Currently set to Index
Currently set to Follow

Mengapa Indeks S&P 500 Saat Ini Berisikan 505 Saham?

Indeks S&P 500 dikenal karena perusahaan beraset jumbo yang ada di dalamnya. Sang empunya indeks, Standard & Poor Global, menjuluki indeks tersebut demikian lantaran terdapat 500 perusahaan yang bernaung di dalamnya.

Hanya saja, setelah diteliti, ternyata indeks S&P 500 tidak saklek berisikan 500 saham. Namun, indeks ini ternyata berisikan 505 saham. Lantas, kenapa kondisi itu bisa terjadi?

Baca juga: Yuk, Kenalan dengan 11 Sektor di Indeks S&P 500!

Mengapa Ada 505 Saham di Indeks S&P 500?

Indeks S&P 500 memang berisikan 500 perusahaan di dalamnya. Namun, lima diantaranya ternyata punya dua macam saham di dalam indeks tersebut alias multiple stocks.

Adapun, perusahaan-perusahaan yang memiliki saham ganda di indeks S&P 500 adalah:

  1. Google memiliki kelas saham A dengan kode saham GOOG dan kelas saham B dengan kode GOOGL.
  2. Fox Corporation dengan ticker FOXA dan FOX
  3. Discovery Communication Inc dengan kode saham DISCK dan DISCA
  4. News Corporation dengan kode saham NWSA dan NWS dan
  5. Under Armour dengan kode saham UAA dan UA

Satu perusahaan bisa memiliki multiple stocks atas alasan yang berbeda-beda. Tetapi, pada umumnya, perusahaan membagi jenis sahamnya berdasarkan kelas-kelasnya. Di mana, masing-masing kelas saham itu punya peruntukkan yang berbeda. Misalkan, kelas saham A diperuntukkan bagi investor baru sementara kelas B ditujukan bagi investor yang sudah lama.

Nah, karena tujuan masing-masing kelas saham berbeda, maka penggenggam masing-masing saham tersebut juga punya mekanisme hak suara yang berbeda ketika Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perusahaan digelar.

Ambil contoh Google, yang memiliki dua kelas saham di S&P 500. Perusahaan teknologi ini melempar saham kelas A ke publik, namun saham kelas B ditujukkan bagi manajemen dan pihak pemangku kebijakan di korporasi tersebut.

Keduanya sama-sama punya hak suara dalam RUPS, meski memang proporsinya terbilang berbeda. Pemegang saham kelas publik dianggap punya kekuatan suara lebih rendah dibandingkan kelas saham yang pemegangnya terbatas.

Nah, karena hak suara antar saham berbeda, makanya dividen yang dibagikan pun berbeda. Sudah jelas, mereka yang punya hak suara lebih tinggi tentu akan diganjar jumlah dividen yang lebih mumpuni.

Mengapa Indeks S&P 500 Saat Ini Berisikan 505 Saham?, Pluang

Mengapa Pembagian Dua Kelas Saham Terjadi?

Sejatinya, pembagian jenis saham ke beberapa kelas ini lumrah terjadi di pasar modal. Tujuannya, agar pendiri perusahaan (atau mungkin beserta keturunannya) tidak akan kehilangan kendali atas perusahaan tersebut ketika sahamnya sudah dilempar ke publik.

Hal ini bisa terlihat di beberapa perusahaan seperti Ford dan perusahaan milik sang begawan saham Warren Buffett Berkshire Hathaway.

Mereka memiliki dua kelas saham, di mana salah satunya ditujukan khusus bagi manajemen dan keluarga sang pendiri perusahaan. Mereka punya hak suara kuat meskipun kepemilikan saham secara total di korporasi tersebut terbilang mini.

Hanya saja, penerbitan saham berdasarkan kelas ini terbilang cukup kontroversial. Para pendukung gagasan ini percaya bahwa pembagian saham berdasarkan kelas-kelas akan membuat pendiri perusahaan leluasa dalam melakukan aksi korporasi. Namun, penentang gagasan ini percaya bahwa hal itu malah menyebabkan ketidakadilan.

Tapi, praktik seperti itu telah terjadi. Bahkan, telah berhasil terdaftar ke indeks S&P 500.

Baca juga: Penasihat Keuangan yang Investasi di Aset Kripto Tumbuh 50% di 2020

Sejak Kapan Indeks S&P 500 Berisikan 505 Saham?

Indeks S&P 500 mulai memiliki 505 saham terdaftar sejak September 2015. Kala itu, S&P Global memperkenalkan metodologi perhitungan indeks baru yang memperkenankan perusahaan pemilik multiple stocks untuk mempunyai dua atau lebih kelas saham di indeks tersebut.

Adapun penilaiannya dilakukan berdasarkan dua hal utama: likuditas saham dan kapitalisasi pasar. Dengan kata lain, dalam menambahkan kelas saham baru ke indeks S&P 500, S&P Global mempertimbangkan nilai kapitalisasi pasar perusahaan tersebut namun mengukur likuiditas dari saham tambahan tersebut.

Sebelum metodologi ini diperkenalkan, sudah ada Google dan Discovery Communication yang memiliki dua kelas saham di indeks S&P 500. Namun, sistem seleksi baru itu akhirnya meloloskan tiga perusahaan, yakni Comcast Corp, Twenty-First Century Fox Inc, dan News Corp untuk mencantumkan satu kelas saham tambahan di indeks tersebut.

Hanya saja, aturan tersebut sudah tidak lagi berlaku sejak 2017. Alasannya sederhana, karena jika itu terus berlaku, maka investasi di perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500 tidak lagi menarik.

Seluruh investor, baik pemodal jumbo maupun investor ritel, tentu ingin punya hak suara dalam menentukan aksi korporasi perusahaan jagoannya. Sayangnya, sistem multiple stocks tersebut dianggap sebagai penghambat untuk memberikan hak suara yang dimaksud.

Tetapi, aturan tersebut tidak berlaku surut. Jadi, perusahaan yang sudah lebih dulu menerapkan aturan kelas saham sebelum adanya aturan tersebut tetap masuk dalam indeks S&P 500.

Nah, menarik bukan, Sobat Cuan? Fakta menarik lainnya dari indeks S&P 500 adalah kamu hanya bisa mendapatkannya di aplikasi Pluang!

Di Pluang, kamu bisa mengakses cuan dari 500 perusahaan top Amerika Serikat tersebut hanya dalam satu genggaman saja. Pastinya praktis, aman, dan cuan!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Thefipharmacist, Investopedia, S&P Global

spot_img

Artikel Terbaru

Performance Marketing Manager

0

Product Manager

0

Product & UX Researcher

0
spot_img