Currently set to Index
Currently set to Follow

Dolar AS Melemah, Apa Dampaknya Terhadap Perekonomian Asia?

Indeks Dolar AS (DXY) mengalami depresiasi bulanan terbesar dalam 10 tahun ketika ia melemah sebesar 5% pada bulan Juli. Imbal hasil riil yang rendah serta kinerja ekonomi yang buruk di AS dibandingkan dengan negara lain di dunia juga merupakan  pendorong utama dolar melemah.

Namun, hanya negara-negara yang memiliki langkah-langkah untuk mengontrol pandemi yang efektif yang diharapkan dapat mengungguli dolar karena ekonomi mereka pulih. Sementara itu, negara lain seperti Indonesia terus berjuang melawan pandemi.

Dolar Melemah – Hasil Imbal Riil Tetap Rendah

Imbal hasil riil 10 tahun obligasi pemerintah AS telah turun -1%, terendah sejak 2012. Ketika Federal Reserve (Fed) meluncurkan pelonggaran kuantitatif (QE) terbuka. Imbal hasil riil negatif pada USD disebabkan oleh inflasi yang diharapkan sebesar 1,5% untuk 10 tahun ke depan dan imbal hasil US Treasury 10 tahun ditahan pada 0,5%.

Hal ini sejalan dengan pernyataan The Fed bahwa untuk mendukung ekonomi AS melalui pandemi, mereka akan mempertahankan suku bunga nominal serendah mungkin tanpa membiarkannya menjadi negatif. Namun, ini berarti bahwa imbal hasil riil kemungkinan tidak akan pulih dalam waktu dekat.

Perekonomian A.S. Jatuh Saat Negara Lain Mulai Pulih

dolarr melemah
Ekuitas dari emerging market (EM equity) dan emas (Gold) telah menghasilkan kinerja lebih bagus ketika dolar AS melemah.

Di saat Eropa telah mengeluarkan dana pemulihan sebesar EUR 750 miliar, ekonomi China telah pulih dengan kuat di kuartal kedua. Berdasarkan pembacaan Purchasing Managers ’Index (PMI), pemulihan diperkirakan akan berlanjut pada bulan Juli, yang dapat berdampak positif pada perekonomian lain di kawasan lain, khususnya di Asia Utara.

Selain itu, Dolar melemah secara historis baik untuk Asia karena ada beberapa korelasi negatif yang cukup mapan, terutama antara DXY dan ekuitas pasar berkembang atau emerging market (EM). Berdasarkan korelasi historis yang sama dan mengingat bahwa ekonomi berkinerja terbaik di Asia dianggap sebagai EM, ekuitas Asia diharapkan dapat berkinerja lebih baik dan telah berhasil pada tingkat yang lebih tinggi daripada ekuitas negara maju.

Namun, karena setiap siklus sedikit berbeda, korelasi tidak dapat diterapkan dengan blanket approach, terutama karena pandemi COVID-19 masih mendominasi siklus.

Respons yang Berbeda, Alur Waktu Pemulihan yang Berbeda

dolar melemah
Pemulihan ekonomi di Asia berlanjut di bulan Juli. Berdasarkan data PMI di atas, angka PMI Indonesia juga telah meningkat dibandingkan bulan Juni.

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah bahwa setiap negara di Asia menghadapi pandemi secara berbeda, yang juga memberikan hasil yang berbeda. Karena negara seperti China, Jepang, Korea, dan Taiwan cepat dalam bertindak, mereka mampu mengontrol munculnya kembali virus dengan lebih efektif, ekonomi mereka telah kembali mendekati ‘normal’.

Artinya, mereka akan mendapatkan keuntungan lebih dari Dolar melemah. Seperti disebutkan sebelumnya, pembacaan PMI Juli di Asia menunjukkan bahwa negara-negara lain mulai pulih. Kecuali Indonesia dan India yang aktivitasnya masih terbatas.

Namun, ada risiko bahwa pemulihan ini mungkin saja ‘berhenti-mulai’. Setelah pulih secara stabil sepanjang Kuartal 2, PMI Hong Kong turun dari 49,6 menjadi 44,5 pada bulan Juli karena mengalami ‘gelombang ketiga’. Karena risiko kebangkitannya tinggi, negara-negara yang mengalami pemulihan ekonomi harus memanfaatkan momentum tersebut, terutama jika penduduk setempat memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap kebijakan kesehatan masyarakat.

dolar melemah

Dolar Melemah – China Menghadapi Kompromi Kebijakan

Meskipun respons dari kesehatan masyarakat China dan pemulihan ekonomi di Triwulan ke-2 sangat mengesankan, ada banyak bagian dari ekonomi yang masih berjuang. Terutama perhotelan dan bisnis terkait pariwisata lainnya. China masih diperkirakan akan melanjutkan pemulihannya pada paruh kedua tahun ini. Tetapi kebijakan yang diterapkan mungkin tidak mendapatkan apresiasi yang kuat terhadap RMB.

