Currently set to Index
Currently set to Follow

Ethereum vs Bitcoin: Katanya Sekarang Ethereum Lebih Unggul, Kamu Pilih Mana?

Harga Bitcoin telah melonjak hampir 1.000% selama 12 bulan terakhir. Namun kenaikan itu telah dikalahkan oleh Ethereum, aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua, yang kian menegaskan era Ethereum vs Bitcoin.

Harga Bitcoin telah melonjak dari di bawah US$10.000 kali ini tahun lalu menjadi sekitar US$60.000 per keping. Sementara Ethereum telah meroket 1.200%, naik dari lebih dari US$100 per token, menjadi hampir US$2.000.

Namun, persaingan keduanya tak hanya melulu soal perlombaan kenaikan harga. Belakangan, beberapa analis mulai menyadari bahwa Ethereum mungkin akan lebih unggul dibandingkan Bitcoin dari beberapa sisi. Apa sajakah itu?

Baca juga: Seberapa Kuat Bitcoin Whales dalam Mengendalikan Harga? Simak di Sini!

Ethereum vs Bitcoin: Katanya Sekarang Ethereum Lebih Unggul, Kamu Pilih Mana?, Pluang

1. Ethereum vs Bitcoin: Masa Depan Ethereum Lebih Cerah Lantaran Bisa Digunakan Transaksi

Salah satu pihak yang “menjagokan” Ethereum adalah Bank of America. Baru-baru ini, di dalam laporan bertajuk Bitcoin’s Dirty Little Secrets, tim analis investment bank tersebut mengatakan bahwa Ethereum terbilang lebih unggul dari Bitcoin lantaran memiliki banyak fitur yang menarik bagi transaksi sehari-hari. Salah satunya tentu adalah aplikasi Decentralized Finance (DeFi) yang berjalan di atas sistem smart contract Ethereum.

“Bitcoin adalah mata uang kripto yang paling banyak dibicarakan. Tetapi Ethereum memiliki lebih banyak fitur, termasuk menjadi lebih fleksibel,” tulis Analis Bank of America dalam sebuah laporan berjudul Bitcoin’s Dirty Little Secrets.

2. Ethereum vs Bitcoin: Keberadaan Bitcoin Akan Terancam Uang Digital Resmi

Selain itu, terlepas dari kesuksesan Bitcoin baru-baru ini, beberapa pihak khawatir bahwa mata uang digital bank sentral (CBDC) dapat menjadi “batu kryptonite” untuk keberlangsungan Bitcoin dan aset kripto serupa.

Bank of America berpendapat, hal itu disebabkan karena pergerakan harga Bitcoin selalu berkorelasi dengan aset berisiko. Sehingga, kondisi tersebut menjadikan harga Bitcoin cukup volatil. Di sisi lain, harga Bitcoin juga tidak berkorelasi dengan tingkat inflasi, menyebabkan raja aset kripto ini tidak cocok digunakan sebagai aset penyimpan kekayaan.

Alhasil, investor tentu akan mengalihkan pandangannya ke aset kripto yang lebih resmi, seperti yang akan dikeluarkan oleh bank-bank sentral dunia. Tapi, seserius apa sih para otoritas moneter global ini dalam menerbitkan uang digital?

Nah, baru-baru ini, Bank Sentral Eropa tengah mempertimbangkan wacana untuk menciptkakan versi digital dari euro. Sementara itu, ketua bank sentral AS The Fed Jerome Powell mengatakan bahwa 2021 adalah tahun yang penting untuk membuka diskusi dengan publik terkait dolar AS digital.

“Artinya, memang Bitcoin tidak praktis digunakan sebagai alat penyimpan kekayaan atau mekanisme pembayaran,” jelas tim analis Bank of America. “Mungkin, satu-satunya alasan tepat untuk menggenggam Bitcoin adalah jika harganya merangkak terus.”

3. Ethereum vs Bitcoin: DeFi Akan Menjadi Angin Segar Bagi Ethereum?

Nah, di sisi lain, maraknya aplikasi berbasis blockchain Ethereum dan peningkatan versinya setiap waktu akan membantu Ethereum untuk tetap unggul. Setidaknya, sebagai aset kripto yang bisa digunakan untuk alat transaksi yang selama ini diakomodasi oleh teknologi DeFi.

