Currently set to Index
Currently set to Follow

Bisa Gak Sih, Kamu Rugi di Reksadana Pendapatan Tetap? Simak Di Sini!

Pasar saham terkenal dengan volatilitas harganya yang sudah diprediksi. Bak sedang naik roller coaster, trader saham harus sudah mempersiapkan segala risiko ketika sedang membenamkan dananya di beberapa saham pilihan. Nah, salah satu strategi mitigasi risiko tersebut adalah dengan mendiversifikasikan aset ke reksadana pendapatan tetap.

Apa itu reksadana pendapatan tetap? Sama seperti bentuk reksadana lainnya, reksadana pendapatan tetap merupakan wadah atas dana para investor. Bedanya, terletak di alokasi portofolio investasinya.

Produk reksa dana pendapatan tetap didominasi oleh aset investasi berupa obligasi alias surat utang yang memiliki tenor lebih dari 1 tahun. Minimal 80% dari keseluruhan penempatan dana dibenamkan di instrumen investasi tersebut. Hal ini berbeda dengan produk reksadana saham, yang memiliki underlying asset berupa saham, atau reksadana pasar uang.

Lantas, mengapa jenis reksadana ini disebut “pendapatan tetap”? Ini lantaran imbal hasil yang ditawarkan oleh obligasi bersifat tetap, sesuai dengan kupon yang diberikan. Makanya, jenis investasi ini cocok untuk investor yang masuk dalam golongan konservatif – moderat.

Dengan mengalokasikan sebagian dana di reksa dana pendapatan tetap (RDPT), investor dapat memetik keuntungan dengan relatif mudah. Maklum, proses pengelolaan dana dilakukan oleh manajer investasi, sehingga investor tidak perlu repot untuk memantau perkembangan unit penyertaan (UP) yang dimilki.

Selain itu, investor pun tidak perlu dana yang besar untuk menggenggam reksadana ini. Dengan modal Rp100 ribu, investor sudah bisa membeli produk reksadana pendapatan tetap yang diinginkan.

Produk ini cocok untuk dijadikan tujuan investasi jangka menengah. Alias, imbal hasil maksimal biasanya baru bisa dirasakan investor dalam jangka waktu satu hingga tahun.

Namun, menilik dari nama jenis reksadana ini, tentu Sobat Cuan juga akan mempertanyakan satu pertanyaan: Kalau reksadana ini disebut “pendapatan tetap”, apakah instrumen ini selamanya akan menghasilkan pendapatan? Kemudian, apakah investor bisa rugi menggenggam reksadana ini?

Baca juga:Apa Itu Reksadana?

Bisa Gak Sih, Kamu Rugi di Reksadana Pendapatan Tetap? Simak Di Sini!, Pluang

Reksadana Pendapatan Tetap Juga Punya Risiko

Nah, Sobat Cuan perlu memahami bahwa reksaddana pendapatan tetap adalah produk pasar modal. Sensitivitas harganya juga sama seperti pasar modal. Sehingga, investor pun perlu lihai dalam mengelola risikonya.

Perlu juga dipahami, bahwa yang namanya investasi tidak melulu soal keuntungan. Terdapat juga risiko yang harus diperhitungkan saat investor sudah memutuskan untuk berinvestasi di instrumen tertentu.

Untuk kasus reksadana pendapatan tetap, risiko yang kemungkinan dihadapi adalah penurunan Nilai Aktiva Bersih (NAB) dari produk reksadana yang dimiliki.

Seperti disinggung sebelumnya, alokasi dana investasi dalam produk reksadana tersebut didominasi oleh penempatan di surat utang atau obligasi.

Seharusnya, investor sudah paham mengenai imbal hasilnya dari besaran kupon obligasi tersebut. Namun, kadang imbal hasil investor tak sejalan dengan kuponnya, lantaran manajer investasi selalu mengelola kembali pendapatan yang berasal dari kupon obligasi ke obligasi lainnya. Ini yang menyebabkan nilai NAB berflutuasi.

Investor harus mengerti bahwa keuntungan sudah berada di genggaman ketika NAB reksadana meningkat. Namun, begitu pula sebaliknya. Ketika nilai NAB menyusut, dan kebetulan saat itu sedang membutuhkan dana segar, mau tidak mau pemilik UP di reksa dana tersebut menjualnya dalam keadaan harga yang lebih rendah saat pembelian.

Risiko seperti itu bisa saja terjadi, sehingga pemilihan instrumen obligasi menjadi hal vital untuk dicermati.

Risiko Reksadana Pendapatan Tetap: Alasan NAB Jungkat-Jungkit

Salah satu penyebab fluktuatifnya NAB reksadana pendapatan tetap adalah pergerakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).

Jika BI memangkas suku bunga acuannya, maka penerbitan obligasi baru akan menghasilkan nilai kupon yang rendah. Sehingga, investor akan berburu obligasi lama namun memilki kupon lebih baik. Sesuai hukum ekonomi, maka permintaan yang tinggi akan membuat harga obligasi lama tersebut terkerek naik.

Hal lain yang menyebabkan perubahan imbal hasil reksadana pendapatan tetap adalah hasil pemeringkatan surat utang.

Biasanya setiap bulan atau triwulan, lembaga pemeringkat utang memberikan hasil peringkat utang atas obligasi yang sudah beredar. Semakin baik hasil peringkatnya, maka semakin kecil juga risiko yang harus ditanggung investor akibat potensi gagal bayar. Begitu pun sebaliknya.

Peringkat obligasi sangat dipengaruhi oleh kondisi keuangan dan juga bisnis obligornya. Namun sebenarnya, hal itu sangat jarang terjadi.

Berdasarkan data Infovesta, sejak tahun 2005, baru ada 3 periode reksadana pendapatan tetap yang mencatatakan rugi. Yakni, pada tahun 2005 sebesar -1,67%, 2013 sebesar -4,53% dan 2018 sebesar -2,2%.

Namun, berbicara perkara imbal hasil, keuntungan rata-rata yang diterima reksadana pendapatan tetap berkisar di angka 3% pada 2002 sampai 2019. Bahkan, pertumbuhan imbal hasil tertinggi dari reksadana pendapatan tetap pernah mencapai 17,73% di 2006.

Baca juga: Kaum Milenial, Berapa Banyak Investasi yang Mesti Kamu Punya?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img