Currently set to Index
Currently set to Follow

Terlihat Mirip, Apa Perbedaan Reksadana Pendapatan Tetap & Reksadana Terproteksi? 

Instrumen reksadana mendadak happening saat pandemi. Banyak orang yang sengaja menahan dana konsumsinya untuk dialokasikan ke instrumen investasi seperti reksadana. Salah satunya, adalah reksadana pendapatan tetap.

Hal ini dibuktikan oleh data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menunjukkan bahwa total dana kelolaan reksadana pada Desember 2020 lalu mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah, yakni menembus Rp573,54 triliun. Capaian tersebut meningkat 5,78% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yakni Rp542,17 triliun.

Pencapaian tersebut disebabkan oleh kinerja positif beberapa jenis reksadana. Diantaranya, adalah reksadana pendapatan tetap yang return-nya ternyata bertumbuh 8,99% sepanjang 2020. Tak heran jika nilai kelolaan reksadana ini mencapai Rp126 triliun di periode tersebut, atau tumbuh 11% dibanding tahun sebelumnya.

Meski demikian, mungkin saja ada beberapa investor yang ingin mencicipi cuan reksadana pendapatan tetap, namun gagal meraihnya karena keliru mengenai produk. Apalagi biasanya, investor suka bingung antara reksadana pendapatan tetap dengan reksadana terproteksi.

Padahal, bak pinang dibelah dua, sifat mereka berbeda. Hanya saja, perbedaannya tak begitu mencolok. Nah, apa saja perbedaan-perbedaan tersebut?

Baca juga: Investasi Akhir Tahun Baiknya Pilih Emas, Saham, atau Reksadana?

Terlihat Mirip, Apa Perbedaan Reksadana Pendapatan Tetap & Reksadana Terproteksi? , Pluang

Karakteristik Reksadana Pendapatan Tetap

Reksadana pendapatan tetap adalah jenis reksa dana yang portofolio investasinya dititikberatkan pada surat utang alias obligasi, baik yang diterbitkan pemerintah maupun korporasi. Minimal 80% dari total seluruh dana kelolaannya akan diinvestasikan pada aset-aset tersebut.

Manajer Investasi (MI) selaku pengelola portofolio investasi akan melakukan aktivitas jual beli obligasi untuk mendapatkan imbal hasil. Sehingga, jenis reksadana ini sangat cocok untuk Sobat Cuan yang memilki karakteristik investor konservatif. Yakni, memiliki toleransi risiko yang rendah dan tidak terlalu agresif.

Karena dominasi portofolio investasinya berada pada surat utang dan sisanya dialokasikan di saham, maka imbal hasil yang didapatkan juga tidak sebesar reksadana saham. Namun, secara manajemen risiko, jenis reksadana ini relatif lebih aman dibanding jenis reksadana lainnya.

Tetapi, lebih aman bukan berarti tidak memiliki risiko lho. Karena MI akan melakukan jual beli obligasi, maka investor bisa terkena risiko gagal bayar dari obligor atau kena getah dari ulah MI nakal yang membawa kabur dana kelolaan nasabah.

Oleh karena itu, penting bagi investor untuk melihat rekam jejak Manajer Investasi dan juga portofolio obligasi yang dikelolanya sebagai bentuk pengelolaan risiko. Jangan hanya tergiur akan besarnya imbal hasil sehingga mengsampingkan klausul dan juga portofolio obligasi yang di kelola, ya.

Nah, sebagai bentuk mitigasi risiko, setiap MI biasanya hanya akan memilih surat utang dengan peringkat efek minimal BBB. Setiap obligasi memilki kupon obligasi yang akan menjadi keuntungan bagi investor reksa dana pendapatan tetap.

Meskipun obligasi juga merupakan produk pasar modal, pergerakan harganya tidak seatraktif saham. Maklum, pembayaran dari obligor kepada para investornya diberikan dalam jumlah yang tetap per periodenya dalam bentuk kupon.

Sehingga, jenis investasi ini sangat cocok untuk investasi jangka menengah antara satu hingga lima tahun.

