Currently set to Index
Currently set to Follow

Wahai Pemburu Cuan S&P 500, Perlukah Kalian Cemas Sell in May and Go Away?

Kinerja indeks saham S&P 500 sejak awal tahun ini hingga sekarang terus menunjukkan reli kenaikan yang aduhai. Lihat saja, kinerja indeks saham yang dihuni perusahaan beraset jumbo itu saat ini sudah berada di kisaran 4.110, atau naik 11,2% dibanding posisi awal tahun di kisaran 3.700.

Belum lagi, S&P 500 pada bulan lalu seolah-olah tak berhenti mencetak rekor. Indeks saham ini pertama kali menyentuh titik 4.000 di awal April, dan kemudian diikuti dengan titik 4.100 dua pekan kemudian.

Namun, kekhawatiran di pasar saham tiba-tiba menyeruak memasuki Mei. Apalagi kalau bukan mitos (atau peristiwa) musiman yang disebut sebagai Sell in May in Go Away. Apakah arti istilah tersebut? Nah, Sobat Cuan bisa membacanya secara lengkap di artikel berikut.

Ya, ada beberapa pandangan yang mengatakan bahwa di periode Mei hingga Oktober adalah periode negatif pergerakan pasar saham. Sehingga banyak investor yang melepas portofolio sahamnya pada masa tersebut untuk kemudian masuk lagi di penghujung tahun sambil menunggu momentum window dressing dan January effect.

Sekilas, jika dilihat secara kasat mata, nilai indeks S&P 500 memang melandai 0,46% sejak akhir April. Sehingga, bisa jadi teori Sell in May and Go Away pun ada benarnya.

Namun, Sobat Cuan perlu ingat bahwa kinerja pasar saham yang agak lesu di Mei merupakan imbas dari ekspektasi inflasi yang tinggi dari pelaku pasar.

Kecemasan ini muncul setelah pemerintah AS merilis data inflasi April yang tercatat 2,4% secara tahunan, atau laju inflasi terkencang sejak 2009 silam. Kenapa sih, investor pasar saham AS begitu cemas dengan inflasi? Nah, simak saja jawabannya di artikel ini.

Tetapi, banyak pula analis yang mengatakan bahwa investor tak perlu khawatir soal fenomena Sell in May and Go Away di tahun ini. Apa sih alasannya?

Baca juga: JPMorgan: S&P 500 Bisa Tumbuh 12% di 2021

Wahai Pemburu Cuan S&P 500, Perlukah Kalian Cemas Sell in May and Go Away?, Pluang

1. Kinerja Perusahaan S&P 500 Jauh Melebihi Ekspektasi

Perusahaan yang masuk geng S&P 500 tercatat mengalami kinerja yang tokcer saat melaporkan kinerja keuangannya pada kuartal I lalu. Atau, akrab disebut earning season.

Menurut data FactSet, 86% dari perusahaan S&P 500 yang melaporkan kinerja keuangannya telah mencatat pertumbuhan laba per saham (Earning per Share) yang melebihi ekspektasi. Hal ini merupakan capaian terbaik yang pernah dicatat FactSet sejak 2008.

Selain itu, 5 saham teknologi raksasa, Facebook, Amazon, Apple, Microsoft dan Google (FAAMG), jika digabungkan telah memiliki pendapatan bersih sebesar US$22 miliar di triwulan pertama tahun ini. Angka ini setara dengan dengan kapitalisasi pasar dari lebih 180 perusahaan dalam S&P 500.

Melihat data-data di atas, perusahaan investment bank JPMorgan mengatakan, kinerja tersebut membuktikan bahwa pasar saham AS masih akan tahan banting dengan segala rintangan di depan mata. Misalnya, wacana perubahan pajak capital gain maupun pajak korporat.

Selain itu, kinerja pasar saham yang secara umum sedang membaik ini dianggap bisa mencegah investor untuk keluar dari pasar saham AS. Menurut Credit Suisse, ada kemungkinan pertumbuhan kinerja yang lebih mantap pada kuartal II.

“Kami tidak menyarankan investor untuk melakukan Sell in May and Go Away,” jelas kepala riset pasar ekuitas Credit Suisse.

Baca juga: Cetak Rekor Terus, Apakah April Selalu Jadi Bulan Baik Bagi S&P 500?

2. Sell in May and Go Away di Indeks S&P 500 Tak Selalu Benar

Memang, data membuktikan bahwa return S&P 500 pada periode Mei hingga Oktober lebih rendah dibandingkan November hingga April. Kondisi tersebut dihimpun oleh JP Morgan sejak 1990 melalui tabel di bawah ini.

Wahai Pemburu Cuan S&P 500, Perlukah Kalian Cemas Sell in May and Go Away?, Pluang
Sumber: JP Morgan

Namun, kondisi di atas adalah kondisi rata-rata. Bukan berarti bahwa situasi tersebut mutlak terjadi setiap tahunnya. Sebab, ada masa di mana kinerja saham dari Mei hingga Oktober justru terlihat mentereng.

Sobat Cuan perlu memahami bahwa fenomena Sell in May and Go Away nampaknya tidak terjadi setelah 2010. Apalagi, menurut data JPMorgan di bawah ini, tahun 2011 adalah satu-satunya tahun di mana menjual saham di bulan Mei adalah pilihan yang jitu. Itu pun karena krisis utang Eropa terjadi bertepatan di tahun tersebut.

Wahai Pemburu Cuan S&P 500, Perlukah Kalian Cemas Sell in May and Go Away?, Pluang
Sumber: JPMorgan

Selain itu, strategi Sell in May and Go Away hanya tepat dilakukan jika rapor keuangan yang dilaporkan buruk dalam 6 bulan sebelumnya. Jadi pandangan tersebut sebenarnya sudah terbantahkan dengan masuknya earning season yang memperlihatkan hasil menggembirakan.

3. Jangan Lupakan Ekonomi AS yang Mulai Membaik

Investor kemungkinan besar tak akan meninggalkan pasar saham di Mei hingga Oktober mengingat pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung di AS.

Seperti diketahui, pemerintah AS dan bank sentral AS The Fed sudah melakukan berbagai upaya stimulus demi menghijaukan ekonomi negara Paman Sam itu. Seharusnya, dampaknya sudah mulai bisa dirasakan pada Mei hingga Oktober ini.

Salah satu buktinya sudah terlihat di kuartal I. Departemen Perdagangan AS pada April lalu merilis bahwa pertumbuhan ekonomi AS sudah mencapai 6,4%, atau pertumbuhan ekonomi kuartalan paling kencang dalam 40 tahun terakhir. Hal tersebut tentu akan membawa sentimen baik bagi pasar saham AS.

Nah, setelah membaca penjelasan di atas, apakah Sobat Cuan makin yakin berinvestasi di S&P 500? Yuk, investasi di bursa saham AS paling bonafide ini di Pluang!

Baca juga: Apa Saja Sih,10 Perusahaan yang Berperan Besar di S&P 500? 

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang

Sumber: JPMorgan, FactSet

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img