Tren Borong Saham Anak Muda, Incar Saham Undervalued Saat Ekonomi Rebound

Pasar saham sempat terpukul lantaran pandemi COVID-19 sebelum cenderung menguat pada awal Juni ini. Banyak milenial sempat memanfaatkan kondisi jatuhnya harga saham tersebut untuk belajar main saham.

Sebelum pandemi, pada 2019 PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat total investor sebanyak 2,47 juta pemodal. Sebanyak 44,62 persen adalah investor milenial yang berusia 30 tahun ke bawah.

Karena itu, BEI optimis potensi milenial yang masuk ke pasar modal ini, “Kita secara rutin melakukan sosialisasi edukasi kepada kaum milenial,” tutur Direktur Utama BEI Inarno pada Desember 2019 lalu.

Saat pandemi, milenial lebih intens belajar main saham. IHSG dan pasar saham global memang memerah, tapi ini menjadi kesempatan mereka membeli saham dengan harga terjangkau.

Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Tapi juga berlaku secara global. Sebagian besar platform trading saham online melihat lonjakan permintaan dalam beberapa bukan terakhir karena investor berusaha mengambil keuntungan dari ekuitas yang undervalued.

Aplikasi investasi Robinhood, misalnya, melihat “rekor” pada Q1 2020, dengan perdagangan harian naik 300% dibandingkan akhir 2019. Sementara, eToro dan Raging Bull Trading melihat lonjakan permintaan masing-masing 220% dan 158% selama periode yang sama.

Baca juga: BoA Prediksi Harga Emas Bisa Capai Rp1,5 Juta Tahun Ini! Kok Bisa?

Anak muda mulai masuk pasar saham, perlu pertimbangkan diversifikasi investasi

belajar main saham

Bahkan ini terjadi ketika tingkat keparahan pandemi dan implikasinya terhadap pasar mulai kelihatan pada Maret 2020. Platform online Wealthsimple Trade mencatat lonjakan hingga 54% pada pengguna baru dan 43% peningkatan dalam total perdagangan.

Sejauh ini, hingga 7.000 pengguna baru tercatat setiap pekannya. Banyak dari pengguna baru itu adalah investor muda atau bahkan pemula di pasar saham.

Lebih dari setengah (55%) pengguna baru Wealthsimple berusia 34 tahun ke bawah. Menurut pendiri Raging Bull Trading, Jeff Bishop, generasi milenial saat ini memang mencari peluang baru untuk mendapatkan cuan ekstra.

“Banyak orang di rumah dan punya lebih banyak waktu dari biasanya, jadi banyak dari mereka yang justru kehilangan pekerjaan mulai mencari peluang baru,” ujar Bishop.

Menurutnya, para investor muda di pasar saham ini sedang mencari cara untuk “memperoleh pendapatan” dari berinvestasi.

Karena itu, mereka benar-benar mengincar saham-saham dengan harga undervalued yang harganya kemungkinan akan melonjak lagi ketika pasar saham telah pulih.

Apalagi, merebaknya platform investasi online membuat ini lebih mudah dari sebelumnya bagi anak-anak muda ini untuk membeli saham di pasar saham.

Meski, ini bisa jadi urusan yang berisiko bagi mereka jika tidak mendiversifikasikan investasi. Mereka perlu memahami ada banyak ekuitas yang dapat diambil, seperti dana indeks yang dikelola secara pasif atau ETF, yang menyediakan akses ke berbagai sektor saham.

“Investor harus selalu mempertimbangkan investasi mereka berdasarkan regional emiten, sektor saham, dan kelas asetnya,” jelas Joel Carpenter, direktur divisi pemasaran di St James’ Place Wealth Management.

Baca juga: Harga Emas Diprediksi Naik Hingga Rp900.000 di Tahun 2020, Mungkinkah?

Investor muda belajar main saham dari perusahaan yang diperkirakan akan oversold saat ekonomi rebound

Penurunan harga aset (undervalued) selama musim pandemi ini memang menjadi waktu yang tepat. Bagi anak muda atau investor pemula, ini jadi kesempatan membeli saham perusahaan dengan fundamental yang kuat dari pasar saham.

“Biasanya, ketika kamu melihat penurunan seperti ini, pengembalian saham yang diharapkan akan naik ketika pasar saham telah pulih,” ujar Ben Reeves, kepala investasi di Wealthsimple.

“Kami melihat perubahan dramatis dalam harga beberapa saham paling populer, dan investor mencoba memanfaatkannya,” imbuhnya.

Secara khusus, grafik pembelian di pasar saham selama musim pandemi menunjukkan bahwa investor tertarik pada saham yang berkembang di sektor terbilang baru. Di antaranya sektor telekomunikasi, farmasi dan hiburan, serta yang mereka yakini akan “oversold” kelak ketika pasar telah membaik.

Perusahaan yang paling banyak diperdagangkan di Robinhood, Raging Bull Trading, eToro, dan Wealthsimple memang masuk ke sektor tersebut.

Di antaranya saham dari Apple, Disney, Microsoft, American Airlines, Boeing, Carnival, Tesla, Air Canada, Aurora Cannabis, Netflix, Amazon, dan Toronto Dominion Bank.

Menurut pakar investasi CNBC, Jim Cramer, daftar tersebut “memang tidak sempurna, tapi sangat bagus untuk pijakan spekulasi bagi investor baru.”

Sumber: CNBC

Simak juga:

9 Rekomendasi Buku Keuangan Terbaik Ini Dijamin Bikin Kamu ‘Melek’ Finansial

Laundromat, Film Netflix yang Bongkar Pengaruh Panama Papers pada Hidup Orang Kaya

Mencoba Peruntungan di 7 Negara dengan Gaji Tertinggi di Dunia, Minat?

Investasi di Perfilman Indonesia dengan Patuangan Rp10.000 Aja, Mau?

Perusahaan Start Up Ramai Pilih Co-Working Space, Apa Alasannya?

Recent Articles

fixed exchange rate adalah

Apa Itu Fixed Exchange Rate?

Retained Earnings adalah

Apa Itu Retained Earnings?

Personal Finance adalah

Apa Itu Personal Finance?

contoh gantt chart

Apa Itu Gantt Chart?

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel lainnya