dukung Merger Bank di Indonesia

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img