Currently set to Index
Currently set to Follow

Apa Itu Indikator Teknikal?

Indikator teknikal adalah gambaran atau grafis yang menangkap tren dan pola pergerakan harga dan volume perdagangan antar waktu. Selain itu, indikator teknikal juga digunakan untuk menggambarkan pergerakan posisi beli atau jual yang belum ditutup di dalam bursa derivatif.

Trader dan investor biasanya memanfaatkan indikator teknikal untuk meramal kondisi pasar dan harga sebuah instrumen di masa depan. Tujuannya, agar mereka bisa menentukan waktu yang tepat untuk masuk atau keluar dari pasar sebuah instrumen.

Dengan indikator teknikal, trader dan investor menghimpun dan mengolah data-data historis harga sebuah instrumen di masa lampau. Beberapa contoh dari indikator teknikal adalah Relative Strength Index (RSI), Money Flow Index, Stochastics, Moving Average Convergence Divergence (MACD), dan Bollinger Bands.

Baca juga: Lagi Coba Main Saham? Ini 7 Indikator untuk Pahami Analisis Teknikal!

Indikator Teknikal Adalah Ilmu Membaca Pergerakan Pola Sebuah Instrumen

Indikator teknikal adalah ilmu yang mendalami cara mengevaluasi kinerja sebuah aset dan melihat peluang-peluang dengan menganalisis tren statistik dari kegiatan trading. Ilmu ini utamanya fokus pada pergerakan data, sinyal trading, dan beberapa grafik lainnya yang menunjukkan kuat atau tidaknya pergerakan pola data tersebut.

Analisis teknikal bisa digunakan trader dan investor untuk menganalisis data historis seluruh instrumen. Hal ini termasuk saham, kontrak berjangka, komoditas, obligasi,k mata uang, hingga aset kripto.

Indikator teknikal umumnya digunakan oleh trader yang aktif. Sebab, mereka diharuskan untuk rajin menganalisis segala pergerakan harga di jangka pendek. Makanya, analisis teknikal lebih banyak digunakan oleh mereka yang doyan menganalisis pergerakan harga komoditas dan valuta asing, sebuah aktivitas yang lebih banyak memanfaatkan analisis pergerakan harga jangka pendek.

Namun, analisis teknikal juga digunakan oleh investor jangka panjang untuk menentukan saat yang tepat untuk masuk atau keluar dari pasar. Nah, investor jangka panjang biasanya juga memadukan indikator teknikal dengan indikator fundamental untuk memutuskan apakah ia akan bertahan di suatu instrumen atau tidak.

Adapun, indikator fundamental adalah data-data finansial atau makroekonomi yang bisa mempengaruhi “nilai intrinsik” sebuah aset. Contoh dari indikator fundamental adalah laporan keuangan perusahaan, data pertumbuhan ekonomi, hingga data tingkat inflasi.

Sejatinya, indikator teknikal bukanlah “lawan” dari analisis fundamental. Namun, investor atau trader harus memadukan keduanya agar mendapat gambaran yang lebih luas dan detail ihwal hal-hal yang terjadi di pasar sebuah instrumen.

Baca juga: Yuk, Pahami Pola dan Tren Harga Aset Melalui Analisis Teknikal di Sini!

Tipe-Tipe Indikator Teknikal

Pada umumnya, terdapat dua tipe indikator teknikal yang digunakan trader dan investor. Dua tipe tersebut adalah:

  1. Overlays. Ini merupakan jenis indikator teknikal yang membandingkan pola pergerakan harga sebuah instrumen dengan variabel lain yang memiliki skala (atau satuan) serupa dengan harga instrumen tersebut. Contoh dari indikator overlays adalah Moving Averages (MA) dan Bollinger Bands. Penjelasan MA dan Bollinger Band masing-masing terdapat di artikel ini dan artikel ini.
  2. Oscillators. Ini adalah indikator teknikal yang membandingkan situasi “gejolaknya” (oscillate) harga dalam satu rentang nilai minimum dan maksimum terhadap pergerakan harga instrumen itu sendiri. Contoh dari indikator oscillators adalah Relative Strength Index (penjelasannya terdapat di artikel ini) dan MACD, yang dijabarkan lebih lanjut di artikel berikut.

Trader dan investor biasanya tidak memilih menggunakan overlays atau oscillators. Mereka biasanya menggunakan keduanya untuk menentukan indikator apa saja yang bisa menggambarkan situasi yang mereka inginkan.

Contoh Indikator Teknikal

Indikator teknikal adalah
Sumber: Tradingview

Grafik di atas menunjukkan pola pergerakan harga Ethereum sejak Maret hingga 28 Mei 2021. Pada gambar di atas, terdapat dua indikator yang dipakai, yakni Moving Average mewakili indikator overlays dan RSI mewakili indikator oscillators.

Adapun terdapat dua MA yang tergambar dari indikator di atas, yakni MA 50 hari (garis biru) dan MA 200 hari (garis hijau). Sementara indikator RSI diperlihatkan dalam area ungu.

Dari gambar di atas, diketahui bahwa pergerakan harga 50 hari terakhir berada di atas pergerakan harga 200 hari. Hal ini mengindikasikan bahwa tren harga secara keseluruhan bersifat positif.

Sementara itu, indikator RSI terlihat berada di area netral, namun mengarah ke area bawah. Mengacu pada penjelasan artikel ini, hal tersebut mengindikasikan bahwa indikator RSI mengarah ke posisi bearish.

Baca juga: Apa Saja Indikator Analisis Teknikal yang Penting di Aset Kripto? Simak di Sini!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Sumber: Investopedia

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img