Currently set to Index
Currently set to Follow

Saham Google Akan Naik 22% Tahun Ini? Ini Dia Sentimen Positifnya!

Tahun 2021 memang baru menginjak bulan ketiga. Namun, banyak analis kini mulai memperhatikan perkembangan saham empat raksasa teknologi Amerika Serikat, yakni Google (yang berada di bawah naungan perusahaan induk Alphabet), Facebook, Amazon, dan Netflix atau biasa disingkat FANG.

Sebab, keempat perusahaan ini menyumbang bobot hampir 18% di indeks saham S&P 500. Sehingga, pergerakan indeks ini ke depan akan sangat bergantung dengan kejutan-kejutan yang ditorehkan perusahaan ini.

Di antara seluruh saham tersebut, investor nampaknya yakin bahwa saham Alphabet akan memiliki kinerja terbaik. Data yang dihimpun Investor’s Business Daily dan S&P Global Market Intelligence bahkan menaksir harga saham Alphabet akan tumbuh 22,8% di akhir tahun nanti.

Prediksi tersebut tentu saja didukung oleh beberapa sentimen. Lantas, apa saja sentimen tersebut?

Baca juga: Q1 2020, Pendapatan Google Turun, Jauh dari Perkiraan Para Analis

Saham Google Akan Naik 22% Tahun Ini? Ini Dia Sentimen Positifnya!, Pluang

Sentimen Fundamental Saham Google

#1 Bisnis Komputasi Awan

Memang, dalam paparan kinerja kuartal IV 2020 yang diumumkan bulan lalu, CEO Alphabet Sundar Pichai mengatakan bahwa bisnis komputasi awannya masih didera kerugian sebesar US$5,6 miliar. Padahal, Google sudah meningkatkan belanja modal secara jor-joran di lini bisnis ini, yang sebagian besar digunakan untuk membayar staf pemasaran dan membangun infrastruktur datanya.

Tetapi, analis Bank of America Justin Post mengatakan bahwa lini bisnis komputasi awan masih bisa mendatangkan margin yang cukup cuan bagi perusahaan tersebut. Prediksi tersebut terjadi di tengah persaingan ketat bisnis komputasi awan, yang selama ini didominasi oleh Microsoft dan Amazon.

“Kami pikir, bisnis komputasi awan ini sudah mengarahkan Google ke arah margin yang benar dengan potensi keuntungan mencapai US$10 miliar dalam 10 tahun mendatang,” jelas Post.

#2 Program Buyback Saham

Tak hanya itu, sentimen lain yang mesti dipertimbangkan adalah konsistensi Alphabet dalam menjalankan program pembelian kembali (repurchase) sahamnya, yang ternyata berdampak pada peningkatan imbal hasil per lembar sahamnya (Earning per Share).

Adapun hingga kuartal IV lalu, Alphabet telah melakukan buyback saham senilai US$23,7 miliar dan berencana membeli kembali sahamnya lagi senilai US$15,4 miliar.

#3 Pendapatan Iklan

Bersama dengan Facebook, Google mendominasi pasar iklan digital. Hal ini akan tetap bertahan meski Google lambat laun mulai memfokuskan bisnisnya ke komputasi awan.

Salah satu penopangnya adalah pelanggan layanan streaming YouTube. Bank of America memprediksi bahwa subscribers premium YouTube akan mendatangkan keuntungan US$18 miliar di 2025, atau naik dari US$5 miliar di 2020. Melonjaknya subscribers tentu akan bikin perusahaan besar mengalihkan biaya iklannya dari televisi ke platform digital.

Hingga September 2020, YouTube tercatat memiliki 30 juta pelanggan premium. Adapun di tahun lalu, penerimaan dari iklan Youtube bertumbuh 23% secara tahunan ke US$6,88 miliar, atau lebih tinggi dibanding prakiraan sebelumnya yakni US$6,15 miliar.

Baca juga: Di Tengah Perang Dingin Teknologi AS-Tiongkok, 5G Huawei Optimis Akan Meledak di Pasar

Hal-Hal yang Menghambat Performa Saham Google

Meski demikian, terdapat pula hambatan-hambatan yang akan merintangi Google untuk membukukan performa terbaiknya tahun ini. Hambatan tersebut adalah sebagai berikut:

#1 Kasus Persaingan Usaha Tidak Sehat dan Regulasi AS

Pada Oktober 2020 lalu, Departemen Kehakiman AS mengajukan gugatan persaingan usaha tidak sehat terhadap Google. Lembaga tersebut menuduh raksasa teknologi ini sudah merusak kompetisi dengan memonopoli peramban dan periklanan berbasis pencarian.

Jika Departemen Kehakiman AS memenangkan gugatan tersebut, maka Google perlu merustrukturisasi perusahaannya. Pertarungan hukum ini diprediksi bisa berlanjut selama bertahun-tahun.

Di samping gugatan ihwal persaingan usaha tidak sehat, kongres AS mungkin akan mengganti Seksi 230 dari Undang-Undang Kepatutan Komunikasi AS dengan harapan untuk mengatur raksasa teknologi.

#2 Bisnis Waymo dan Masa Depannya yang Belum Jelas

Investor juga tentu akan bertanya-tanya mengenai nasib Waymo, sebuah proyek mobil swa kemudi yang digagas oleh Google. Padahal, pada 2018 lalu, beberapa analis memprediksi bahwa valuasi proyek ini di jangka panjang bisa sekitar US$75 miliar hingga US$125 miliar.

#3 Pertarungan Ponsel 5G

Pertanyaan lainnya soal kinerja Google di masa depan adalah kesuksesan bisnis piranti kasarnya melawan ponsel pintar iPhone milik Apple. Terutama, setelah Google meluncurkan ponsel pintar Pixel terbaru yang mendukung jaringan 5G, yang waktu peluncurannya hampir berbarengan dengan iPhone 5G.

Baca juga: Jeff Bezos Mundur dari Jabatan CEO Amazon

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Investor’s Business Daily

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img