Currently set to Index
Currently set to Follow

Apa Itu Long Position?

Long position adalah kondisi yang menggambarkan sikap optimistis investor terhadap aset atau sekuritas yang sudah ia beli. Mereka berharap bahwa aset yang digenggamnya akan mengalami kenaikan nilai di jangka panjang, sehingga posisi ini juga dikenal sebagai pandangan bullish.

Istilah long position sering digunakan dalam konteks pembelian opsi kontrak. Trader bisa memperoleh opsi long call atau long put tergantung dari hasil opsi kontrak.

Sebagai contoh, seorang investor yang berharap memperoleh keuntungan dari kenaikan harga sebuah aset akan “melakukan posisi long” pada sebuah opsi beli. Tentu saja, investor yang menduga harga sebuah aset akan jatuh akan melakukan posisi long pada posisi jual dan mempertahankan hak menjual aset pada harga tertentu.

Baca juga: Apa Itu Opsi Saham?

Apa Itu Long Position?, Pluang

Jenis-Jenis Long Position

Pada kenyataannya, long position adalah istilah investasi yang bisa memiliki banyak arti tergantung konteksnya. Pengertian yang paling umum dari posisi long adalah mengacu kepada jangka waktu sebuah investasi dilakukan. Akan tetapi, istilah long memiliki arti yang berbeda ketika digunakan pada opsi dan kontrak saham berjangka.

1. Long Holding Investment

Melakukan posisi long untuk saham atau surat berharga merupakan praktik investasi yang lebih umum dalam pasar modal, terutama bagi investor ritel. Dengan investasi long position, investor membeli sebuah aset dan memilikinya dengan harapan harganya akan naik.

Investor ini biasanya tidak berencana untuk menjual sekuritas di masa akan datang untuk sementara waktu.

Harapan bahwa aset akan turut meningkat nilainya dalam waktu lama—strategi buy and hold—membuat investor tidak perlu terus mengawasi pasar. Sebab, sejarah mencatat bahwa pasar saham dengan sendirinya akan meningkat seiring waktu — terlepas dari dilakukannya long position atau tidak.

Tentu saja, bukan berarti investor tidak perlu menghadapi penurunan portfolio yang tajam. Pandemi COVID-19, contohnya, telah mendorong penurunan pasar ekuitas global sejak Februari 2020. Ini tentu bisa berakibat fatal jika investor berencana melakukan long position.

Kondisi pasar yang lesu berkepanjangan bisa juga menyusahkan investor. Sebab, kondisi ini sering menguntungkan para short-seller dan mereka yang bertaruh pada harga-harga yang turun.

Pada akhirnya, melakukan long akhirnya bikin investor terikat dengan kepemilikan suatu kapital, sehingga mereka bisa melewatkan kesempatan investasi lain yang lebih menghasilkan cuan.

Baca juga: Apa Itu Strike Price?

2. Long Position Opsi Kontrak

Dalam dunia opsi kontrak, istilah ini tidak ada hubungannya dengan ukuran waktu, namun menyangkut soal jenis kepemilikan aset.

Ketika seorang trader membeli atau melakukan kontrak opsi beli, maka investor tersebut otomatis sudah melakukan aksi long. Sebab, mereka melakukan hal tersebut karena yakin bahwa aset yang ia miliki akan bertambah nilainya saat masa kontraknya jatuh tempo.

Namun, tidak semua trader yang melakukan long position adalah mereka yang yakin nilai asetnya akan meningkat. Sebab, terdapat pula trader yang meyakini nilai asetnya akan jatuh di masa depan, sehingga ia membeli kontrak opsi jual.

Maka, seperti yang sudah dijelaskan, long position pada kontrak opsi bisa memperlihatkan sentimen bullish atau bearish tergantung dari jenis kontrak jangka panjangnya.

Adapun kebalikan dari sikap ini adalah short position. Di sini, investor tidak memiliki saham atau aset dasar lain, namun mereka meminjam saham sebuah perusahaan terbuka dari sekuritas untuk kemudian dijual di pasar. Mereka kemudian membelinya kembali dengan harga yang lebih rendah.

Baca juga: Pasar Terombang-ambing, Kapan Waktu yang Tepat Menjual Saham?

3. Kontrak Saham Berjangka

Para investor dan pebisnis bisa memasuki long forward atau kontrak berjangka untuk mempertahankan dari pergerakan harga yang meresahkan. Sebuah perusahaan bisa melakukan lindung nilai untuk mengunci harga beli untuk sebuah komoditas yang dibutuhkan di masa depan.

Saham berjangka berbeda dari opsi karena pemegangnya diharuskan membeli atau menjual aset dasar. Mereka tidak bisa memilih selain harus melakukan tindakan ini.

Misalkan, ada sebuah penghasil perhiasan yang meyakini harga emas akan meningkat dalam jangka pendek. Perusahaan tersebut bisa memasuki kontrak saham berjangka panjang dengan pemasok emasnya untuk membeli emas dalam tiga bulan dari si pemasok pada harga US$1.300.

Dalam tiga bulan, tak peduli harganya ada di atas atau di bawah US$1.300, perusahaan yang sudah melakukan long position pada saham berjangka emas diharuskan membeli emas dari pemasok dengan harga yang sudah disepakati sebesar US$1.300.

Sebagai gantinya, si pemasok diharuskan memberikan komoditas secara fisik ketika kontraknya kedaluwarsa.

Para spekulan juga melakukan long positon pada saham berjangka ketika mereka meyakini harganya akan naik. Yang diincar mereka tidak harus berupa komoditi fisik, karena mereka hanya tertarik mengambil untung dari pergerakan harga. Sebelum kedaluwarsa, seorang spekulan yang memiliki kontrak saham berjangka panjang bisa menjual kontraknya di pasar saham.

Long Position adalah Sikap yang Memiliki Pro dan Kontra

Pro

  • Mengunci harga
  • Membatasi kerugian
  • Mencocokkan dengan performa historis pasar

Kontra

  • Bisa terdampak perubahan harga mendadak/pergerakan jangka pendek
  • Bisa kedaluwarsa sebelum keuntungannya tercapai

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Investopedia

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img