Rupiah Menguat, RI Dirasa Masih Perlu Perkuat Fundamental Ekonomi

Rupiah menguat signifikan 1,02% per hari ini (8/6) dengan kurs tengah BI atau kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) berada di posisi Rp13.956. Rupiah menguat artinya kepercayaan asing terhadap investasi di Indonesia pun menguat.

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan pelaku pasar merespons positif pembukaan ekonomi di berbagai negara. “Rencana new normal menjadi sentimen positif untuk penguatan rupiah karena ekonomi akan aktif kembali,” ujar Ariston (5/6).

rupiah menguat

Rupiah menguat artinya aset berisiko semakin diminati seiring pembukaan ekonomi di berbagai negara ini. Selain faktor rupiah menguat, investor asing juga tertarik berinvestasi di Indonesia karena tingkat suku bunga dan tingkat inflasi yang cenderung rendah.

Pasar saham global meningkat terutama sejak pekan lalu, bersamaan dengan negara-negara di seluruh dunia yang membuka kembali ekonomi mereka dan juga stimulus kepada perusahaan oleh bank-bank sentral dunia.

Paket-paket stimulus baru dan lebih besar setidaknya diumumkan oleh Bank Sentral Eropa (ECB) pada rapat 4 Juni lalu. ECB berkomitmen untuk program pembelian obligasi senilai USD 676 M, dan hal ini turut memacu sentimen positif perekonomian global.

Sementara itu, rencana stimulus tambahan di beberapa negara seperti AS dan Jepang juga mendukung para pelaku pasar. Investor perlu bersiap untuk memanfaatkan peluang profit taking.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Terealisasi 2,97% dari Target 5% di Q1 2020

Rupiah menjadi mata uang dengan penguatan tertinggi di Asia

Pada awal Juni ini, investor asing membeli saham lebih banyak Rp11,3 T daripada yang mereka jual bulan lalu. Ini mendorong kenaikan 4,9 persen di Jakarta Composite Index (JKSE) hingga Jumat (5/6).

Di pasar obligasi, dana sebanyak Rp13,86 T dipompakan ke obligasi pemerintah. Ini menekan benchmark imbal hasil obligasi pemerintah dengan tenor 10 tahun, yang bergerak sebaliknya, pada 5 Juni menjadi 7,11 persen dari 8,07 persen pada bulan sebelumnya.

Akibatnya, rupiah terapresiasi 7,5 persen dalam sebulan ke 13.877 terhadap USD pada Jumat. Rupiah menguat artinya ini menjadikan mata uang rupiah sebagai mata uang dengan penguatan paling tajam di kalangan negara-negara Asia.

Capaiannya hingga belasan persen dalam tempo kurang dari tiga bulan. Capaian ini terbilang hebat karena rupiah menjadi mata uang dengan penguatan paling tinggi di Asia.

Sejalan dengan itu, Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa per akhir Mei sebesar USD 130,5 M, naik dibandingkan bulan sebelumnya sebesar USD 127,9 M. Ini termasuk pencapaian tertinggi sejak awal tahun.

“Peningkatan cadangan devisa pada Mei 2020 terutama dipengaruhi oleh penarikan utang luar negeri pemerintah dan penempatan valas perbankan di Bank Indonesia. Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai, didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi yang tetap baik,” berdasarkan rilis keterangan tertulis BI.

Apresiasi rupiah di pasar spot beserta amannya ketersediaan cadangan devisa menunjukkan bahwa investor asing menaruh sentimen positif terhadap perekonomian Indonesia.

Pada situasi pra-COVID-19, mata uang rupiah merupakan mata uang berkinerja terbaik di Asia. Namun, wabah COVID-19 hingga Mei lalu sempat menggiring mata uang ini ke yang terburuk lantaran melemahnya perekonomian dalam 3 bulan terakhir.

Kini, bersamaan dengan kebijakan berbagai negara untuk menerapkan kebijakan new normal untuk ekonomi global, Indonesia kembali menjadi pemain terbaik di kawasan Asia.

Baca juga: Cemas Terjadi Resesi Akibat Pandemi, Investor Nilai Aset Emas Paling Menjanjikan

Rupiah menguat, pemerintah punya PR untuk tetap meyakinkan investor berada di pasar keuangan Indonesia

Krisis dalam beberapa bulan terakhir memvalidasi perihal volatilitas aset dan pengaruh besar faktor eksternal terhadap ekonomi Indonesia.

Rupiah sempat di titik 13.575 per dolar AS pada akhir Januari, menjadi 16.575 pada akhir Maret, titik terendah sejak 1998, hingga ke tingkat saat ini yang mendekati level pra-COVID-19.

Dukungan utama rupiah menguat ini adalah investor asing dan program pembelian obligasi Bank Indonesia. Sementara itu, terkait faktor fundamental, yaitu ekonomi domestik, terbilang masih lemah.

Produk domestik bruto (PDB) cenderung berkontraksi pada Q2, setelah tumbuh jauh lebih lambat dari perkiraan pemerintah dan konsensus ekonom di 2,97 persen, level terendah sejak 2001. Tingkat inflasi 2,19 persen pada Mei adalah yang terendah dalam hampir 20 tahun.

Bagaimanapun, COVID-19 masih merupakan pukulan berat terhadap daya beli masyarakat. Padahal, pengeluaran domestik menyumbang hampir 60 persen dari ekonomi negara.

Melihat potensi positif ini, pemerintah masih perlu meyakinkan investor untuk tetap berada di pasar keuangan Indonesia. Ini dapat dilakukan seiring dengan perbaikan fundamental dengan fokus pada peningkatan langkah-langkah mengatasi wabah COVID-19.

Kepercayaan masyarakat maupun investor asing terhadap kemampuan pemerintah dalam menangani kasus COVID-19 terbilang penting. Menurunkan tingkat kasus ataupun jumlah kematian baru akan memberi prospek lebih cerah pada rupiah yang seiring menguat.

Ini tentu perlu dilakukan seiring dengan percepatan pengujian dan penelusuran COVID-19, stimulus yang bertanggung jawab bagi para tenaga kesehatan. Begitu pula program jaring pengaman sosial dan paket penyelamatan bagi UMKM. Hal-hal positif ini akan bantu meningkatkan kredibilitas anggaran negara di mata dunia.

Sumber: Kontan, CNBC Indonesia, The Jakarta Post

Simak juga:

Pengin Bikin Start-up? Ini 5 Strategi Awal yang Harus Kamu Ketahui

Tetap Bisa Traveling Saat Kantong Tipis dengan 9 Trik Ini!

Menyulap Hobi Menjadi Bisnis dengan 7 Trik Andalan Ini!

Mau Financially-Savvy? Dengerin 7 Podcast Spotify Keuangan Ini, yuk!

Mau Cuan Investasi Saham untuk Pemula? Intip Dulu Panduannya di Sini!

Recent Articles

Related Stories