Currently set to Index
Currently set to Follow

Inflasi Bikin Investor Optimis, Pasar Saham AS Kembali ke Jalur Bullish

Indeks saham Amerika Serikat tengah berada di atas angin pada pekan lalu, sesuai analisis yang sudah diramal pekan sebelumnya. Bahkan, pasar saham AS relatif tenang sepekan lalu meski diterpa riak-riak kecil di pertengahan pekan.

Akhir pekan lalu, indeks saham Dow Jones dan S&P 500 ditutup dengan cemerlang. Indeks Dow Jones melonjak lebih dari 150 poin dalam delapan menit terakhir perdagangan, sementara S&P 500 ditutup pada rekor barunya.

Inflasi Bikin Investor Optimis, Pasar Saham AS Kembali ke Jalur Bullish, Pluang
Harga per penutupan pasar 26 Maret 2021

Penguatan ini didukung oleh optimisme pertumbuhan ekonomi AS yang kencang setelah pemerintah AS telah memberikan 143 juta dosis vaksinasi terhadap 94 juta orang. Selain itu, arus modal ke pasar saham Amerika Serikat juga terbilang moncer setelah beberapa negara Eropa siaga akan gelombang COVID-19 ketiga, di mana beberapa negara sudah kembali menerapkan kebijakan lockdown.

Hanya saja, kokohnya kinerja pasar saham AS sempat diuji ketika Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan bahwa  pemerintah AS perlu mengerek penerimaan pajak demi menambal besarnya belanja infrastruktur dan stimulus fiskal sebesar US$1,9 triliun.

Wacana tersebut sempat membuat investor sempat menjauhi aset-aset berisiko, seperti saham, setelah khawatir bahwa kenaikan pajak akan “menyunat” kinerja keuangan beberapa perusahaan di negara adidaya tersebut.

Inflasi Bikin Investor Optimis, Pasar Saham AS Kembali ke Jalur Bullish, Pluang

Analisis Saham Amerika Serikat: Pasar Tenang dan Data Inflasi Menenangkan Kekhawatiran

Investor boleh sedikit bernapas lega pada pekan ini setelah data terbaru menunjukkan bahwa mereka tidak perlu cemas dengan tingkat inflasi di Amerika Serikat yang tajam. Sebab, daya beli di negara Paman Sam tersebut nampaknya masih belum membaik.

Pada pekan lalu, Departemen Perdagangan AS mencatat bahwa tingkat belanja konsumen menurun 1% pada Februari meski mengalami pertumbuhan 3,4% sebulan sebelumnya. Indikasi daya beli yang belum pulih ini memberi petunjuk bahwa inflasi diperkirakan tak akan lari kencang dalam waktu dekat.

Selama ini, kenaikan tingkat inflasi dipandang sebagai “duri dalam daging” bagi kinerja pasar saham AS. Pasalnya, kenaikan inflasi bisa menggerus nilai dividen dan membuat saham tidak menarik di mata investor.

Inflasi yang lebih tinggi, bagaimana pun, sering kali disertai dengan perbaikan pertumbuhan ekonomi, yang seharusnya menguntungkan saham yang sensitif. Misalnya, seperti bank dan perusahaan energi.

Hal itu juga tercermin dalam pergerakan harga saham kedua sektor tersebut. Adapun saham energi dan bank AS telah mengungguli saham teknologi masing-masing sebesar 33% dan 16%.

Makanya, investor yang menempatkan dana pada S&P 500 bisa tetap tenang lantaran indeks saham ini terdiri dari perusahaan dengan latar belakang sektor beragam.

Tak Hanya Analisis Saham Amerika Serikat, Masa Depan Aset Kripto Juga Cerah

Investor di pasar saham AS boleh jadi “menyepelekan” tingkat inflasi pada saat ini. Namun, bagi investor di pasar aset kripto, inflasi masih menjadi hal yang diperdebatkan.

Buktinya, kini investor menginginkan aset kripto dan teknologi blockchain sebagai aset lindung nilai yang bisa melindungi nilai kekayaan mereka dari gerusan inflasi. Hal ini timbul setelah melihat maraknya investor institusi yang membanjiri pasar Bitcoin.

Pertarungan antara spekulan tentang seberapa besar kemampuan aset kripto sebagai aset lindung nilai masih berlangsung 24 jam, dengan banyak janji dan harapan untuk masa depan. Namun, mengapa tidak ada yang takut bahwa harga Bitcoin yang melejit, disertai dengan pemain besar masuk ke pasar aset kripto, bakal setara dengan Gelembung Tulip Mania Belanda?

Jawabannya mungkin sesederhana kenyataan bahwa orang-orang begitu takut pada inflasi, terlepas ringan atau tidaknya data inflasi tersebut. Bahkan, bisa saja di tengah semua spekulasi cryptocurrency ini, investor benar-benar mengkhawatirkan semua intervensi bank sentral di seluruh dunia yang telah menciptakan pengaruh ekonomi yang tak terbantahkan selama dekade terakhir.

Perkembangan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Indonesia

Di dalam negeri, data terbaru dari Gugus Tugas Penanganan COVID-19 menunjukkan perkembangan positif.

Kasus baru harian berada pada kisaran 4-6 ribu vs 10-15 ribu pada awal 2021. Sementara itu, tingkat okupansi rumah sakit terkait pandemi sudah di bawah 60% dari kapasitas maksimal di semua provinsi. Dapat dikatakan, hal ini sebagian didukung oleh kesadaran masyarakat yang lebih baik dalam mengimplementasikan protokol kesehatan.

Perkembangan positif ini telah melonggarkan pembatasan sosial, dan memperkuat pemulihan ekonomi. Namun, yang dapat diwaspadai adalah masa-masa bulan puasa dan lebaran yang kemungkinan dapat memicu lonjakan kasus.

Pemerintah akan tetap berhati-hati dengan melakukan berbagai strategi. Misalnya, dengan menjaga tingkat kapasitas tes dan mempercepat program vaksinasi massal. Bahkan, pemerintah baru-baru ini telah melarang masyarakat untuk mudik dalam rangka merayakan lebaran.

Meski begitu, tingkat kemajuan vaksinasi Indonesia termasuk agak lambat dibandingkan dengan negara lain dan rata-rata global. Pada 27 Maret, sekitar 7,2 juta orang telah menerima dosis pertama (18,0% dari target fase pertama atau 2,7% dari total populasi). Sementarav itu, hanya 3,2 juta orang menerima dosis kedua (8,1% dari periode vaksinasi pertama atau 1,2% dari total populasi). Angka ini jelas lebih rendah dibandingkan dengan target awal Pemerintah untuk memiliki 15% populasi yang divaksinasi pada bulan April.

Terlepas dari kabar pemulihan ekonomi, investor tetap dapat memantau perkembangan pasar dan mengatur strategi investasi. Strategi diversifikasi pada kelas aset atau pun sektor ekonomi dapat dikatakan efektif untuk kebanyakan kondisi pasar. Namun, jangan lupa sesuaikan dengan profil risiko dan tujuan investasi masing-masing.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img