Artikel Sentuh Rekor Rp32.500 per Saham, BCA Cuan Hingga 21,58% dalam Setahun

Sentuh Rekor Rp32.500 per Saham, BCA Cuan Hingga 21,58% dalam Setahun

Saham BBCA hari ini sentuh rekor baru. Dan seandainya kamu beli saham itu tahun lalu, tentu laba yang akan kamu peroleh meluber banyaknya. Saat penutupan pasar perdagangan pada Selasa (17/12) saja, saham BBCA persis dijual di harga penutupan Rp32.500 per saham.

Harga tersebut adalah harga tertinggi sejak saham bank ini diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Harga ini naik Rp700 per saham dalam sehari. Pada Senin (16/12), harga saham BBCA masih Rp31.800.

saham BBCA hari ini
Source: Wikimedia Commons

Berdasarkan data BEI, total nilai transaksi saham BBCA hari ini telah capai Rp662 M dengan volume saham BBCA yang ditransaksikan hingga 205.829 lot.

Dengan laba bersih per saham Rp1.131, price to earning ratio (P/ER) alias rasio saham terhadap laba bersih sebesar 28,74 kali.

Ini diikuti price to book value (P/BV) alias rasio saham terhadap nilai buku per saham sebanyak 4,77 kali.

Adapun, penambahan nilai kepemilikan asing atas saham ini juga meningkat. Data RTI, layanan data di pasar modal, tunjukkan hari ini transaksi bersih (net buy) asing capai Rp65.371 M, lebih besar ketimbang hari sebelumnya (Rp61,62 M).

Baca juga: Ini Alasan Kenapa Kamu Perlu Investasikan Danamu di Saham Blue Chip

Di antara tiga bank besar di Indonesia, laba bersih dan saham BBCA paling tinggi

Naiknya harga saham BBCA memang ikut tentukan valuasi perusahaan yang ditandai dengan rasio harga saham per nilai buku (P/BV) tahun berjalan berada pada 4,58 kali, tertinggi dibandingkan median P/BV emiten sejenis 1,15 kali.

Bersamaan dengan perkembangan ini, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) resmi mengakuisisi saham PT Bank Rabobank International Indonesia (Rabobank Indonesia) dari Grup Rabobank.

Tujuannya adalah untuk dukung program Arsitektur Perbankan Indonesia (API) dan strategi untuk mengembangkan anak usaha. Akuisisi ini tunjukkan kekuatan BCA dalam bidik saham perbankan lain.

Pada kuartal-III 2019, laba BCA naik hingga 13% year on year jadi Rp20,9 T. Ini didukung oleh pencapaian kinerja operasional yang solid.

BCA juga tunjukkan pertumbuhan kredit di berbagai segmen, serta membukukan peningkatan dana CASA (current account saving account).

Kepercayaan nasabah pada layanan BCA dukung pencapaian kinerja bisnis ini secara berkelanjutan.

Dengan rasio kredit macet (NPL) pada level 1,6 persen per September 2019. Sementara itu, kredit meningkat didukung segmen bisnis, kredit korporasi alami pertumbuhan 16,5 persen (yoy) dan kredit komersial dan UMKM tumbuh 10,5 persen (yoy).

Pada segmen konsumen, kredit pemilikan rumah tumbuh 6,8 persen (yoy) sementara kredit pemilikan kendaraan bermotor (KKB) tumbuh negatif 2 persen (yoy).

Untuk saldo pinjaman kartu kredit, tumbuh 10,4 persen (yoy) dan pembiayaan syariah tumbuh 5,9% (yoy).

Baca juga: Rencana Penghapusan “Saham Gocap” pada 2020, Kalian Setuju Nggak Sih?

Investor asing lebih banyak beli saham BBCA di pasar negosiasi

Dengan harganya yang tinggi di pasar saham, saham BBCA masih jadi buruan investor asing hari ini.

Sepanjang perdagangan awal Desember 2019, RTI catat nilai pembelian bersih asing terhadap saham BBCA capai hingga Rp209,45 M.

Pada perdagangan di pasar negosiasi ini, broker CLSA Sekuritas Indonesia (KZ) tercatat sebagai broker pembeli maupun penjual terbesar saham BBCA baik secara volume maupun nilainya.

Peringkat kedua ditempati oleh UBS Sekuritas Indonesia (AK), selanjutnya oleh Macquarie Sekuritas Indonesia (RX) pada peringkat ketiga.

Selain cetak rekor harga saham tertinggi, saham BBCA dukung penguatan IIHSG. Pada awal Desember, penguatan IHSG sebesar 1,96% menjadi yang tertinggi setidaknya sejak Desember 2018.

Penguatan IHSG ini ikut membuatnya jadi indeks acuan domestik dengan penguatan terbesar di Asia dan memberi gelar Raja Asia atas kenaikan indeks ini.

Sumber: Kontan, Kontan, CNBC Indonesia, Kompas, Kontan, Kontan

Simak juga:

Tetap Cuan dengan Menabung Emas Online Kekinian, Bagaimana Caranya?

Menikah VS Beli Rumah, Mana yang Harus Didahulukan?

Naik Hanya 8,51%, Ini Alasan Serikat Buruh Tolak Kenaikan Upah Buruh yang Kecil

Di Tengah Perang Dingin Teknologi AS-Tiongkok, 5G Huawei Optimis Akan Meledak di Pasar

Perbankan Terimpit Persaingan Fintech, OJK Dukung Merger Bank di Indonesia

Artikel Terbaru