Nah, setelah membaca karakteristik di atas, bagaimana tentang reksadana terproteksi?

Baca juga: Kaum Milenial, Berapa Banyak Investasi yang Mesti Kamu Punya?

Karakteristik Reksadana Terproteksi

Reksadana terproteksi, atau capital protected fund, sebenarnya hampir sama dengan reksadana pendapatan tetap dari sisi kelolaan dana. Di reksadana ini, manajer investasi akan menempatkan 80% dana kelolaannya ke obligasi.

Namun, perbedaan keduanya terletak di pengelolaan reksadananya.

Di dalam reksadana pendapatan tetap, manajer investasi bisa melakukan jual beli instrumen obligasi. Namun, di reksadana terproteksi, manajer investasi hanya akan mengelola dana di obligasi sampai tanggal jatuh temponya tiba.

Di sini, Sobat Cuan perlu menggarisbawahi kalimat jatuh tempo. Sebab, jika unit penyertaan (UP) yang dimilki sudah dijual sebelum jatuh tempo, maka “proteksi” atas pokok investasi yang ditawarkan menjadi tidak dijamin.

Jenis reksadana ini mirip dengan deposito atau tabungan dengan sistem kontrak pencairan. Hanya saja, dalam deposito, jangka waktu pencairan ditentukan oleh nasabah. Bisa 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun dan seterusnya.

Sementara dalam reksadana terproteksi, jangka waktu jatuh temponya akan ditentukan oleh Manajer Investasi. Selama proses penjualan reksadana mengikuti ketentuan yang berlaku, dalam arti tanggal pencairan sesuai dengan tanggal jatuh tempo obligasi, maka jumlah pokok reksadananya secara otomatis terproteksi. Dan ketika obligasi sudah jatuh tempo, maka obligor wajib untuk melunasi pokok beserta kupon obligasinya.

Untuk membeli unit penyertaan (UP) reksa dana terproteksi tidak bisa dilakukan sembarang waktu alias terbatas. Investor harus mengikuti masa penawaran yang biasanya berlangsung selama 120 hari. Saat masa tersebut, investor sudah bisa melakukan pembelian UP yang ditawarkan.

Lantas, apa sih keuntungan reksadana ini? Nah, Sobat Cuan ternyata bisa mendapatkan kupon yang tertera dalam indikasi imbal hasil saat masa penawaran dan juga dividen.

Tapi, sama seperti reksadana pendapatan tetap, reksadana terproteksi juga punya risiko sendiri, lho. Diantaranya adalah risiko pasar, risiko pelunasan lebih awal yang akhirnya akan menyebabkan penurunan harga, risiko wanprestasi dan juga risiko likuiditas dari sisi MI.

Jadi Apa Inti Perbedaan Reksadana Pendapatan Tetap dan Reksadana Terproteksi?

Secara singkat, perbedaan antara reksadana pendapatan tetap dan reksadana terproteksi mencakup empat aspek utama. Yakni

  1. Skema pengelolaan reksadana
    Di dalam reksadana pendapatan tetap, manajer investasi bisa melakukan jual-beli instrumen. Sementara itu, manajer investasi akan menggenggam obligasi sampai jatuh tempo di reksadana terproteksi.
  2. Periode subscription dan redemption
    Reksadana pendapatan tetap dapat dibeli (subscribe) atau dijual (redeem) kapan saja. Sementara itu, di reksadana terproteksi, terdapat masa penawaran yang harus diikuti investor untuk melakukan dua aktivitas tersebut.
  3. Biaya reksadana
    Investor akan dibebankan biaya subscription untuk penjualan dan biaya redemption apabila mereka mencairkan kurang dari setahun di dalam reksadana pendapatan tetap. Sementara itu, reksadana terproteksi umumnya hanya memiliki biaya redemption.

Jadi bagaimana Sobat Cuan? Mau memilih reksadana pendapatan tetap? Atau reksadana terproteksi?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Kontan, Infovesta

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img