#CerdasCuan Mingguan: Dampak Covid-19 Terhadap Perekonomian Indonesia

Dampak COVID19 tetap menjadi isu paling penting yang mempengaruhi kesehatan, keselamatan, ekonomi, dan pasar. Ada lebih dari 3 juta kasus yang dilaporkan, sementara angka kematian sudah melebihi 200.000. Kita perlu memahami bagaimana negara-negara tertentu (khususnya Cina dan Korea Selatan) telah berhasil memerangi virus dan bagaimana cara mereka menangani pandemi.

Tentunya hal ini akan mempengaruhi pengambilan keputusan dan strategi investasi kamu di tahun 2020.

Pembelajaran dari Cina dan Korea Selatan

dampak covid-19

Cina yang menerapkan kebijakan lockdown secara meluas telah berhasil menghentikan wabah tetapi juga dengan kerugian ekonomi yang parah, yaitu meningkatnya pengangguran, kegagalan usaha kecil, dan terhentinya aktivitas ekonomi secara keseluruhan. 

Sejak wabah mereda, Cina secara bertahap mencabut kebijakan lockdown, yang memungkinkan orang untuk melanjutkan pekerjaan dan kegiatan sehari-hari seperti biasa. Namun, karena tingkat pengangguran yang lebih tinggi dan pendapatan berkurang setelah lockdown, konsumsi lainnya menjadi lemah.

Mengapa? Virus ini masih menyebar secara global (perbatasan Cina tetap ditutup), dan tabungan untuk berjaga-jaga meningkat karena ketakutan akan gelombang kedua penutupan. Selain itu, mengingat kelemahan ekonomi di luar Cina, rebound telah berjalan lamban — sebagian besar data menunjukkan aktivitas ekonomi ada pada angka 80% dari kisaran normal.

Dampak Covid19 Terhadap Perekonomian Indonesia

Kesimpulannya: lockdown penuh yang dilakukan Cina disertai dengan kerusakan ekonomi yang parah, dan rebound tajam masih jauh dari kepastian. 

Ini berarti bahwa mungkin akan ada dampak serupa yang juga akan menghancurkan ekonomi Indonesia.

Sebaliknya, Korea Selatan lebih berhasil daripada Cina dengan melakukan pembatasan mobilitas minimal, sambil mengandalkan pengetesan besar-besaran dan pelacakan kontak untuk mengatasi wabah tersebut. Ini mengakibatkan kerugian ekonomi yang masih bisa ditoleransi. Tingkat pengangguran relatif stabil dan sentimen bisnis pun stabil dibandingkan dengan Cina.

Kesimpulannya: Strategi Korea untuk meminimalisir lockdown, pembatasan sosial yang tidak sangat ketat dan pengetesan besar-besaran, sejauh ini telah melindungi ekonomi dari tingkat kehancuran yang terlihat di tempat lain. Selain itu, kebijakan ini dapat berkelanjutan karena bentuk pembatasan sosial ini dapat dipertahankan selama COVID-19 masih merupakan ancaman, tanpa harus kembali ke lockdown secara on-off jika terjadi gelombang kasus baru di masa depan.

Baca juga: Apa Itu Hukum Permintaan dan Penawaran?

Bagaimana dengan Negara Berkembang seperti Indonesia?

Negara-negara yang berhasil melawan “gelombang pertama” wabah, berencana untuk memulai kembali perekonomiannya. Tetapi jika virus masih menyebar di seluruh dunia, ada kemungkinan mereka akan diminta untuk menjaga perbatasan dan/atau fungsi dalam negara termasuk pembatasan sosial hingga sampai virus berhenti.

Negara-negara pasar berkembang (emerging market) sedang berjuang untuk mengendalikan wabah. Jika sebagian dari negara emerging market tidak dapat secara efektif mengendalikan wabah, ini dapat menyebabkan bagian lain dunia — seperti Cina, Eropa, dan AS — untuk tetap menutup perbatasan mereka.

Ini mungkin akan mengakibatkan resesi global yang berkelanjutan. Bahkan, risiko gelombang kedua (atau ketiga) virus dalam situasi seperti itu tetap ada. Dan kemungkinan akan secara dramatis berdampak pada pergerakan global barang dan orang — bahkan di negara-negara yang pertama kali menahan wabahnya.

Rekomendasi Pluang

Kedepannya, meskipun Indonesia berhasil mengekang Covid-19. Kita dapat melihat bahwa dalam kasus Cina dan Korea Selatan, ada efek yang berkepanjangan terhadap ekonomi. Ini juga berarti resesi global yang lebih besar dan akan  berlangsung sepanjang 2020 atau bahkan lebih lama. Karena itu, kami menyarankan kamu untuk mempertahankan dana darurat dan juga terus mempertimbangkan aset safe haven. 

Aset safe haven seperti emas lebih disukai oleh investor dalam situasi pasar yang tidak pasti karena sifatnya yang lebih stabil. Secara historis, emas juga telah berkinerja baik selama adanya krisis pasar. Karena itu, ada baiknya mempertimbangkan untuk menambahkan emas dalam portofoliom sebagai bentuk diversifikasi.

Terima Kasih dan sampai jumpa minggu depan!

Newsletter Tanggal: 1 Mei 2020

Recent Articles

Related Stories