Dengan banykanya proyek DeFi di atas blockchain Ethereum, Bank of America mengatakan bahwa akan ada banyak pengguna yang membanjiri platform ini dan menggenggam Ethereum. Akibatnya, harga Ethereum ke depan akan semakin moncer.

Analisis Bank of America ini bukanlah prediksi kaleng-kaleng. Mereka berkaca pada kondisi tahun lalu, di mana kenaikan pengguna DeFi yang melonjak juga bikin harga Ethereum melejit.

Pada 2020, terdapat uang US$19 miliar yang terkunci di dalam protokol DeFi, atau melesat 1.800% dibanding posisi Januari yang hanya US$1 miliar. Di saat yang sama, peristiwa itu juga melejitkan harga Ethereum sebesar 450%.

“DeFi berpotensi untuk mendisrupsi jasa keuangan dibanding Bitcoin,” kata Bank of America.

Baca juga: Perlu Uang Berapa Sih Buat Naikin 1% Harga Bitcoin? Simak di Sini!

4. Ethereum vs Bitcoin: Ethereum Bisa Menyalip Bitcoin dari Segi Keamanan Jaringan

Ryan Watkins, seorang analis di perusahaan riset cryptocurrency Messari, juga percaya bahwa Ethereum dapat melampaui Bitcoin. Bukan dari sisi harga, namun dari sisi keamanan jaringan.

Watkins mengatakan, Ethereum menggunakan sistem algoritma blockchain proof-of-stake. Yakni, sebuah sistem algoritma di mana mereka yang menggenggam jumlah aset kripto terbanyak memiliki wewenang untuk memvalidasi transaksi yang akan dicatat ke sistem blockchain atau mengonfirmasi penambangan baru.

Sistem algoritma tersebut, lanjut Watkins, lebih efisien dibandingkan sistem algoritma Bitcoin saat ini, yakni proof-of-work. Selama ini, algoritma proof-of-work kerap dikritisi karena menggunakan konsumsi energi yang terlalu banyak. Pasalnya, seluruh komputer yang tersambung dengan jaringan blockchain Bitcoin harus menyepakati transaksi atau penambangan baru aset kripto tersebut.

“Saya pikir peralihan ke Ethereum 2.0 dengan sistem algoritma proof-of-stake akan membuat jaringan Ethereum lebih aman daripada Bitcoin,” katanya soal Ethereum vs Bitcoin.

Baca juga: Harga Bitcoin Diramal Tembus Rp1,4 Miliar di Agustus? Simak Analisis Berikut!

4. Ethereum vs Bitcoin: Ethereum Tak Perlu Diadopsi Massal Untuk Diakui

Watkins melanjutkan, pembaruan sistem Ethereum ke Ethereum 2.0 dan peningkatan kegunaan DeFi akan membuatnya menjadi aset kripto yang bisa digunakan untuk kegiatan transaksi di dalam lingkup ekonomi tersendiri. Sehingga, ia tidak perlu lagi mendapat pengakuan dari semua negara sebagai mata uang.

“Cara Ethereum menjadi uang sebenarnya tidak dengan diadopsi oleh negara sebagai mata uang. Melainkan dengan membangun ekonominya sendiri Nilai PDB Ethereum sebenarnya menyaingi banyak negara besar di dunia,” jelas Watkins.

Soal Ethereum vs Bitcoin, data dari Blockchain Center menunjukkan bahwa Ethereum telah melampaui Bitcoin dalam hal jumlah node, jumlah transaksi, dan total biaya transaksi. Namun, dalam hal kapitalisasi pasar, Ethereum US$200 miliar masih jauh dari kapitalisasi pasar Bitcoin sebesar US$1 triliun.

Setelah membaca penjelasan tersebut, tim manakah kamu? Apakah setia dengan Bitcoin? Atau setia dengan Ethereum? Apapun itu, kamu bisa berinvestasi keduanya di aplikasi Pluang, lho!

Baca juga: Jadi “Dewa Kipas” Bisa Tajir Melintir? Ini Deretan Pemain Catur Terkaya Dunia!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Forbes, Yahoo Finance, CoinTelegraph

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img