Currently set to Index
Currently set to Follow

Sobat Cuan Mau Nyemplung ke Reksadana? Kenali Risikonya Dulu, Yuk!

Investasi reksadana nampaknya sedang terlihat naik daun selama pagebluk COVID-19. Hal ini dibuktikan oleh data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang menunjukkan bahwa investor reksadana pada akhir 2020 tercatat 3,16 juta, atau melesat 78,3% dibanding 1,77 juta orang di 2019.

Mudahnya akses investasi dan juga minimnya tingkat risiko menjadi alasan investasi reksadana digemari belakangan ini. Selain itu, kinerja reksadana tahun lalu juga cukup moncer, seperti yang bisa Sobat Cuan baca di artikel ini.

Hanya saja, minim risiko bukan berarti bebas risiko, Sobat Cuan!

Ibarat dua sisi mata uang, investasi reksadana pasti memiliki risiko yang melekat di balik keuntungan yang ditawarkan. Makanya, sebagai investor, kita perlu mengelola risiko tersebut dengan apik.

Memang, risiko investasi reksadana paling jelas dapat terlihat di instrumen aset dasarnya (underlying asset). Misalnya, jungkat-jungkit kinerja saham tentu akan mempengaruhi reksadana saham. Sementara itu, kinerja pasar uang tentu juga berdampak ke kinerja reksadana pasar uang.

Namun, terdapat pula risiko umum lainnya yang timbul dalam reksadana. Nah, bagi Sobat Cuan yang baru mau nyemplung ke instrumen investasi reksadana, berikut beberapa risiko yang harus dipelajari ya.

Baca juga: Kaum Milenial, Berapa Banyak Investasi yang Mesti Kamu Punya?

Sobat Cuan Mau Nyemplung ke Reksadana? Kenali Risikonya Dulu, Yuk!, Pluang

Berbagai Macam Risiko Investasi Reksadana

1. Harga Aset Berubah, Nilai Investasi Pun Berubah

Sobat cuan yang akan membeli produk reksadana pastinya harus rajin memantau nilai aktiva bersih (NAB)/UP. Sebab, nilai ini merupakan cerminan dari harga reksadana yang kamu miliki.

Kamu harus paham bahwa harga reksadana bisa berubah-ubah seiring dengan nilai pasar yang berlaku saat itu.

Sebagai contoh, anggap saja kamu sudah membeli UP reksadana saham. Nah, jika pasar saham mengalami sentimen negatif dan mengakibatkan anjloknya saham yang dikoleksi oleh MI, maka hal itu juga akan berpengaruh terhadap nilai investasi reksadana yang kamu milki.

Begitu pula sebaliknya, jika ada sentimen positif yang dan mendongkrak harga saham, maka reksadana yang kamu miliki juga akan terdongkrak. Itulah alasan mengapa Sobat Cuan harus mengenali profil risiko diri sendiri sebelum memilih reksadana.

Nah, apakah Sobat Cuan penasaran mengenai seluk beluk profil risiko? Yuk, meluncur ke artikel berikut!

2. Pencairannya Makan Waktu

Saat akan menjual UP reksa dana, Sobat Cuan harus menunggu maksimal 7 hari kerja agar dana pencairannya masuk ke rekening. Hal ini biasanya dikenal dengan istilah T+7, yang disandarkan pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan tentang reksa dana berbentuk kontrak investaso kolektif (KIK).

Dalam proses pencairannya, MI sebagai pengelola dana memiliki batasan waktu tersebut terhitung sejak investor melakukan instruksi penjualan reksadananya. Prosesnya bisa juga lebih cepat tergantung dari penyediaan dana yang dilakukan oleh MI.

Bagi sebagian orang, hal ini bukanlah isu utama. Namun, bagi sebagian lainnya, masalah likuiditas ini dianggap sebagai risiko investasi reksadana. Menurut kamu bagaimana, Sobat Cuan?

3. Risiko Gagal Bayar

Risiko investasi reksadana ini muncul ketika Manajer Investasi tidak bisa memenuhi kewajibannya untuk membayarkan nilai investasi masing-masing investor. Hal ini biasanya terjadi pada produk reksadana yang memiliki basis investasi berupa surat utang perusahaan.

Jadi, ketika obligor mengalami masalah keuangan dan berujung pada kesulitan pengembalian nilai pokok beserta kupon bunganya, maka hal itu akan berdampak ke kinerja reksadana yang dimliki.

Oleh karena itu, biasanya ada laporan dari perusahaan pemeringkatan efek yang memberikan analisisnya terkait surat utang korporasi. Tujuannya, agar investor bisa memahami bagaimana kondisi keuangan dan kemampuan bayar obligor tersebut.

Baca juga: Hai Sobat Cuan, Begini Lho Cara Maksimalkan Cuan di Reksadana Pendapatan Tetap

4. Risiko Ekonomi dan Politik

Kondisi ekonomi dan politik di dalam ataupun luar negeri juga memengaruhi imbal hasil produk reksadana. Begitu pun dengan kebijakan yang diambil oleh pemerintah.

Sebagai contoh, wacana kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang bergaung beberapa waktu belakangan tentu akan memukul industri manufaktur dan barang-barang konsumsi. Sehingga, mungkin nilai sahamnya akan ambrol di masa depan. Hal itu mungkin saja akan berdampak ke nilai kelolaan reksadana yang kamu miliki.

Bagaimana Cara Mitigasi Risiko Investasi Reksadana?

Layaknya produk investasi lainnya, tidak ada risiko yang tidak bisa dimitigasi, Sobat Cuan. Maka dari itu, yuk perhatikan kiat-kiat meminimalisasi dampak dari risiko investasi reksadana di bawah ini:

  1. Diversifikasi. Cara ini terbilang metode yang efektif dalam menyebar risiko berinvestasi reksadana. Sehingga, jika ada salah satu produk yang mengalami penurunan nilai, maka masih ada produk lain yang “selamat”. Apa itu diversifikasi? Jawabannya bisa kamu temukan di artikel ini.
  2. Underlying asset beragam. Hal ini juga dimaksudkan untuk melindungi kamu dari eksposur risiko yang dihasilkan oleh satu aset. Misalnya, jika kamu ingin berinvestasi reksadana saham, pastikan sang perusahaan Manajemen Aset menempatkanya di saham lintas sektor.
  3. Hindari membenamkan seluruh dana reksadana bersifat tematik. Karena, jenis reksadana ini biasanya memang memiliki imbal hasil yang menggiurkan, namun sifatnya hanya “musiman”.
  4. Berinvestasi dengan dana pribadi. Betul, jangan pakai dana orang lain ya, Sobat Cuan!

Nah, Sobat Cuan sudah siap berinvestasi reksadana? Tetap ingat untuk menyesuaikan aset investasimu dengan profil risikomu, ya!

Baca juga: Apa Itu Reksadana?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Sumber: Bareksa

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img