Currently set to Index
Currently set to Follow

Kenapa Sih, Bitcoin Bisa Punya Nilai? Yuk, Simak Penjelasannya di Sini!

Selama ini, kita selalu melihat harga Bitcoin naik-turun setiap harinya. Kadang, harga Bitcoin bisa melesat bak roket. Namun di sisi lain, harga Bitcoin juga bisa terpelanting tajam hanya dalam sedetik.

Fluktuasi harga adalah salah satu hal yang dipantau investor dalam berinvestasi Bitcoin. Namun, bagi mereka yang masih skeptis, Bitcoin masih dianggap sebagai mata uang “bohongan”. Mitos lain lagi mengatakan bahwa Bitcoin tak punya nilai intrinsik. Apa betul seperti demikian?

Nah, untuk mengetahui apakah Bitcoin memang benar-benar punya nilai, mari mundur sedikit ke belakang untuk mengkaji kesesuaian Bitcoin sebagai mata uang.

Baca juga: Apa Itu Mata Uang Kripto?

Kenapa Sih, Bitcoin Bisa Punya Nilai? Yuk, Simak Penjelasannya di Sini!, Pluang

Syarat-Syarat Mata Uang Untuk Melihat Nilai Bitcoin

Bitcoin selama ini dianggap sebagai alternatif dari uang fiat. Yakni, sebuah alat tukar dan alat penyimpan kekayaan yang mampu bertahan dalam jangka panjang dan nilainya tidak rentan terkikis oleh waktu.

Dulu, nilai mata uang konvensional selalu ditautkan dengan harga komoditas, khususnya emas. Makanya, mata uang seperti poundsterling Inggris dan dolar AS dulu sering dikaitkan menggunakan standar emas.

Namun kini, negara-negara telah meninggalkan standar emas untuk menentukan nilai mata uangnya dan beralih ke mekanisme penawaran dan permintaan yang disebut sebagai kebijakan nilai tukar mengambang (floating exchange rate policy).

Selain mekanisme permintaan dan penawaran, nilai mata uang pun ditentukan oleh syarat-syarat seperti di bawah ini:

1. Kelangkaan

Salah satu kunci untuk menentukan nilai mata uang adalah penawaran dan permintaanya. Jika suplai sebuah mata uang berlebihan, maka hal itu akan menyebabkan inflasi yang tinggi. Sementara itu, jika suplai mata uang cenderung sedikit, maka perputaran uang akan minim dan menghambat pertumbuhan ekonomi.

Untuk menjaga ekulibrium permintaan dan penawaran mata uang, bank sentral biasanya melakukan kebijakan moneter atau makroprudensial. Misalnya, jika suplai uang semakin langka, maka bank sentral akan menurunkan tingkat suku bunga acuan atau melakukan kebijakan operasi pasar terbuka (open market policy) demi meningkatkan perputaran uang.

2. Bisa Dibagi-Bagi

Sebuah mata uang juga bernilai karena ia bisa dibagi-bagi hingga satuan terkecil, atau biasa disebut divisibile. Sebab, divisibility akan membantu masyarakat untuk bertransaksi barang dan jasa yang secara akurat menggambarkan nilai dari barang dan jasa tersebut sebenarnya.

3. Utilitas

Mata uang tentu harus memiliki kegunaan agar bisa dipakai secara masif. Kegunaan tersebut tentu adalah agar bisa digunakan sebagai alat tukar. Selain itu, sifat utilitas dari mata uang adalah praktis dan bisa dibawa ke mana pun.

4. Gampang Berpindah Tangan

Sebuah mata uang harus bisa berpindah tangan secara mudah antar penggenggamnya agar memiliki nilai guna. Dalam konteks uang fiat, satu unit mata uang harus bisa dikonversikan ke mata uang lain dan juga bisa digunakan di dalam negeri.

5. Durabilitas

Sebuah mata uang harus bisa bertahan dalam jangka panjang. Uang kertas dan koin memang suatu saat akan hancur dan rusak, namun biasanya bank sentral akan terus menggantinya.

6. Tidak Dapat Dipalsukan

Selain tahan lama, sebuah mata uang juga harus susah dipalsukan. Sebab, jika mata uang palsu semakin beredar, maka suplainya akan bertambah dan menurunkan mata uang itu sendiri.

Baca juga: Apa Itu Blockchain dan Cryptocurrency?

Apakah Nilai Bitcoin Telah Memenuhi Syarat-Syarat Mata Uang di Atas?

1. Kelangkaan

Ketika diluncurkan pada 2009 silam, Bitcoin disebut-sebut hanya memiliki suplai sebanyak 21 juta keping yang akan habis ditambang pada 2140 mendatang.

Sehingga, suplai yang mengetat seharusnya akan bikin nilai sebuah Bitcoin melesat jika memang permintaannya konstan atau meningkat. Hal yang sama juga terjadi di fluktuasi harga logam mulia.

Hanya saja, mekanisme permintaan dan penawaran uang fiat dikontrol oleh bank sentral. Sementara itu, belum ada satu otoritas yang mengendalikan suplai dan permintaan Bitcoin.

Di samping itu, masih belum ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi dengan harga Bitcoin setelah semuanya selesai ditambang satu abad kemudian.

2. Bisa Dibagi-Bagi

Secara umum, jumlah suplai Bitcoin yang hanya 21 juta tentu lebih kecil dari sirkulasi mata uang lain di dunia ini. Kendati demikian, nilai Bitcoin sejatinya masih bisa dibagi-bagi ke satuan terkecil, bahkan hingga delapan angka di belakang koma.

