Currently set to Index
Currently set to Follow

Sobat Cuan, Yuk Kenalan dengan 7 Istilah Decentralized Finance Berikut!

Menggali cuan dari sistem keuangan terdesentralisasi, atau istilah kerennya decentralized finance, memang tengah menjadi tren di kalangan pecinta aset kripto belakangan ini.

Hanya saja, istilah-istilah decentralized finance ini kadang terdengar asing dan memusingkan. Bahkan, beberapa diantaranya pun tidak memiliki padanan pada istilah finansial konvensional.

Kamu yang sudah terjun mendulang cuan dalam dunia DeFi mungkin sudah sering mendengar istilah-istilah ini. Apakah sudah tahu arti istilah-istilah tersebut? Jika belum, berikut penjelasannya!

Istilah Populer Decentralized Finance

1. Total Value Locked 

Jika dunia finansial konvensional mengenal loan to deposit ratio (LDR), total value locked (TVL) merupakan padanan konsepnya di dalam istilah decentralized finance. 

TVL adalah agregat aset kripto yang terkunci dalam protokol DeFi di liquidity pools. Aset tersebut adalah milik liquidity provider (LP) yang sedang melakukan yield farming.

TVL sangat berguna untuk memberikan informasi mengenai suku bunga secara umum dalam liquidity pools. Juga, kamu dapat membandingkan antar protokol dan memilih mana yang lagi undervalued.

Baca juga: Apa itu Yield Farming?

2. Price to Sales Ratio (P/S Ratio) dalam DeFi

Istilah ini merujuk pada indikator yang juga digunakan dalam bisnis tradisional, yakni rasio antara harga saham dan pendapatan operasionalnya. Hal serupa juga dapat diukur dalam dunia DeFi.

Bedanya, dalam dunia DeFi, kamu perlu membagi protokol pasar modal berdasarkan pendapatan operasional atau revenue-nya. Semakin rendah rasionya, berarti harganya semakin undervalued.

Bagaimana pun, ini tidak bisa dijadikan standar baku untuk mengukur valuasi dengan akurat. Hanya saja, kamu dapat memperoleh gambaran protokol mana yang lebih atraktif saat ini.

Baca juga: Apa itu Centralized Market?

3. Token Supply on Exchanges dalam DeFi

Trader biasanya akan memanfaatkan centralized exchanges (CEXs) ketika mereka ingin menjual tokennya. Namun, mereka juga memiliki opsi untuk menjual melalui decentralized exchanges (DEXs) yang tidak membutuhkan kepercayaan sebagai perantaranya.

Bagaimanapun, CEXs biasanya memiliki likuiditas yang lebih kuat sehingga penting untuk kamu perhatikan pergerakannya.

Strategi ini dipakai dengan melakukan tracking suplai token dana mata uang kripto. Saat likuiditas token di bursa banyak, maka akan terjadi tekanan jual. Dengan demikian, tidak banyak liquidity provider (alias nasabah DeFi) yang menggunakan kepemilikannya sebagai kolateral karena mereka memilih untuk menjualnya.

Perhatikan suplai token sebelum mulai spekulasimu, ya!

Sobat Cuan, Yuk Kenalan dengan 7 Istilah Decentralized Finance Berikut!, Pluang

4. Token Balance Change on Exchange dalam DeFi

Selain memperhatikan suplai token, saldo token juga perlu diperhatikan. Memperhatikan tiap perubahan dalam token akan memberitau kita volatilitas pasar yang terjadi saat ini.

Jika ada penarikan token secara besar-besaran, maka kamu bisa menyimpulkan bahwa sedang ada penadah. Kamu bisa cuan apabila dapat memanfaatkan situasi itu dengan baik.

5. Unique Address Count

Unique address adalah alamat dari gawai yang mengakses dalam protokol DeFi. Meskipun masih terbatas, jumlah unique address terus meningkat setiap waktunya. Peningkatan ini mengindikasikan meningkat pula penggunaannya.

Semakin banyak unique address mengindikasikan bahwa protokol itu sudah sering digunakan. Meski begitu, terkadang unique address ini bisa dimanipulasi agar seolah tampak telah banyak digunakan.

Kamu tetap harus jeli membandingkannya dengan faktor lain ya, Sobat Cuan.

Baca juga: Apa itu Tapering?

6. Non-Speculative Usage

Kamu sebaiknya mengetahui dengan jelas kegunaan token yang kamu beli, alih-alih hanya menggunakannya sebagai alat spekulasi. Meski menggiurkan, imbal hasil spekulasi mungkin akan berdampak buruk pada finansialmu. Nah, token-token yang punya nilai guna jelas inilah yang disebut sebagai non-speculative usage

Memahami untuk apa token digunakan sangat penting, sebab itulah nilai sebenarnya dari token yang kamu miliki. Bukan sekedar tren berskema ponzi, mata uang ini merupakan alat transaksi yang memiliki tujuan tertentu.

Kamu bisa mengeceknya dengan melihat jumlah transaksi dan memperhatikan berapa kali transaksi itu tidak dilakukan sekedar untuk spekulasi.

7. Istilah Tingkat Inflasi dalam Decentralized Finance

Pasokan terbatas belum tentu indikasi baik bahwa harga tokenmu akan terus meningkat. Kamu perlu memperhatikan metrik lain yakni tingkat inflasi.

Sebagaimana pada dunia finansial konvensional, istilah tingkat inflasi pada decentralized finance juga merujuk definisi yang serupa.

Jika kamu memiliki koin dengan pasokan yang besar, mungkin saja nilai koinmu akan semakin tidak berharga karena permintaannya tidak sebanding dengan suplainya. Hal inilah yang dimaksud dengan tingkat inflasi pada dunia DeFi.

Namun tentu saja tidak dapat dijadikan satu-satunya tolok ukur. Koin yang kamu miliki saat ini pasokannya mungkin kecil, jika terus dicetak kelak jumlahnya akan menjamur..

Tingkat inflasi rendah merupakan pertanda bagus sebab secara teoritis artinya akan membuat nilai koinmu tidak terkikis.

Sayangnya, tidak ada angka pasti berapa tingkat inflasi yang dapat dikatakan rendah maupun tinggi. Kamu harus membandingkannya dengan metrik lain juga ya, Sobat Cuan!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Binance
spot_img

Artikel Terbaru

spot_img