Currently set to Index
Currently set to Follow

Bitcoin Lagi Bearish? Simak Cara Mengenali Sinyalnya dan Bertahan Agar Cuan!

Nasib Bitcoin terbilang mengenaskan setelah sempat tembus rekor pada pertengahan April lalu. Banyak pihak yang menyebut Bitcoin dalam situasi bearish setelah pelemahan yang berkepanjangan ini. Lalu bagaimana kita bisa mengenali sinyal Bitcoin bearish?

Saat artikel ini ditulis, Bitcoin diperdagangkan di bawah US$40.000 dan secara grafik harganya terus melemah sejak 10 Mei 2021. Padahal pada pertengahan April lalu, harga Bitcoin menembus level tertinggi sepanjang masa di angka US$63.000.

Dalam kondisi seperti ini, mungkin Sobat Cuan bertanya-tanya. Apakah mungkin kamu masih bisa bertahan dan rapopo di kondisi seperti ini?

Lalu bagaimana cara mengenali sinyal Bitcoin bearish agar kita bisa memasang posisi, dan menanggulangi pelemahannya? Berikut ini adalah beberapa cara mengenali sinyal Bitcoin bearish.

Baca juga: Aturan Pajak Cryptocurrency Bisa Bikin BTC & ETH Makin Anjlok? Simak di Sini!

Bitcoin Lagi Bearish? Simak Cara Mengenali Sinyalnya dan Bertahan Agar Cuan!, Pluang

Mengenali Sinyal Bearish Bitcoin

1. Menipisnya Volume Perdagangan Bitcoin

Yang pertama, kamu bisa melihat tren dari volume perdagangan Bitcoin versus dengan pergerakan harganya.

Jika memang volume perdagangan Bitcoin semakin menyimpang dari pergerakan harga Bitcoin, mungkin ada baiknya kamu mencurigai fenomena tersebut.

Contohnya bisa kita lihat di dalam grafik harga Bitcoin mingguan yang disusun Coindesk sejak Juli 2020 hingga awal Maret 2021. Grafik bagian atas mencerminkan pergerakan harga, sementara volume perdagangan terletak di bagian bawahnya.

Bitcoin Lagi Bearish? Simak Cara Mengenali Sinyalnya dan Bertahan Agar Cuan!, Pluang
Sumber: Coindesk

Pada grafik di atas, kita dapat melihat bahwa volume perdagangan telah menurun setelah harga Bitcoin memuncak di Januari. Namun, di sisi lain, harga tren Bitcoin malah menanjak terus, menciptakan gap yang lebar dengan tren volume perdagangannya.

Perbedaan antara volume dan harga ini dikenal sebagai divergensi volume dan biasanya menandakan bahwa aliran dana baru yang memasuki pasar sudah ‘mengering’ dan momentum beli berkurang.

Divergensi volume terkadang menyiratkan bahwa situasi bullish beralih ke posisi menahan kepemilikan. Investor menunggu lebih banyak kepastian di pasar sebelum membeli lebih banyak Bitcoin. Dalam hal ini, harga cenderung bergerak datar dengan volatilitas turun.

Baca juga: Tenang, Prediksi Harga Bitcoin Jangka Panjang Tembus Rp3,62 Miliar di 2025 Lho!

2. Divergensi RSI jadi Sinyal Bitcoin Bearish

Volume bukanlah satu-satunya indikator yang menunjukkan perbedaan yang kuat pada grafik perdagangan bitcoin saat ini. Ada juga perubahan yang terlihat pada Relative Strength Index (RSI) mingguan.

RSI adalah indikator utama yang menunjukkan kapan aset overbought (jenuh beli) dengan kemungkinan melemah dan oversold (jenuh jual) dengan kemungkinan naik. Adapun penjelasan lebih lengkap mengenai RSI bisa kamu baca di artikel ini.

Lantas, kapan indikator RSI bisa “meramal” situasi bearish? Nah, jawabannya bisa kamu temukan dengan membandingkan tren pergerakan RSI dan tren harga Bitcoin seperti di bawah ini.

Bitcoin Lagi Bearish? Simak Cara Mengenali Sinyalnya dan Bertahan Agar Cuan!, Pluang
Sumber: Coindesk

Sebagai informasi, rentang indikator RSI terdiri dari 0 hingga 100. Umumnya, sebuah harga aset akan memasuki overbought (jenuh beli) jika menembus angka 70. Sementara itu, sebuah harga aset akan menyentuh teritori oversold (jenuh jual) jika berada di bawah angka 30.

Kemudian, harga sebuah aset biasanya akan crash jika memasuki teritori overbought, dan begitu pun sebaliknya. Grafik di atas menunjukkan bahwa RSI berada di atas 70, artinya harga Bitcoin sudah berada di wilayah overbought.