Adapun, saat ini unit terkecil Bitcoin terbilang 0,00000001 Bitcoin, yang disebut sebagai Satoshi Unit. Bahkan, Satoshi Unit memiliki tingkat keterbagian (divisibility) yang besar dibanding dolar AS.

Nilai terkecil dolar AS saat ini dihitung dalam satuan sen, yakni 1/100 dari US$1. Namun, Satoshi Unit memiliki nilai 1/100.000.000 dari 1 keping Bitcoin.

Nah, faktor divisibility ini yang menyebabkan banyak orang bisa menggengam Bitcoin dan memiliki permintaan yang konstan. Bayangkan jika unit terkecil Bitcoin adalah 1 unit dengan harga Rp700 juta per unitnya, tentu orang-orang lain yang tidak tajir tidak akan bisa memilikinya.

3. Utilitas

Salah satu nilai jual Bitcoin adalah kegunaan teknologi blockchain. Blockchain adalah sistem pencatatan transaksi secara otomatis dan transparan.

Sistem blockchain Bitcoin menggunakan sistem Proof of Work, yakni sistem di mana seluruh komputer di dalam jaringan Bitcoin harus mencapai kata sepakat sebelum memverifikasi penambangan dan transaksi baru.

Nah, untuk menjaga sistem blockchain, maka pengembang harus mengeluarkan uang untuk menjaga sistemnya. Selain itu, sistem Proof of Work juga membutuhkan daya listrik besar, yang tentu saja bikin tagihan listrik bengkak. Dua komponen biaya inilah yang menjadi nilai “beneran” dari Bitcoin.

Di masa depan, banyak yang memprediksi bahwa sistem blockchain akan bisa digunakan di luar transaksi aset kripto.

4. Gampang Berpindah Tangan

Berkat kehadiran dompet digital dan alat lainnya, kini Bitcoin bisa berpindah tangan dengan mudah.

5. Durabilitas

Jika uang fiat rusak, maka bank sentral benar-benar akan memusnahkannya dan menggantinya dengan yang baru. Sehingga, uang fiat tersebut tidak sah lagi digunakan sebagai alat tukar. Namun, hal serupa tidak terjadi di Bitcoin.

Keping-keping Bitcoin tidak dapat hancur lantaran akan terus tercatat di dalam jaringan blockchain. Hanya saja, Bitcoin tidak bisa digunakan jika memang aset kripto tersebut terkunci di dompet digital, di mana sang empunya lupa kata sandi untuk mengaksesnya.

6. Tidak Dapat Dipalsukan

Bitcoin susah dipalsukan berkat kehadiran sistem blockchain. Bahkan, sistem blockchain pun tahan dari serangan peretasan. Sebab, ketatnya data transaksi Bitcoin yang disimpan di dalam blockchain membuat perubahan satu jengkal di dalamnya menjadi susah bukan kepalang.

Perlu diingat bahwa sistem blockchain terdiri dari beberapa “blok”, atau serangkaian transaksi Bitcoin yang baru diproses. Setiap bloknya tersambung dengan blok sebelumnya dalam satu fungsi kriptografi, sehingga blok-blok tersebut membentuk suatu rantai (chain).

Blockchain adalah sebuah jurnal yang hanya bisa ditulis saja oleh pengaksesnya. Seseorang bisa menambah informasi di dalamnya, tapi segala tambahan informasi itu tidak dapat diubah di kemudian hari. Alhasil, segala transaksi Bitcoin yang sudah dilakukan pasti akan “tertimbun” oleh transaksi-transaksi yang baru dan susah untuk diubah-ubah.

Baca juga: Mending Investasi Emas atau Bitcoin? Simak Saran 10 Pakar Investasi Ini!

Tantangan Nilai Bitcoin

Secara umum, Bitcoin bisa dibilang memenuhi unsur mata uang di atas. Hanya saja, tetap ada rintangan yang bisa menghambat Bitcoin sebagai sebuah mata uang. Apa sajakah hal tersebut?

1. Status Bitcoin Sebagai Alat Penyimpan Kekayaan Mudah Goyah

Bagi uang fiat, nilainya sebagai alat penyimpan kekayaan muncul karena ia bisa digunakan untuk alat tukar menukar. Namun, Bitcoin masih belum bisa mencapai tahap seperti demikian. Jika Bitcoin tidak bisa digunakan sebagai alat tukar, maka Bitcoin tidak punya nilai intrinsik dan tidak akan menarik sebagai alat penyimpan kekayaan.

2. Nilai Bitcoin Tidak “Dijaga” oleh Komoditas

Seperti mata uang fiat, nilai Bitcoin tidak ditopang oleh komoditas fisik seperti logam emas. Mekanisme permintaan dan penawaran uang fiat boleh saja dikontrol oleh bank sentral. Namun, tidak demikian halnya dengan Bitcoin.

Hingga saat ini, belum ada otoritas tertentu yang berani intervensi ketika ada mekanisme permintaan dan penawaran Bitcoin yang “tidak sehat”. Maka dari itu, bukan tidak mungkin jika harga Bitcoin bisa menuju ke arah bubble jika permintaannya tak terkendali.

Baca juga: Ini Alasan Mengapa Kamu Sebaiknya Berinvestasi di Bitcoin

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Investopedia

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img