Currently set to Index
Currently set to Follow

Apa itu Centralized Market?

Sobat Cuan sudah mulai familiar dengan istilah decentralized finance (DeFi) yang berimplikasi pada decentralized market, bukan? Jika ada pasar yang terdesentralisasi, tentu ada juga pasar tersentralisasi atau centralized market.

Bagaimana pasar ini bekerja? Apakah perbedaannya yang paling mendasar dengan decentralized market?

Yuk, simak sampai habis ya!

Apa itu Centralized Market?, Pluang

Centralized Market Adalah Pasar yang Konvensional

Centralized market adalah pasar finansial yang terstruktur, di mana semua pesanan (order) pembelian maupun penjualan ditransfer kepada sistem pertukaran yang tersentralisasi.

Investor yang melakukan transaksi melalui pasar ini dapat melihat bagaimana mekanisme harga terbentuk dan diberlakukan. Seluruh penawaran yang masuk ditampilkan dalam metrik harga serta volume yang menentukan harga tunggal dari instrumen yang diperdagangkan.

Meski tunggal, harga tersebut bergerak dinamis sesuai dengan mekanisme pasar. Namun hanya ada satu harga yang berlaku dalam satu waktu. Investor lebih bisa memprediksi pergerakan harga ini berkat sistem terpusat yang menampilkan basis data dari terbentuknya harga.

Baca juga: Apakah Aman Menabung di Dompet Aset Kripto? Yuk, Simak di Sini!

Ciri Centralized Market 

Ciri khas dari pasar ini adalah adanya otoritas terpusat yang mengatur pasar. Otoritas ini punya regulasi yang mengatur jalannya pasar tersentralisasi. Tiap transaksi yang terjadi di sana harus dilaksanakan oleh tiga pihak atau lebih.

Selain itu, centralized market juga memiliki lembaga kliring. Tugasnya adalah melakukan kliring dari tiap transaksi yang terjadi untuk menjamin kredibilitas dan integritas transaksi tersebut. Fungsinya, adalah agar transaksi yang terjadi tidak memiliki risiko yang tinggi.

Contoh paling riil dari centralized market adalah bursa saham seperti Bursa Efek Indonesia (BEI) dan New York Stock Exchange (NYSE). Pasar derivatif dan pasar komoditas juga menjalankan prinsip centralized market. Pasar seperti ini merupakan pasar konvensional yang lebih dulu kita kenal sebelum diinisiasinya decentralized market.  

Kepercayaan Masih Jadi Mata Uang Universal 

Pada pasar terpusat, integritas dan kredibilitas sebuah transaksi memegang peranan penting. Alasannya, seluruh transaksi di dalamnya masih dilandaskan rasa percaya.

Pembeli efek atau saham milik emiten di bursa akan berusaha mengenali dulu profil perusahaan dan kinerjanya sebelum membeli. Hal ini untuk mengukur sejauh mana mereka bisa mempercayakan investasinya.

Pasar berjalan dengan meminimalisir kemungkinan kecurangan sekecil mungkin lewat pihak-pihak yang terlibat dalam setiap transaksi. Tak hanya itu, kamu pun harus menyetorkan informasi pribadimu kepada otoritas saat akan bertransaksi. Pasar ini tidak memungkinkan transaksi anonim sebab mata uang universalnya adalah kepercayaan.

Hal inilah yang menjadi perbedaan mendasar pada decentralized market, di mana transaksi hanya memerlukan dua pihak yang bersepakat melalui algoritma protokol blockchain.

Sehingga, tanpa otoritas, pembeli dan penjual dapat tetap anonim melakukan transaksi yang sah.

Baca juga: Yuk, Kenalan Lebih Jauh dengan Decentralized Finance (DeFi)!

Risiko Bertransaksi di Centralized Market 

Meski lebih familiar dan sederhana, pasar terpusat punya beberapa risiko yang membuat pelakunya mencari alternatif lain dengan mekanisme decentralized market. Berikut adalah beberapa risiko yang harus Sobat Cuan antisipasi saat bertransaksi di centralized market.

1. Mudah Diretas

Otoritas dalam centralized market memiliki basis data terpusat. Hanya saja, ini memberikan celah bagi peretas untuk menjajal kemampuannya sewaktu-waktu dengan menembus sistem centralized market.

Jika ini terjadi saat pasar sedang berjalan, maka transaksi yang sedang berlangsung dapat terganggu. Selain itu, keamanan data yang kamu setorkan kepada otoritas juga berisiko diretas.

Pada decentralized market, otoritas berada pada jaringan yang tersebar di manapun, sehingga peretas sulit untuk menembusnya. Kalau pun salah satu rantai block berhasil diretas, masih banyak mata rantai lain yang dapat menopang jalannya pasar.

Baca juga: Mengapa DeFi Bakal Jadi Saingan Sengit Jasa Keuangan Konvensional?

2. Kurang Efisien

Transaksi di pasar terpusat memerlukan para pihak dan clearance house yang mengambil fee atau margin dari transaksi. Hal ini membuat transaksi kurang efisien jika dibandingkan dengan transaksi di pasar terdesentralisasi yang hanya memerlukan gas fee.

Banyaknya para pihak juga menyebabkan transaksimu memerlukan waktu kliring  yang lebih panjang.

3. Memerlukan Data Pribadi

Saat bertransaksi, otoritas akan meminta kamu menyetorkan data-data sensitif seperti nomor rekening efek hingga informasi pribadi seperti alamat email dan nomor ponsel. Seringkali, data ini bocor sehingga beresiko informasi pribadimu tersebar ke dark web.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Sumber: Investopedia, duniafintech, medium, KamusBisnis, City Research Online

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img