Currently set to Index
Currently set to Follow

Di Tengah Harga Altcoin yang Lagi Melonjak, Kenapa Bitcoin Masih Lebih Baik?

Pekan lalu menjadi pekan yang bersejarah bagi kancah investasi aset kripto. Untuk pertama kalinya, kapitalisasi pasar aset kripto menyentuh US$2 triliun untuk pertama kalinya.

Meski memang Bitcoin mengambil setengah dari kapitalisasi pasar tersebut, tembusnya angka kapitalisasi pasar ke level tersebut justru disebabkan oleh pergerakan altcoin. Alias, aset-aset kripto lain yang merupakan teman sepermainan Bitcoin.

Yang pertama tentu saja Ethereum. Aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua di dunia ini mencatatkan rekor baru pada akhir pekan lalu setelah hampir menyentuh US$2.200 per keping. Hal itu dikarenakan antusiasme penggemar aset kripto terhadap teknologi decentralized finance (DeFi) dan antisipasi atas pembaruan sistem Ethereum 2.0.

Begitu juga dengan Binance Coin (BNB), yang harganya sudah mencapai rekor tertinggi di periode yang sama, yakni US$423 per keping.

Tak ketinggalan pula Ripple, yang akhirnya juga menembus US$1 per keping untuk pertama kalinya di pekan lalu. Seluruh altcoin tersebut terdorong angin segar bahwa investor institusi, termasuk korporasi, telah menyusup ke kancah investasi aset kripto. Peristiwa tersebut pun kemudian terkenal di kalangan pecinta aset kripto sebagai altcoin season.

Bagi para spekulator, altcoin season adalah momen yang tepat untuk mendulang cuan. Hanya saja, banyak yang beranggapan bahwa memegang altcoin untuk jangka panjang adalah tindakan yang gegabah. Sehingga, lebih baik bagi investor untuk tetap menggenggam Bitcoin. Benarkah pendapat itu?

Baca juga: Apa Itu Altcoin?

Di Tengah Harga Altcoin yang Lagi Melonjak, Kenapa Bitcoin Masih Lebih Baik?, Pluang

Investasi Aset Kripto: Kekurangan Altcoin

Memang, selama ini altcoin hadir untuk menjawab kritik yang selalu dialamatkan ke Bitcoin. Misalnya volatilitas harganya yang kencang, harganya yang terlalu mahal, hingga dianggap tidak praktis untuk transaksi lantaran tidak ada regulasi yang mendukungnya.

Namun demikian, Chief Operating Officer CoinFlip Ben Weiss mengatakan, altcoin kemungkinan tidak akan bisa memberikan imbal hasil dalam jangka panjang.

Selain itu, penggemar aset kripto juga tak bisa membedakan fungsi atau keunggulan satu altcoin dibanding altcoin lainnya. Hal ini nantinya bisa mengarahkan harga altcoin untuk dibentuk dari spekulasi dan pompom semata. Dengan kata lain, menggenggam altcoin dalam jangka panjang akan percuma karena beberapa diantaranya tidak akan memiliki nilai guna di masa depan.

“Altcoin memberikan kesempatan masyarakat untuk mendulang cuan yang besar, jika kita melihatnya dari sisi persentase kenaikannya. Tapi, di saat yang sama, risiko investasinya juga tinggi,” jelas Weiss.

Ia kemudian merujuk pada kasus meroketnya harga Dogecoin pada awal tahun lalu. Mengutip Coinmarketcap, harga Dogecoin sempat meroket 650% dari US$0,007 per keping menjadi US$0,053 per keping dalam semalam di akhir Januari. Hanya saja, sampai saat ini, tidak ada yang bisa menjelaskan alasan mendasar di balik kegilaan Dogecoin.

Masyarakat hanya mengetahui bahwa Dogecoin adalah altcoin yang sedang hype, namun mereka tidak tahu mengenai potensi masa depannya plus kegunaannya. Makanya, tak heran jika harganya langsung drop separuhnya dua minggu kemudian ketika keranjingan mengenai Dogecoin mulai mereda.

