Currently set to Index
Currently set to Follow

Hempas-Hempas Properti Bodong! Ini 10 Tips Membeli Rumah dari Developer!

Apakah kalian sudah siap membeli rumah dan sedang mencari tips beli rumah? Mengumpulkan informasi tentang tips membeli rumah bisa menjadi langkah pertama yang dilakukan.

Ada banyak faktor yang harus diperhitungkan dalam membeli rumah. Tapi, yang paling utama tentu saja persiapan keuangannya. Hal tersebut adalah tips membeli rumah yang paling esensial.

Di sini, kamu perlu mengevaluasi pasar real estat lokal, prospek ekonomi, dan menghitung implikasi lamanya tenor kredit rumah terhadap kesehatan finansial kamu nantinya. Kamu pun perlu memperhitungkan rasio utang terhadap pendapatan (debt-to-income ratio) sebelum mengajukan mendapatkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Nah, yang tak kalah penting, kamu juga perlu mempertimbangkan gaya hidup sekarang dan masa depan.

Setelah itu, tips kedua yang perlu dilakukan sebelum membeli rumah adalah memilih rumah idaman kamu.

Seiring dengan perkembangan zaman, banyak developer properti yang menjamur dan menawarkan rumah di sana-sini. Tentu saja, masing-masing dari mereka memiliki kekurangan dan kelebihannya. Namun, bagaimana cara memilih developer yang baik bagi hunian impian kamu?

Baca juga: 3 Jenis Modal Usaha, Dasar-dasar Financing Bisnis untuk Pemula

Hempas-Hempas Properti Bodong! Ini 10 Tips Membeli Rumah dari Developer!, Pluang

Kenali Prosedur Membeli Rumah Langsung di Developer

Sebelum melangkah ke tips membeli rumah dari developer, ada baiknya kamu memahami bagaimana proses jual beli rumah yang umumnya dilakukan oleh pengembang. Adapun, proses beli rumah di developer intinya adalah seperti di bawah ini:

  • Memilih rumah dari developer.
  • Membayar Booking Fee atau DP sebagai tanda jadi.
  • Mengajukan KPR (Kredit Perumahan Rakyat) dan memperoleh persetujuan kredit dari bank. Developer tidak akan membangun rumah sebelum mendapatkan kejelasan KPR. Namun, langkah ini bisa dilewati jika membeli rumah dengan tunai.
  • Menandatangani Perjanjian Jual Beli (PPJB) dengan developer. Sangat direkomendasikan untuk membaca PPJB terlebih dahulu, terutama bagian proses balik nama sertifikat karena sampai langkah ini status rumah masih PPJB.
  • Pembangunan rumah selesai dan bangunan siap ditempati.
  • Proses pemecahan sertifikat HGB (Hak Guna Bangunan) oleh developer. Proses ini mesti dilakukan terlebih dahulu sebelum balik nama sertifikat.
  • Akta Jual Beli (AJB) dengan notaris.
  • Proses balik nama sertifikat HGB ke pembeli.
  • Meningkatkan status sertifikat menjadi Sertifikat Hak Milik (SHM).

Tips Membeli Rumah dari Developer

Setelah paham mengenai rangkaian prosesnya, kini kamu perlu mengetahui rambu-rambu yang harus diperhatikan di dalam setiap prosedurnya.  Ingat, kamu sudah banting tulang cari uang untuk memiliki hunian impian. Maka, kamu pun harus cekatan di dalam setiap prosedur pembelian rumahnya.

#1 Fokus ke Reputasi Developer

Developer terpercaya adalah kunci. Ada beberapa hal untuk mengukur reputasi developer, mulai dari izin peruntukan tanah; tersedianya prasarana; kondisi tanah matang; minimal sertifikat SHGB atau HGB Induk atas nama developer; dan IMB Induk.

Asosiasi pengembang properti Real Estat Indonesia (REI) menyebut, mereka mewajibkan developer “beneran” untuk bersedia membuktikan sertifikat izin lokasi dan kepemilikan lahannya kepada konsumen jika diminta. Kalau kamu memilih-milih rumah di sebuah pameran, biasanya salinan sertifikat ini juga mereka pajang di sana.

Nah, kalau mereka menolak menyerahkan sertifikat tersebut, bisa jadi itu indikasi developer properti bodong! Kalau kamu curiga, kamu bisa lapor ke Dewan Pimpinan Daerah (DPD) REI setempat.

#2 Sertifikat Harus atas Nama Pembeli

Ada beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk mengubah sertifikat dari developer ke nama pembeli. Dampaknya, penjual sulit untuk take-over credit atas penjualan rumah. Sehingga, pembeli harus memastikan kapan sertifikat bisa beralih menjadi atas nama pembeli.

#3 Bayar DP Setelah KPR Disetujui

Kerja sama antara developer dan bank tidak menjamin pengajuan KPR, lho. Bank juga perlu mengevaluasi kemampuan keuangan pembeli untuk memastikan kelancaran cicilan. Makanya, jangan pernah bayar uang muka sepeser pun dan atas alasan apa pun ke developer jika belum mendapat persetujuan KPR.

