Currently set to Index
Currently set to Follow

Inflasi Bakal Ancam S&P 500? Jangan Panik! Simak Alasannya di Sini!

Amerika Serikat (AS) sedang diliputi kekhawatiran akan menanjaknya inflasi. Pada bulan April saja, angka inflasi di Negeri Abang Sam itu sudah berada di level 4,2%, padahal di bulan Maret angka inflasi masih berada di level 2,6%.

Hal itu membawa kekhawatiran, apakah kenaikan inflasi akan memengaruhi pasar saham. Terutama indeks S&P 500, yang selama ini menjadi rujukan bagi pasar saham dunia. Apa bahayanya inflasi bagi indeks S&P 500? Hal ini bisa dibaca di artikel berikut.

Jika dilihat sekilas, kenaikan inflasi yang terjadi memang mengkhawatirkan, apalagi saat melihat kenaikan inflasi inti ke angka 3%. Namun, saat dicermati lebih dekat, melonjaknya angka inflasi lebih disebabkan oleh naiknya harga kenaikan mobil bekas sebesar 21%.

Artinya, realitas inflasi yang terjadi tidak seperti yang dikhawatirkan, di mana barang-barang pokok mengalami lonjakan dan menjadi mesin pendorong utamanya.

Lantas apakah berpengaruh terhadap S&P 500? Tak perlu khawatir, Sobat Cuan. Di tengah kecemasan, pasti akan ada peluang. Termasuk di indeks berisikan 500 perusahaan bonafide seantero AS ini.

Orang lain boleh saja khawatir. Tapi, investor indeks S&P 500 sejati biasanya tak akan panik ketika badai inflasi menerjang indeks saham tersebut. Apa saja alasannya?

Baca juga: 5 Saham Perusahaan S&P 500 Ini Tumbuh di Atas 30% di Februari, Siap Cuan?

Inflasi Bakal Ancam S&P 500? Jangan Panik! Simak Alasannya di Sini!, Pluang

Berbagai Alasan Untuk Tidak Panik Saat Inflasi “Menyerang” Indeks S&P 500

1. S&P 500 Tahan Banting Terhadap Inflasi

Indeks yang beranggotakan perusahaan-perusahaan kakap di Amerika Serikat itu sudah terbukti tahan banting terhadap lonjakan inflasi. Buktinya terdapat di dalam data-data historis.

Sebagai contoh, nilai indeks S&P 500 malah melonjak 310% antara 1941 hingga 1951. Padahal, di waktu yang sama, tingkat inflasi sudah dalam level “radang” dengan berada di angka 5%.

Ujian kembali datang di tahun 1969 hingga 1982, di mana angka inflasi lagi-lagi mendobrak level 5%. Namun, apakah hal itu berdampak terhadap kinerja S&P 500? Tidak, jika dilihat indeks S&P 500 malah naik 176%.

Sebab musabab meroketnya inflasi pada dua periode itu dipicu oleh hal yang berbeda. Pada tahun 1940-an, lonjakan inflasi disebabkan oleh fase ledakan ekonomi pasca perang. Sementara di 1970-an, angka inflasi meroket lantaran kenaikan harga energi yang dipicu oleh kenaikan tarif pajak saat itu.

Nah, jika dikaitkan dengan kekhahwatiran inflasi yang sekarang terjadi, salah satu pendiri DataTrek Research Nicholas Colas menjelaskan bahwa pasar masih menebak-nebak jenis inflasi apa yang ada saat ini dan bagaimana langkah The Fed untuk bisa menurunkan angka inflasi.

2. Sektor Energi, Material, dan Real Estat Bakal Jadi Ladang Cuan S&P 500 Saat Inflasi

Bagi investor yang membenamkan sahamnya di indeks S&P 500, rekam jejak pergerakan indeks tersebut di tahun 1970-an dapat dijadikan rujukan untuk tetap percaya bahwa indeks ini akan baik-baik saja ketika inflasi tiba.

Pasalnya selama periode tersebut, benar bahwa S&P 500 mengalami kerugian bulanan sebesar 0,3% secara rata-rata. Namun, jika dilihat secara keseluruhan, S&P 500 malah berhasil naik 17,2%.

Selain itu, dari 11 sektor yang ada dan diperdagangkan di S&P 500, hanya 1 sektor yang mengalami penurunan rata-rata setiap bulannya. Yakni, sektor keuangan, yang ternyata mengalami penurunan kinerja 0,8% setiap bulannya selama tahun 1970-an.

Ternyata, di sisi lain, sektor energi, material dan real estat semuanya malah membukukan keuntungan bulanan 1%. Bahkan, perusahaan seperti Nucor (NUE), Schlumberger (SLB) dan Baker Hughes (BKR) masing-masing mengalami kenaikan harga 2.830%, 1.032% dan 856% selama tahun 1970-an.

Baca juga: Investasi S&P 500 Bisa Bikin Kamu Sultan Lho, Simak 3 Alasannya!

3. Sektor Komoditas Akan Jadi Incaran Investor

Saat inflasi melanda, investor pasti akan lari ke saham-saham sektor komoditas untuk menjaga nilai portofolionya. Pasalnya, saat inflasi mendera hebat di tahun 1970-an lalu, sektor ini juga masuk dalam salah satu sektor yang mendulang keuntungan.

Seperti pada perusahaan emas dan logam mulia yang ada di S&P 500, perusahaan-perusahaan tersebut malah membukukan keuntungan rata-rata bulanan sebesar 3,9%. Tidak mau ketinggalan, perusahaan aluminium juga naik 2% secara bulanan, yang diikuti oleh perusahaan pengeboran minyak dan gas dengan kenaikan 1,8%.

Tetapi memang, inflasi tidak serta merta menjadi faktor penentu dalam imbal hasil S&P 500. Paling tidak, bisa dilihat bahwa pergerakan saham berlangsung selama jangka panjang.

Jadi bagaimana Sobat Cuan? Apakah kamu jadi semakin berani berinvestasi di S&P 500? Yuk, investasi di micro e-mini S&P 500 futures index di Pluang!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Investors.com

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img