“Makanya, lebih baik berinvestasi di sesuatu yang memang Anda percaya di jangka panjang, daripada ikut-ikutan tren semata. Sebab, popularitas yang melejit tiba-tiba, artinya bisa bikin Anda kehilangan semua secara tiba-tiba juga,” tutur dia.

Baca juga: Apa Itu Cryptocurrency?

Investasi Aset Kripto: Bitcoin Lebih Baik

Di sisi lain, Bitcoin juga memiliki harga yang cukup volatil. Bahkan, pada tahun 2018, harganya pernah anjlok 65% dalam peristiwa yang dikenang sebagai Bitcoin Crash.

Hanya saja, banyak yang menganggap risiko investasi Bitcoin menjadi lebih mudah terukur dibanding altcoin lantaran kapitalisasi pasarnya yang besar dan banyak informasi yang memadai tentang Bitcoin.

Saat ini, kapitalisasi pasar Bitcoin tercatat di angka US$1,13 triliun, atau setara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Dengan nilai kapitalisasi pasar sebesar itu, tentu semua mata pecinta aset kripto akan selalu mengawasi dengan ketat pergerakan raja aset kripto satu ini.

Sementara itu, risiko investasi Bitcoin juga bisa dilihat dari keterbukaan informasi mengenainya. Salah satunya mengenai mekanisme penawarannya.

Pecinta aset kripto sudah paham bahwa pasokan Bitcoin hanya dibatasi mencapai 21 juta keping di seluruh dunia, sehingga pasokannya suatu saat akan habis. Sesuai hukum penawaran dan permintaan, hal itu memberi petunjuk bahwa harga Bitcoin bisa jadi akan beranjak naik terus karena kelangkaan suplainya.

Maka dari itu, tak heran jika banyak investor institusi yang kini melihat Bitcoin sebagai aset pelindung kekayaan, dari mulai Microstrategy hingga Tesla.

Bahkan, informasi-informasi seperti ini pun memudahkan analis dalam memprediksi harga Bitcoin ke depan. Salah satu analisis yang terkenal adalah model stock-to-flow yang diperkenalkan oleh analis berinisial Plan B pada 2019 silam.

Perhitungan stock-to-flow sendiri mengacu pada jumlah komoditas beredar (stock) yang dibandingkan dengan jumlah produksinya (flow) dalam satu jangka waktu tertentu.

Pendekatan ini mengasumsikan bahwa harga Bitcoin ke depan akan sangat dipengaruhi dengan kelangkaan suplainya di jagat maya. Apalagi, suplai Bitcoin pun sudah diketahui publik, yakni sebanyak 21 juta keping yang sedianya akan selesai ditambang pada 2140 mendatang. Selain itu, publik juga sudah mengetahui bahwa fenomena halving akan terjadi setelah 210 ribu Bitcoin selesai ditambang, atau setiap empat tahun sekali.

Investasi Aset Kripto: Masih Nekat Investasi Altcoin? Coba Strategi Dollar Cost Averaging

Namun, tidak ada salahnya juga jika investor ingin menjajal investasi altcoin. Tentu saja, hal itu perlu disertai dengan mitigasi risiko yang mumpuni.

Salah satu strategi yang bisa digunakan adalah strategi Dollar Cost Averaging (DCA) yang diperkenalkan oleh raja saham dunia Warren Buffet untuk mencegah dampak negatif volatilitas harga. Di dalam strategi ini, investor bisa mendiversifikasi aset kripto untuk menyebar risiko. Kemudian, ia bisa berinvestasi di masing-masing aset kripto secara rutin berapa pun nilainya.

Misalnya, jika seorang investor memiliki uang Rp100 juta, ia tidak usah langsung menginvestasikannya ke aset kripto sekaligus. Namun, bisa saja ia berinvestasi Rp10 juta dalam 10 bulan ke dalam keranjang Bitcoin dan aset altcoin lainnya.

Pada akhirnya, harga Bitcoin memang lebih mahal daripada altcoin. Namun, harga yang tinggi itu pun setimpal dengan kenyamanan berinvestasinya. Apakah kamu sudah siap berinvestasi Bitcoin? Yuk, segera investasi Bitcoin di Pluang!

Baca juga: Orang-Orang Ini Tajir Berkat Bitcoin. Siapa Saja?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: US News, Coinmaketcap, Tokens24

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img