Currently set to Index
Currently set to Follow

Kenapa Reksadana Pendapatan Tetap Sedang Naik Daun di 2021?

Di saat pandemi yang penuh dengan ketidakpastian seperti saat ini, Reksadana Pendapatan Tetap atau RDPT jadi pilihan para investor dalam negeri.

Hal ini terlihat dari jumlah porsi Reksadana Pendapatan Tetap terhadap seluruh total Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana di Indonesia. Data Otoritas Jasa Keuangan per Juni 2021 memperlihatkan, NAB reksadana jenis ini mengambil porsi 26,72% dari total NAB total sebesar Rp536,1 triliun. Persentase ini naik dibandingkan Januari yakni 24,04%.

Lantas, apa saja sih hal-hal yang membuat reksadana ini naik daun sepanjang tahun ini? Yuk, simak bersama!

Baca juga: 7 Kiat Memilih Manajer Investasi yang Tepat Untuk Reksadana

NAB Susut, Reksadana Pendapatan Tetap Malah Tumbuh

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total NAB (NAB) reksadana pendapatan tetap telah tumbuh 4,3% sejak Januari hingga Juni lalu. Sementara itu, pada periode yang sama, total NAB dari semua jenis reksadana justru mengalami penyusutan 6,1%.

Hal tersebut bisa terlihat pada tabel di bawah ini.

Tak hanya itu, dari total NAB reksadana per Juni 2021 senilai Rp536,1 triliun, RDPT mengambil porsi terbesar dari NAB total, yakni 26,72%. Menyusul berikutnya adalah reksadana saham dan pasar uang yang masing-masing mengambil 22,78% dan 19,25% dari NAB keseluruhan.

Data ini merepresentasikan masih tingginya animo investor dalam negeri untuk tetap berinvestasi, meski instrumen yang dipilih ialah instrumen yang terbilang aman. Lantas, mengapa sih pilihan mereka jatuh kepada RDPT?

Baca juga: Yuk, Coba Diversifikasi Investasi dengan Teori Markowitz. Apakah Itu?

Alasan Reksadana Pendapatan Tetap Gemilang di Tahun Ini

Ahli reksadana tanah air menyebut terdapat dua alasan kenapa reksadana pendapatan tetap terbilang kian populer belakangan ini. Apa saja alasan tersebut?

1. Selera Risiko Investor yang Kian Risk Averse

Praktisi reksadana Ezra Nazula mengatakan, reksadana pendapatan tetap sedang digemari lantaran fluktuasinya tak terlalu kencang. Maklum, di saat situasi ekonomi yang tak menentu di tengah pandemi COVID-19, investor pasti akan mencari instrumen yang “pasti-pasti saja”.

Apalagi, imbal hasil RDPT pun terbilang lebih unggul dibanding aset berisiko rendah lainnya, seperti deposito.

Contohnya, produk reksadana pendapatan tetap di Pluang, UOB Dana Membangun Negeri, memiliki return 10,5% per tahun per 29 Juli 2021. Sementara itu, tingkat bunga deposito perbankan berada di bawah 5% di periode yang sama. Melihat data ini, tentu saja investor sudah bisa menambatkan pilihannya, bukan?

Kenapa Reksadana Pendapatan Tetap Sedang Naik Daun di 2021?, Pluang

2. Rezim Suku Bunga Rendah

Sejak tahun lalu, Bank Indonesia selalu memasang sikap dovish. Terakhir, otoritas moneter itu memasang suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) pada level 3,5%.

Nah, dalam hal ini, praktisi reksadana Rudiyanto mengatakan bahwa era suku bunga rendah dapat memberi angin segar kepada instrumen obligasi, yang menjadi underlying asset reksadana pendapatan tetap. Apa sebabnya?

Pertama, ketika suku bunga rendah, investor tentu akan memilih instrumen investasi lain ketimbang menaruh uang di bank. Namun, pilihan mereka tidak jatuh ke saham. Sebab, selain volatilitasnya yang tinggi, aspek fundamental perusahaan ikutan diuji kala pandemi melanda. Apalagi, perusahaan lapis kedua dan ketiga.

Satu-satunya pilihan yang masih menjanjikan adalah obligasi, termasuk surat utang pemerintah. Kebetulan, obligasi sendiri adalah aset dasar dari RDPT, sehingga instrumen ini cocok bagi mereka yang sedang “main aman” kala pandemi.

Kedua, suku bunga rendah meningkatkan harga obligasi, yang menjadi underlying asset reksadana jenis ini. Sehingga, hal itu pun akhirnya bikin RDPT punya pertumbuhan kinerja yang gemilang.

Penjelasannya seperti ini, Sobat Cuan. Era suku bunga rendah tidak hanya memengaruhi suku bunga bank, melainkan juga menurunkan yield surat utang.

Nah, jika yield turun, maka harga obligasi cenderung meningkat. Sebab, sesuai teorinya, yield selalu bertolak belakang dengan harga obligasi. Alasan ini pula yang membuat investor mulai beralih pada reksadana pendapatan tetap.

Situasi ini memang ideal bagi pertumbuhan reksadana pendapatan tetap yang bisa terus positif. Tapi, bagaimana sih prospek ke depannya?

Baca juga: Pinjaman Kripto Vs Pinjaman Bank, Mana yang Lebih Menguntungkan?

Prospek Reksadana Pendapatan Tetap

Tahun 2020 merupakan tahun kejayaan RDPT yang masih berlanjut hingga tahun ini. Hal ini dipicu dengan pemangkasan suku bunga yang masif saat itu guna memberi stimulus moneter kepada dunia usaha yang terdampak Pandemi COVID-19.

Namun, era ini tidak mungkin berlangsung selamanya. Apalagi The Fed mulai mengirim sinyal tapering pada tahun 2023 menyusul tingginya inflasi di negaranya.

Jika pemangkasan suku bunga tidak lagi agresif, kemungkinan kinerja reksadana pendapatan tetap tidak lagi dapat setinggi tahun 2020.

Meski begitu, setidaknya hingga Juli 2021, RDPT tetap menjadi bintang di hati para investor domestik. Hal ini dibuktikan dengan pertumbuhan year-to-date 0,67%. Optimisme ini didukung juga oleh kinerja obligasi korporasi yang naik 3,02% dan surat utang pemerintah yang naik 2,09% pada periode yang sama.

Karenanya, diperkirakan RDPT akan tetap menarik terutama didorong oleh kinerja obligasi korporasi yang diuntungkan oleh era suku bunga rendah.

Jadi bagaimana Sobat Cuan? Apakah kamu makin tertarik berinvestasi di reksadana pendapatan tetap? Yuk, segera investasi di produk reksadana Pluang, UOB Dana Membangun Negeri, sekarang! Apalagi kamu bisa mendapatkannya mulai dari Rp15.000 saja, lho!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Kontan, Bareksa, OJK

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img