Kemudian, Sobat Cuan juga perlu membandingkannya dengan tren harganya. Jika memang trennya satu sama lain kian menjauh, mungkin kamu perlu waspada. Seperti yang terlihat di grafik di atas.

3. Gap CME Bitcoin

Chicago Merchantile Exchange (CME) adalah lembaga finansial yang berfokus pada produk derivatif atau berjangka. Nah, salah satu produk andalan mereka saat ini adalah CME Bitcoin yang mengukur kinerja produk berjangka aset kripto terbesar ini.

Perlu diketahui bahwa harga pada grafik berjangka CME Bitcoin ditetapkan selama jam tutup, yakni pukul 16.00 waktu setempat saat hari kerja. Jadi, misalkan, jika harga Bitcoin adalah US$50.000 saat CME ditutup, di situlah harga akan tetap sampai bursa dibuka kembali.

Hanya saja, pasar kripto buka 24 jam seminggu. Sehingga, harga CME akan “tidur” dan tidak mengikuti pergerakan harga sesungguhnya saat bursa CME tutup. CME akan memperbarui harganya kembali saat bursa kembali beroperasi.

Sebagai contoh, jika pasar CME kembali buka Senin pagi, maka harga pembukaannya akan menghasilkan selisih dengan harga penutupan pada Jumat. Nah, inilah yang disebut dengan celah (gap) pada harga Bitcoin CME.

Mengapa gap ini cukup penting? Gap CME, tanpa alasan yang terbukti, bertindak seperti magnet untuk membentuk pola harga baru.

Trader biasanya memiliki kecenderungan untuk mengembalikan harga Bitcoin CME ke posisi sebenarnya. Namun, jika gap tersebut belum terisi, maka kamu perlu wanti-wanti soal terjadinya bearish di pasar Bitcoin.

Baca juga: Bingung Pilih Trading atau HODL? Simak Tips Investasi Cryptocurrency Ini!

Tips Mitigasi Risiko saat Bitcoin Bearish

Jika Sobat Cuan memutuskan untuk bertahan dengan Bitcoin saat situasi bearish, ada dua hal simpel yang perlu kamu lakukan:

1. Perbanyak Belajar dan Gali Informasi

Di saat cuaca Bitcoin sedang mendung, kamu perlu menjelajahi tren, meneliti indikator utama, dan mencari saran dari para profesional. Selain itu, kamu juga bisa menelaah berbagai informasi dan analisis di internet untuk membuktikan apakah tebakan kamu soal bearish adalah benar.

Persiapan menyeluruh adalah cara terbaik untuk mengatasi volatilitas saat Bitcoin bearish. Tujuannya, apalagi kalau bukan mendinginkan kepala kamu saat orang lain panik dan mengambil keputusan terburu-buru saat harga Bitcoin mulai bearish.

2. Diversifikasi

Meskipun sebagian besar investor menganggap cryptocurrency sebagai tambahan yang bagus untuk portofolio aset tradisional seperti saham dan obligasi, banyak yang melupakan perlunya mendiversifikasi aset digital itu sendiri.

Faktanya, ada beberapa varian investasi kripto yang sangat bervariasi dalam hal risiko dan prospek.

Untuk token, masuk akal untuk mendapatkan satu set token yang dapat diandalkan seperti Bitcoin dan Ethereum. Kemudian, ada beberapa altcoin dengan potensi pertumbuhan yang kuat dengan aset yang didasarkan kelas aset tradisional, misalnya real estat.

Produk investasi tersebut kini lebih mudah diakses oleh investor ritel sembari mempertahankan potensi pertumbuhan yang stabil. Dimana ada juga penawaran token perdana (ICO), salah satu investasi kripto yang paling berisiko.

Untuk ICO, pastikan untuk melakukan riset sebanyak mungkin dan hanya berinvestasi dalam token perusahaan dengan reputasi yang kuat. Pastikan model bisnis mereka jelas, yang menunjukkan dengan tepat bagaimana proyek tersebut akan menguntungkan investor.

Kesimpulan

Bersiaplah untuk volatilitas pasar. Bertahan dalam Bitcoin bearish membutuhkan kewaspadaan tingkat tinggi. Jadi, hindari kepanikan dan selalu bersiaga.

Dapat dimaklumi, akan sulit untuk duduk diam dan menunggu saat pasar bearish sedang terjadi. Tetapi jika Sobat Cuan berhasil menahan diri dari aksi jual yang dipicu oleh kepanikan, kamu dapat melewati periode tersebut dengan tenang.

Baca juga: Apa Saja Indikator Analisis Teknikal yang Penting di Aset Kripto? Simak di Sini!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Coindesk, Finextra

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img