#4 Take-over KPR Tidak Bisa Dilakukan Sebelum Proses Balik Nama

Dalam proses pengajuan take-over, bank akan meminta sertifikat atas nama pihak yang mengajukan kredit. Namun, ada beberapa bank yang bersedia membantu take-over meski belum ada proses balik nama. Jadi, pastikan proses balik nama selesai dulu, ya!

#5 Siap-Siap Mental Lantaran Pembangunan Rumah Lebih Lama

Membangun rumah lewat developer tidak selalu memuaskan. Ada kemungkinan rumah tidak jadi atau terjadi terlambat. Ada juga kasus di mana rumah jadi namun tidak sesuai dengan spesifikasi standar yang dijanjikan. Tapi, apa bisa kamu menuntut developer karena hal ini? Bisa saja! Makanya, simak terus tips ini ya.

#6 Tips Membeli Rumah – Kenali Kewajiban Developer Jika Wanprestasi

Membaca dengan teliti PPJB sebelum menandatangani berita acara serah terima rumah bisa menjadi tips membeli rumah paling krusial. Sehingga, pembeli bisa meneliti ulang apakah pembangunan rumah sudah dengan perjanjian tersebut.

Tapi, ketika perjanjian jual beli tidak dipatuhi developer, kamu bisa menuntutnya secara hukum, lho!

Langkah paling awal bagi kamu adalah memastikan bahwa kamu benar-benar tidak bersalah. Yakni, dengan memeriksa kembali klausul yang terdapat di dokumen PPJB antara pengembang dan konsumen.

Biasanya di dalam PPJB, terdapat kewajiban yang perlu dilakukan oleh kamu dan ada pula kewajiban yang harus dilakukan pengembang. Jika kamu sudah melaksanakan isi PPJB secara taat, maka kamu bisa melawan pengembang nakal.

Tapi, kamu disarankan jangan langsung melayangkan gugatan hukum terlebih dulu. Ada baiknya kamu memberikan somasi bagi developer yang lalai menunaikan tugasnya.

Jika somasi tak diindahkan pengembang, baru kamu bisa melakukan tindakan hukum. Dalam hal ini, konsumen bisa memilih tiga gugatan, yakni perdata, pidana, atau diselesaikan melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK).

Kamu bisa menyelesaikan kasusnya secara perdata dengan dalih wanprestasi PPJB. Namun, jika kamu menganggap wanprestrasi developer sudah keterlaluan dan ingin melanjutkan kasusnya di ranah pidana, kamu bisa menggugat pengembang atas dugaan pelanggaran UU Perumahan atau UU Konsumen.

Di dalam pasal 8 ayat (1) huruf f Undang-Undang (UU) Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa yang tidak sesuai dengan janji yang dinyatakan dalam label, etiket, keterangan, iklan, atau promosi penjualan barang dan/atau jasa tersebut.

Kamu juga bisa menggugat pengembang jika tidak memberikan perumahan yang tidak sesuai dengan kriteria, spesifikasi dan persyaratan yang diperjanjikan, yang diatur di dalam pasal 134 UU Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman.

Baca juga: Orang-Orang Ini Tajir Berkat Bitcoin. Siapa Saja?

#7 Lakukan AJB Setelah Rumah Jadi

Status PPJB harus dialihkan menjadi Akta Jual Beli (AJB) ketika rumah sudah jadi, di mana hal tersebut sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 09/KPTS/M/1995 tentang Pedoman Pengikatan Jual Beli Rumah mengatur hal ini.

#8 Urus Status SHM Sesegera Mungkin

Pembeli akan mendapatkan SHBG setelah melakukan AJB. Namun, SHBG hanya berlaku 30 tahun dan maksimal pemberlakuan HGB selama 50 tahun. Sehingga, pembeli perlu mengurus SHM untuk memastikan status rumah dan tanahnya. Keputusan Menteri Negara Agraria/Kepala badan Pertanahan Nasional No. 6 Tahun 1998 menjadi acuan atas ketetapan tersebut

#9 Teliti IMB Perumahan

Izin Mendirikan Bangunan (IMB) menjadi faktor penting yang harus diperhatikan. UU 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung mengatur tentang persyaratan IMB. Nah, kamu perlu mengacu ke aturan ini, ya. Ingat, kamu pun harus aktif sebagai konsumen!

#10 Tips Membeli Rumah – Hindari Transaksi Jual Beli Rumah Bawah Tangan

Transaksi bawah tangan biasanya terjadi atas asas saling percaya dan menggunakan kuitansi sebagai tanda jadi. Namun, bank tidak mengakui transaksi seperti demikian. Dengan kata lain, transaksi bawah tangan tidak aman dilakukan. Ingat betul-betul tips beli rumah ini agar kamu tidak tertipu, ya!

Baca juga: Catat! Ini 4 Pertanyaan Dasar untuk Tentukan Strategi Investasi

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Investopedia, Duwitmu, CNN Indonesia

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img