Currently set to Index
Currently set to Follow

Ada Prediksi Harga Bitcoin Turun, Apakah Itu Hal Wajar?

Sobat Cuan, seperti kita ketahui harga Bitcoin saat ini sedang dalam situasi yang volatil hingga muncul prediksi harga Bitcoin turun. Hal itu pun disadari oleh beberapa jasa penasihat keuangan internasional. Salah satunya adalah Guggenheim Partners yang mengatakan bahwa aset kripto terbesar di dunia itu telah naik terlalu jauh. Bahkan, terlalu cepat.

“Mengingat pergerakan besar-besaran yang kita alami dalam harga Bitcoin jangka pendek, semuanya menjadi sangat ‘berbusa’. Saya pikir kita akan memiliki koreksi harga besar dalam Bitcoin,” kata Global Chief Investment Officer Guggenheim Partners Scott Minerd .

Guggenheim Partners sendiri mengaku optimistis dengan outlook harga Bitcoin di jangka panjang. Namun, tidak demikian untuk menaksir harga Bitcoin di jangka pendek. Sebagai buktinya, saat ini Bitcoin diperdagangkan di bawah US$55.000 per token. Padahal seminggu sebelumnya Bitcoin menembus level tertinggi sepanjang masa hampir US$65.000.

“Saya pikir bisa mengalami pelemahan ke US$20.000 hingga US$30.000 untuk Bitcoin, yang akan menjadi penurunan 50%,” imbuh dia.

Ada Prediksi Harga Bitcoin Turun, Apakah Itu Hal Wajar?, Pluang

Apakah Harga Bitcoin Turun Adalah Hal Normal?

Tetapi, di kesempatan yang sama, Minerd mengatakan bahwa kejadian ini juga pernah terjadi sebelumnya. Ia mengatakan bahwa penurunan harga sementara ini merupakan evolusi normal dalam pasar bullish jangka panjang. Di mana, nantinya harga Bitcoin akhirnya bisa mencapai antara US$400.000 hingga US$600.000 per unit.

Ia masih meyakini bahwa kelangkaan Bitcoin akan masih menjadi pendorong kenaikan harga raja aset kripto ini. Sekadar informasi, di dunia ini hanya terdapat 21 juta keping Bitcoin yang akan habis ditambang 2021 mendatang. Sesuai hukum permintaan dan penawaran, maka menipisnya suplai akan mengarah ke kenaikan harga.

Sebelumnya, Minerd pernah membagikan pandangan ini ketika harga Bitcoin melampaui level US$20.000 untuk pertama kalinya pada Desember 2020.

Baca juga: Alasan Kenapa HODL adalah Strategi Investasi Bitcoin yang Bikin Cuan

Harga Bitcoin Pernah Turun karena Crypto Winter, Namun Terbukti Bangkit

Bitcoin terus mengalami reli besar-besaran yang dimulai pada tahun 2020, dengan melonjak hampir 90% sepanjang tahun ini. Adopsi Bitcoin oleh institusi dan perusahaan dinilai sebagai salah satu faktor yang memicu kebangkitannya.

Beberapa perusahaan seperti Tesla menginvestasikan sebagian dari kepemilikan kas mereka dalam Bitcoin. Sementara itu, perusahaan jasa keuangan dari Mastercard hingga Goldman Sachs mulai menyediakan produk yang terkait aset kripto.

Meski demikian, laju kenaikan Bitcoin mulai mengkhawatirkan. Bahkan oleh beberapa figur bullish seperti Minerd, yang juga memperingatkan pelemahan besar jangka pendek pada awal tahun ini. Sementara beberapa pihak bearish terus berpendapat bahwa Bitcoin berada dalam bubble yang pada akhirnya akan pecah.

Bill Miller, value investor kawakan yang telah memiliki Bitcoin selama bertahun-tahun, mengatakan bahwa dia tidak khawatir tentang aset kripto yang berada dalam gelembung.

Baca juga: Bitcoin Amblas Bukan Kiamat! Ini Prediksi Harga Bitcoin Naik Selanjutnya!

Ia merujuk situasi pada tahun 2017, ketika mencapai rekor tertinggi hampir US$20.000. Dimana Bitcoin kemudian terus turun tajam di bulan-bulan berikutnya, kehilangan sekitar 80% nilainya yang dikenal sebagai “crypto winter” atau “musim dingin kripto”.

“Pasokan [Bitcoin] tumbuh 2% setahun dan permintaan tumbuh lebih tingga. Hanya itu yang perlu diketahui, dan itu berarti harga semakin tinggi. Namun ini mungkin bukan pergerakan mulus ke atas, karena volatilitas adalah ‘harga’ yang Anda bayar untuk performa Bitcoin,” kata Miller.

Ingat Siklus Empat Tahunan Bitcoin

Jika merujuk pada ucapan analis di atas, bisa disimpulkan bahwa amblasnya harga Bitcoin belakangan ini mungkin adalah hal yang wajar. Nah, untuk memahaminya lebih lanjut, ada baiknya kita mengunjungi kembali pembahasan mengenai siklus aset kripto.

Bagi mereka yang menggandrungi aset kripto, mungkin tahu soal mitos yang mengatakan bahwa harga Bitcoin memiliki siklus tersendiri. Yakni, satu siklus di mana tren harga Bitcoin punya pola yang berulang dalam kurun empat tahunan.

Kondisi tersebut mulai menjadi perhatian peminat Bitcoin setelah melihat anjloknya harga Bitcoin pada 2019 lalu. Para analis dan investor meyakini bahwa siklus harga Bitcoin empat tahunan memiliki empat fase berbeda di setiap tahunnya. Fase itu antara lain Fase Harga Eksponensial, Fase Harga Terkoreksi, Fase Harga Pemulihan, dan Fase Harga Berkelanjutan.

Menurut teori tersebut, seharusnya Bitcoin memasuki fase harga berkelanjutan di tahun 2021 ini. Yakni, fase di mana psikologis investor tengah termotivasi untuk melakukan aksi beli ketimbang aksi jual meski harga tengah menanjak.

Kendati “ilmu” ini dipercaya oleh fans Bitcoin garis keras, nyatanya masih ada yang meragukan akurasi dari pola yang dimaksud.

Baca juga: Ampun Bang Jago! Ini 7 Aset Kripto Yang Berani Nantang Dominasi Bitcoin!

Analis aset digital Benjamin Cowen adalah salah satu diantaranya. Menurutnya, siklus harga Bitcoin tidak akan selalu terjadi selama empat tahun sekali lantaran mekanisme permintaan-penawaran Bitcoin pasti juga akan berubah seiring waktu.

Tak hanya itu, semakin maraknya jumlah investor Bitcoin juga tentu telah mengubah pendapat pelaku pasar secara keseluruhan ihwal sentimen bullish dan bearish harga Bitcoin. Oleh karenanya, ia percaya bahwa satu fase harga Bitcoin, misalnya harga terkoreksi atau fase harga pemulihan, bisa saja terjadi lebih dari setahun atau bahkan dua tahun di masa depan.

Namun, apapun prediksinya, seluruh ahli tersebut sepakat bahwa memang harga Bitcoin suatu saat akan pulih di masa depan. Nah, apakah Sobat Cuan tak mau memanfaatkan momen saat ini untuk menyerok Bitcoin demi cuan masa depan? Langsung saja, yuk, investasi di Pluang!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: CNBC

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img