Beberapa orang mungkin tidak melihat apresiasi mata uang yang kuat di tengah resesi ekonomi global bersejarah sebagai pilihan kebijakan yang tepat. Karena akan menimbulkan kesulitan bagi eksportir. Yang telah menjadi titik terang dalam pemulihan, dan memberikan lebih banyak tekanan pada pasar tenaga kerja. Di mana tingkat pengangguran mendekati 6%. Mata uang yang terlalu kuat juga akan memperketat persyaratan pinjaman untuk korporasi, banyak di antaranya masih memiliki leverage yang tinggi.

Selain ketidakpastian ekonomi, ada juga ketidakpastian politik yang berasal dari hubungan yang memburuk dengan AS. Ini dapat menegaskan kembali kualitas safe haven dolar jika ‘perang kata-kata’ berubah menjadi lebih buruk.

Perjuangan Indonesia akan Lambatnya Pencairan Dana Pemulihan

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Indonesia merupakan salah satu negara di Asia yang belum mengalami pemulihan ekonomi dalam bentuk apapun. Para ahli khawatir bahwa respons perawatan kesehatan saat ini malah dapat mendorong ekonomi ke dalam resesi yang dalam tahun ini. Setelah menyusut 5,32% pada kuartal kedua, terburuk sejak kuartal pertama tahun 1999.

Ekonom Institute for Development of Economics and FInance (Indef) Didik Rachbini mengatakan pentingnya pengendalian penyebaran virus. Ia juga mengarahkan pemerintah untuk melihat China dan Vietnam sebagai model teladan untuk menerapkan ketat protokol penahanan virus. Sebab mereka berrhasil mempercepat pemulihan ekonomi masing-masing.

Country Risk & Industry Research Fitch Solutions juga melaporkan bahwa prospek pemulihan ekonomi di paruh kedua tahun ini terbatas karena Indonesia belum mampu menahan penyebaran wabah. Namun, pemerintah tetap melanjutkan pembukaan kembali ekonomi yang dimulai pada awal Juni meskipun terjadi lonjakan tingkat infeksi harian.

Baca juga: Mengapa Investasi Penting untuk Melawan Inflasi?

Pemerintah fokus pada peningkatan belanja dengan mengalokasikan Rp 695,2 triliun dari APBN untuk menggairahkan perekonomian dan memperkuat respons pandemi negara. Namun, birokrasi telah memperlambat pencairan, yang diperkirakan akan menunda dampaknya terhadap perekonomian.

Pemerintah baru mengucurkan 7,83% anggaran untuk kesehatan dan 7,9% anggaran untuk kementerian dan pemerintah daerah yang merupakan garda terdepan dalam penanggulangan pandemi. Sedangkan pembiayaan korporasi belum mendapatkan dana.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengharapkan ekonomi tumbuh tidak lebih dari 0,5%, atau berkontraksi lebih lanjut di kuartal ketiga. Namun, Kepala Satgas Pemulihan Ekonomi Nasional Budi Gunadi Sadikin menilai, proses pencairan dana harus dipercepat agar perekonomian bisa naik.

Diversifikasikan Portofoliomu dengan Investasi Emas Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk membeli emas digital dengan harga paling kompetitif di pasaran! Selisih harga jual-beli terendah dan tanpa biaya tersembunyi apapun. Emas yang kamu beli aman karena disimpan di Kliring Berjangka Indonesia (BUMN), produk emas Pluang dikelola oleh PT PG Berjangka yang sudah terlisensi dan diawasi oleh BAPPEBTI. Kamu juga bisa menarik fisik emasnya dalam bentuk logam mulia Antam dengan kadar 999.9 mulai dari kepingan 1 gram hingga 100 gram!

Simak juga:

9 Rekomendasi Buku Keuangan Terbaik Ini Dijamin Bikin Kamu ‘Melek’ Finansial

Outlook Dolar AS Masih Terlihat Bearish, Lalu Apa Rekomendasinya?

Investor Institusional dan Investor Ritel, Apa Bedanya?

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img