Currently set to Index
Currently set to Follow

Kinerja Saham AS Dibayangi Waswas Sikap The Fed Soal Inflasi

Pasar saham Amerika Serikat kembali mengalami periode yang berombak pada pekan lalu. Meski memang, pada Jumat (14/5), kinerja pasar saham secara keseluruhan ditutup lebih tinggi. Sebuah hal yang memang sudah diwanti-wanti pada analisis saham Amerika Serikat sebelumnya.

Tetapi, ada beberapa hal yang menjadi sangat jelas: Volatilitas telah kembali. Hal ini dapat dilihat pada pasar opsi di mana trader meningkatkan taruhan mereka untuk pasar yang volatil dalam waktu dekat. Kemudian, investor tampaknya juga bersedia untuk “buy the dip” dalam memanfaatkan volatilitas tersebut.

Dow Jones 34.382,13 + 1,06%
S&P 500 4.173,82 + 1,49%
Nasdaq 13.429,98 + 2,32%

*data per penutupan pasar di Jumat, 14 Mei 2021

Baca juga: Apa Itu Buy the Dip?

Kinerja Saham AS Dibayangi Waswas Sikap The Fed Soal Inflasi, Pluang

Analisis: Saham Amerika Serikat Puyeng Dihantam Inflasi

Ombak kencang yang menerpa indeks saham utama AS pekan lalu disebabkan oleh ketakutan investor atas meroketnya tingkat inflasi. Pada Rabu (12/5), Departemen Ketenagakerjaan AS merilis data bahwa tingkat inflasi AS pada April melonjak 4,2% secara tahunan, atau laju inflasi tahunan tertinggi dalam 12 tahun terakhir. Angka tersebut lebih besar dari ramalan Dow Jones, yakni 3,6%.

Memang, pertumbuhan laju inflasi bisa jadi merupakan indikasi pemulihan ekonomi. Namun ternyata, kenaikan tingkat inflasi ini bukan disebabkan oleh perubahan pada inflasi inti, melainkan dari lonjakan harga energi.

Secara natural, inflasi memang bisa mengerdilkan nafsu investor untuk menyelam di pasar modal. Sebab, inflasi bisa menggerus laba perusahaan maupun memangkas return riil investor dalam berinvestasi di dalamnya. Penjelasan lebih lanjut mengenai hubungan inflasi dan return S&P 500 bisa disimak di artikel berikut.

Hanya saja, laju pemulihan ekonomi tersebut ternyata tidak semulus yang diperhitungkan. Hal ini terbaca setelah Departemen Perdagangan AS pada Jumat (14/5) merilis data bahwa penjualan ritel AS pada April hanya 0,8%, atau lebih rendah dari ekspektasi.

Investor mungkin berharap angka penjualan yang lebih kuat seiring stimulus jor-joran pemerintah AS dan permintaan sangat kuat saat ini. Tetapi, inflasi yang tinggi tersebut mungkin telah menghentikan niat masyarakat untuk konsumsi.

Alhasil, aksi beli memang berlanjut di pasar ekuitas AS di akhir pekan, meski memang ketiga indeks saham utama AS harus menutup pekan lalu dengan kerugian. Tercatat, indeks S&P 500 dan Dow Jones masing-masing turun 1,1% pada pekan lalu, sementara NASDAQ terhantam keras dengan melorot 2,3%. Pekan lalu pun menjadi pekan kelima terburuk bagi NASDAQ secara berturut-turut.

Investor Mulai Cari Strategi Lain

Selain itu, gara-gara inflasi, kini investor mulai mengincar saham-saham di perusahaan yang memang mendapatkan berkah dari perbaikan ekonomi. Contohnya, pada Jumat, saham maskapai penerbangan, jalur pelayaran, dan perusahaan lain yang memperoleh keuntungan maksimal dari pembukaan kembali setelah pandemi (reopening) telah membantu memimpin kenaikan pasar.

Ini terjadi setelah Pusat Pengendalian Penyakit AS (Centers for Disease Control) mengumumkan bahwa warga yang telah divaksinasi penuh tidak perlu memakai masker lagi di kebanyakan situasi.

Saham teknologi juga didorong oleh sentimen positif, dengan semua saham FAANG ditutup lebih tinggi. Saham Facebook, misalnya, naik sebanyak 2,5%, karena bertepatan dengan hari ulang tahun CEO Mark Zuckerberg dan menjadi hadiah yang memuaskan baginya.

Sayangnya, kinerja saham Disney adalah salah satu penghambat terbesar. Sebab, perusahaan media dan hiburan tersebut melaporkan pertumbuhan pelanggan yang mengecewakan untuk layanan streaming Disney+.

Apakah Inflasi Masih Membayangi Saham AS Pekan Ini?

Setelah mengalami pekan yang bergelombang, lantas bagaimana analisis saham Amerika Serikat pada pekan ini?

Beberapa analis mengatakan bahwa kondisi pasar saham yang “terombang-ambing” belakangan ini adalah hal yang wajar. Investor perlu memahami bahwa ekonomi kini memang sedang berkonsolidasi dari situasi pandemi ke reopening total. Pencabutan aturan masker, pelonggaran pembatasan sosial, dan pembukaan ekonomi semua terjadi pada Mei. Sehingga, dampaknya pun akan terjadi di bulan yang sama.

Selain bersiap menghadapi pekan yang masih berombak, investor juga perlu memantau pergerakan saham teknologi dan saham-saham berbasis pertumbuhan ekonomi di pekan ini. Utamanya, setelah kekhawatiran investor akan inflasi mereda seketika di akhir pekan lalu.

Kemudian, investor juga perlu mengawasi dengan ketat risalah dari pertemuan terakhir The Fed yang dijadwalkan Rabu (19/5). Hal ini patut dipantau mengingat otoritas moneter tersebut akan menyampaikan “buah pemikiran” terkait kondisi ekonomi saat ini. Segala tindak-tanduk The Fed tentu wajib dipantau setelah tingkat inflasi AS mencatat rekor dalam 12 tahun terakhir.

Baca juga: Apa Itu Inflasi?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img