Currently set to Index
Currently set to Follow

JPMorgan: S&P 500 Bisa Tumbuh 12% di 2021

Menjalani sisa bulan di tahun 2021, indeks pasar saham yang berisi 500 perusahaan beraset jumbo di Amerika Serikat, S&P 500, diramal masih memiliki ruang pertumbuhan yang cukup tinggi. Bahkan, nilainya diprediksi mampu mencapai angka 12%, menurut analisis JPMorgan.

Memang, pada Rabu (24/3), indeks saham S&P 500 ditutup melemah 0,55% ke angka 3.889 dibandingkan sesi perdagangan sebelumnya. Namun, JPMorgan percaya bahwa indeks S&P 500 bisa mencapai angka 4.400 di akhir tahun ini.

Kepala Global Strategi Pasar JP Morgan Marko Kolanovic mengatakan, optimisme tersebut mencuat lantaran timbulnya kembali pemulihan ekonomi di Amerika Serikat menjelan musim panas mendatang.

Tak hanya itu, ia juga mengatakan bahwa penurunan imbal hasil obligasi AS akan menjadi katalis positif bagi pergerakan indeks saham ini nantinya.

Dalam sebulan belakangan, kenaikan tingkat imbal hasil obligasi AS menjadi momok bagi pasar saham AS. Sebab, kondisi tersebut mengubah selera risiko investor untuk melepas aset berisiko, seperti saham, dan mulai menggenggam surat utang AS yang lagi moncer-moncernya.

Puncaknya adalah pekan lalu, di mana indeks pasar saham AS oleng akibat kenaikan tingkat imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun yang mencapai 1,7%. Salah satunya adalah indeks Nasdaq yang melorot sebanyak 3%.

Namun, Kolanovic menilai bahwa tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS tidak memperlihatkan potensi kenaikan mencapai 1,75% dalam beberapa waktu mendatang.

Sejatinya, tingkat imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun sudah mulai menunjukkan pelemahan di pekan ini. Berdasarkan data World Government Bonds, imbal hasil US Treasury 10-Tahun pada perdagangan (25/3) waktu setempat, berada di angka 1,617%.

“Kita sedang berada di akhir bulan dan akhir triwulan I, di mana akan terjadi banyak ketidakseimbangan pasar di pasar obligasi,” jelas Kolanovic.

Indikator lainnya yang akan membuat Indeks S&P 500 melejit adalah pernyataan The Fed yang memastikan bahwa inflasi tidak akan melejit setelah pemerintah AS melempar stimulus fiskal sebesar US$1,9 triliun pada bulan ini. Sehingga, selera investor masih akan tetap nyaman berada di pasar modal, salah satu aset berisiko.

Padahal sebelumnya, pasar modal sempat waswas bahwa tingkat inflasi kemungkinan bisa terjadi lebih cepat. Sehingga, The Fed akan mempercepat kenaikan tingkat suku bunga acuannya.

Baca juga: Setelah Obligasi, Kini Harga Emas Digeruduk Dolar AS

JPMorgan: S&P 500 Bisa Tumbuh 12% di 2021, Pluang

Obligasi Pemerintah Sempat Menjadi Ancaman Pasar Saham Amerika Serikat

Sebelumnya pada Februari lalu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun sempat membuat pasar saham kelabakan. Pasalnya, salah satu instrumen investasi yang kerap dijauhi lantaran rendahnya tingkat keuntungan itu mulai memperlihatkan kekuatannya.

Awalnya, imbal hasil obligasi tersebut melesat 16 basis poin menjadi 1,614% di Februari, yang menjadi kenaikan tertinggi dalam setahun belakangan. Alhasil, sepanjang bulan Februari, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun telah meningkat 35 basis poin.

Kenaikan itu didorong oleh ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dan ekspektasi investor bahwa inflasi akan meningkat. Meski menunjukkan sinyal ekonomi yang positif, nyatanya pertumbuhan imbal hasil obligasi ini bikin investor memalingkan mata dari pasar saham, termasuk indeks S&P 500.

Sebab, investor tentu akan beralih ke aset default-free ini mengingat tingkat keuntungannya lebih tinggi dari hasil pembayaran dividen S&P 500 yang sebesar 1,43%.

Kemudian, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga membuat investor kakap mulai mengatur ulang potofolio investasinya di dalam obligasi. Sebab, dengan tingkat risiko yang lebih rendah dibanding saham, imbal hasil yang diberikan bisa lebih tinggi secara tahunan dibanding dividen.

Namun, pernyataan dari Ketua The Fed Jerome Powell yang mengatakan akan menaikkan suku bunga yang lebih tinggi dalam waktu dekat membuat pasar riuh dan kembali bergairah.

Sentimen positif pun tercipta, karena untuk pertama kalinya The Dow Jones Industrial Average ditutup diatas level 33.000. Sementara itu, indeks S&P 500 juga menuai buah manis dari pernyataan yang dimaksud.

Kepala Perdagangan Suku Bunga AmeriVet Securities, Gregory Faranello mengungkapkan tingkat suku bunga AS memainkan peran penting untuk mendorong lebih tinggi lagi pertumbuhan imbal hasil aset berisiko di seluruh kelas aset.

Kemudian, jika saham-saham perusahaan Amerika Serikat mengalami kenaikan dividennya, maka bukan tidak mungkin dividen pasar saham, termasuk S&P 500, akan kembali mengungguli imbal hasil atas Obligasi Pemerintah yang sedang naik daun.

“Kenaikan yang berkelanjutan dalam suku bunga AS secara jangka panjang akan menyesuaikan kembali proposisi nilai saham di beberapa titik,” ungkapnya.

Baca juga: Apa Itu Obligasi Pemerintah?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Market Insider, CNBC

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img