fbpx
Artikel Q1 2020, Pendapatan Google Turun, Jauh dari Perkiraan Para Analis

Q1 2020, Pendapatan Google Turun, Jauh dari Perkiraan Para Analis

Dalam laporan keuangan perusahaan yang dirilis pada kuartal pertama 28 April 2020, pendapatan google dilaporkan mengalami penurunan drastis, jauh dari perkiraan para analis.

Ruth Porat, CEO dari Alphabet, induk perusahaan yang menaungi Google menyatakan penurunan pendapatan google ini karena adanya penurunan signifikan dalam pendapatan (revenue) iklan.

pendapatan google

Dilaporkan dalam laporan keuangan perusahaan Alphabet bahwa Earnings Per Share (EPS) hanya mencapai USD 9,87, jauh dari perkiraan analis yang memperkirakannya sebanyak USD 14,30. Pendapatan google berupa revenue juga hanya mencapai USD 36,3 M dari perkiraan USD 41,1 M.

Ruth Porat mengungkapkan bahwa pertumbuhan Alphabet dalam klik berbayar (paid clicks) jauh lebih kecil dari yang diharapkan.

Pendapatan google juga menurun menurun drastis karena penurunan biaya-per-klik (cost-per-clicks) juga jauh lebih sedikit dari yang diharapkan. Padahal kedua metrik tersebut yang menentukan seberapa besar kepercayaan investor dan pengiklan pada Google.

Baca juga: Larry Page & Sergey Brin Pensiun, Percayakan Kepemimpinan Google pada Sundar Pichai

Faktor yang menyebabkan penurunan pendapatan google

Alphabet Inc. merupakan induk dari raksasa pencarian Google. Ia adalah salah satu dari sekelompok perusahaan besar terpilih yang dapat mengambil manfaat dari resesi global yang dipicu oleh pandemi COVID-19.

Ini karena meledaknya lalu lintas (traffic) internet ketika jutaan orang di seluruh dunia berada di rumah, lalu lintas Google melonjak di bidang-bidang utama.

Investor akan fokus dengan sungguh-sungguh pada peluang—dan risiko—yang dihadapi Alphabet. Terutama ketika melaporkan laporan keuangan perusahaan pada 28 April 2020 untuk kuartal pertama 2020. Analis mengharapkan pertumbuhan yang kuat di Earnings Per Share (EPS) dan klik berbayar (paid clicks), bahkan ketika pendapatan melambat.

Investor akan melihat dengan cermat kinerja dua metrik utama: klik berbayar (paid clicks), yang mengukur lalu lintas online; dan biaya per klik (cost-per-clicks), yang mengukur berapa banyak uang yang didapat perusahaan per klik.

Sebagai sebuah perusahaan internet, Google sangat bergantung pada besaran paid clicks dan cost-per-clicks yang diperoleh. Menurunnya perolehan kedua metrik itu disinyalir para analis sebagai penyebab penurunan pendapatan google.

Faktor lain pemicu turunnya pendapatan google adalah saham perusahaan yang mulai runtuh bersama dengan sisa pasar pada paruh kedua Februari karena meningkatnya kekhawatiran tentang penyebaran COVID-19.

Saham telah rebound sedikit, tetapi masih jauh di bawah nilai tertinggi sepanjang masa, dan nilai pasar perusahaan masih di bawah tanda USD1 T. Rebound juga dapat terputus-putus jika hasil pendapatan mendatang gagal memenuhi harapan.

Analis memperkirakan Earnings Per Share (EPS) Alphabet tumbuh hanya sebesar 20.2% dan revenue alias pendapatan google hanya sebesar 13.0% pada kuartal pertama 2020. Ini merupakan pertumbuhan terlambat sejak tiga tahun terakhir.

Baca juga: Ini 5 Fitur Andalan Google yang Bisa Tambah Penghasilan Kamu, Minat Coba?

Investor dan pengiklan fokus pada dua metrik ini terkait investasi mereka di Alphabet

Selain penghasilan (earning) dan pendapatan (revenue), investor akan fokus pada pertumbuhan klik berbayar (paid clicks), serta metrik terkait, biaya per klik (cost-per-clicks).

Klik berbayar mewakili klik pada iklan oleh pengguna mesin pencari Google dan platform lain yang dimiliki Alphabet, termasuk Gmail, Google Maps, dan Google Play. Metrik ini juga mencakup tampilan iklan di YouTube.

Sementara itu, biaya per klik menunjukkan jumlah rata-rata pengiklan Alphabet. Ukuran dihitung untuk setiap klik berbayar oleh pengguna, dan dihitung dengan membagi pendapatan berdasarkan klik dengan jumlah total klik berbayar.

Analis mengharapkan Alphabet untuk memberikan pertumbuhan dalam klik berbayar 25,6% pada kuartal pertama 2020. Ini akan menjadi tingkat yang signifikan lebih cepat daripada tingkat pertumbuhan 18,4% dan 18,0% yang dilaporkan masing-masing pada kuartal keempat dan kuartal ketiga tahun 2019.

Perkiraan pendapatan google yang lebih tinggi untuk kuartal pertama 2020 ini mungkin ada hubungannya dengan lonjakan lalu lintas Internet baru-baru ini.

Tingkat pertumbuhan Google

Namun, tingkat pertumbuhan itu masih lebih dari 13 poin persentase di bawah angka yang dilaporkan pada kuartal pertama 2019 dan jauh lebih rendah daripada tingkat pertumbuhan yang dilaporkan selama 2018 atau 2017.

Dengan turunnya kedua metrik tersebut, wajar jika dalam laporan keuangan perusahaan Alphabet induk perusahaan Google melaporkan penurunan pendapatan google.

Ini karena dengan turunnya kedua metrik tersebut, para investor dan pengiklan akan sangat berhati-hati. Terutama saat ingin menanamkan modal atau mengiklankan bisnis mereka di Google.

Analis bahkan memperkirakan hasil yang lebih suram untuk biaya per klik. Mereka memperkirakan penurunan 7,9% dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun lalu.

Itu berarti lebih sedikit pendapatan yang diharapkan dihasilkan per klik. Sementara biaya per klik telah menurun di setiap kuartal kembali ke setidaknya kuartal keempat 2016. Tingkat penurunan melambat tajam, turun hanya 2,0% di kuartal ketiga dan kuartal keempat 2019.

Penurunan lebih curam di kuartal pertama 2020 mungkin merupakan tanda bahwa pengiklan telah mulai menarik kembali pengeluaran iklan mereka.

Untuk menyiasati penurunan pendapatan google tersebut, Alphabet harus terus meningkatkan lalu lintas Internet untuk mengimbangi penurunan anggaran belanja iklan. Dengan demikian laporan keuangan perusahaan mereka di kuartal berikutnya pada 2020 ini akan mencatatkan kenaikan.

Sumber: Investopedia

Simak juga:

Kaum Milenial, Berapa Banyak Investasi yang Mesti Kamu Punya?

Di Tengah Perang Dingin Teknologi AS-Tiongkok, 5G Huawei Optimis Akan Meledak di Pasar

Wah! Ternyata Selain Jagoan Konten, Ini 3 Pekerjaan yang Akan ‘Laku’ di Masa Depan!

Jualan Drone, Frank Wang Berhasil Raup Keuntungan Hingga Rp27 Triliun

Artikel Terbaru