Terburuk Sejak Masa Depresi Besar, IMF Prediksikan Ekonomi Dunia Rebound pada 2021

Saat ini, masyarakat dunia telah hampir pasti memasuki fase resesi ekonomi global yang mempengaruhi sebagian besar lini kehidupan. Bahkan, tingkat keparahannya diramalkan menandingi periode Depresi Besar. Apa itu krisis ekonomi yang akan dihadapi pada 2020 ini?

IMF meramalkan bahwa ekonomi dunia diperkirakan akan mengalami kontraksi sebesar 3% pada 2020 karena pandemi coronavirus menyebabkan negara-negara di seluruh dunia menerapkan lockdown.

resesi ekonomi global

Dibandingkan dengan kontraksi ekonomi yang terjadi pada 2009, pada 2020 kita akan mengalami resesi ekonomi global dengan tingkat keparahan lebih tinggi. Apa itu krisis ekonomi yang akan kita hadapi lantaran pandemi ini?

Penurunan penghasilan dunia pada tahun ini berjumlah sekitar USD 2,7 T dari kerugian global dari penghasilan USD 90 T ekonomi global.

“Sangat mungkin bahwa tahun ini ekonomi global akan mengalami resesi terburuk sejak krisis malaise pada masa Depresi Besar. Juga melebihi yang terjadi selama krisis keuangan global satu dekade lalu,” ujar Gita Gopinath, kepala ekonom IMF.

The great lockdown, diramalkan akan menyusutkan pertumbuhan ekonomi global secara dramatis,” tambahnya.

Baca juga: Hadapi Krisis Ekonomi COVID-19, Intip Strategi Jitu dari 5 Investor Dunia

Penangguhan utang oleh G7 dan pinjaman dana untuk atasi resesi ekonomi global

Tidak seperti pada resesi sebelumnya yang dimulai pada 2007 di AS dan mencapai titik terburuk pada 2009 di sebagian besar negara global, hampir tidak ada negara yang dapat lolos dari anjloknya ekonomi pada 2020 ini.

Bahkan pada kedalaman resesi ekonomi global sebelumnya, sekitar 40% negara terus mencatat pertumbuhan per kapita. Pada 2020, kurang dari 10% negara dapat menyaksikan pertumbuhan ekonomi terus berlanjut.

Meski selama berminggu-minggu ekonomi global memasuki penurunan parah, prospek baru memberikan perkiraan numerik dari tingkat keparahan krisis. Perkiraan ini menjadi sumber bagi IMF dan Bank Dunia dalam pembahasan mengenai pandemi.

Organisasi-organisasi internasional terbilang cukup lambat untuk menyatukan pandangan mereka terkait pendekatan terkoordinasi untuk menghadapi pandemi.

Sejauh ini, IMF dan Bank Dunia telah mendorong negara-negara kaya di dunia untuk sementara menangguhkan pembayaran utang dari negara-negara berpenghasilan rendah demi mengatasi pengaruh resesi ekonomi global.

Presiden Bank Dunia David Malpass memperkirakan proposal penanggungan utang ini akan membebaskan sekitar USD 14 M per tahun pembayaran pokok dan bunga.

Usulan ini disetujui oleh the Group of Seven alias G7; AS, Jepang, Jerman, Prancis, Inggris, kanada, dan Italia. Mereka akan mendukung penangguhan utang sejauh negara G20 memerlukannya. G20 mencakup China dan pasar negara berkembang utama.

Secara terpisah, IMF mengumumkan bahwa mereka akan menangguhkan pembayaran USD 500 juta, kesemuanya bagi 25 negara berpenghasilan rendah. Dana ini diperuntukkan menghadapi pandemi dan mendukung negara-negara dalam lockdown.

Baca juga: Jangan Panik, Ini 9 Cara Positif Atasi Resesi Ekonomi Akibat COVID-19

Prediksi IMF, ekonomi global akan mengalami rebound pada 2021

Bahkan negara-negara yang diperkirakan masih mengalami pertumbuhan ekonomi saat ini pun diperkirakan akan mengalami pengaruh dari resesi ekonomi global.

China, telah membuka kembali ekonominya setelah mengalami pandemi, lantas mengalami pandemi gelombang kedua. Perekonomian negara ini pun akan mencatatkan pertumbuhan terlemah mereka dalam beberapa dekade.

Padahal, IMF memprediksikan ekspansi ekonomi China semestinya dapat diperluas hingga 1,2% tahun ini, dibandingkan pertumbuhan 6,1% pada tahun lalu.

Sementara itu, ekonomi Amerika akan menyusut 5,9%, dua tingkat lebih parah dari penurunan 2,5% pada 2009. Kawasan euro akan lebih menderita akibat resesi ekonomi global ini. Perekonomian euro diprediksi menyusut 7,5% dibandingkan penurunan 4,5% pada 2009.

IMF sejauh ini memprediksikan bahwa ekonomi global kemungkinan baru akan pulih pada 2021. Dan bahkan dengan rebound pada 2021, perekonomian saat ini akan menjadi tahun-tahun paling lemah sejak setidaknya awal 1980-an.

“Seperti dalam perang atau krisis politik, ada ketidakpastian yang terus-menerus terkait durasi dan intensitas guncangan,” ujar Gopinath dalam menjelaskan situasi resesi ekonomi global ini.

Sumber: Wall Street Journal

Simak juga:

Demi Nawacita, Jokowi Kembangkan Tol Laut untuk Pengembangan Daerah Terpencil

Ini 7 Kostum Halloween Termahal di Dunia, Supreme Edition Iron Man Salah Satu Peringkat Teratas!

Berpenghasilan Lebih Besar dari Laki-laki, Ini Caranya jadi Wanita Karier Sukses!

Di Tengah Perang Dingin Teknologi AS-Tiongkok, 5G Huawei Optimis Akan Meledak di Pasar

Perbankan Terimpit Persaingan Fintech, OJK Dukung Merger Bank di Indonesia

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img