Currently set to Index
Currently set to Follow

Pengen Tajir? Nilai S&P 500 Diramal Naik 100% 10 Tahun Lagi, Lho

Kabar baik untuk para investor pasar modal. Nilai investasi indeks S&P 500, yang menjadi salah satu indeks saham paling bonafit di dunia, diprediksi bakal menyentuh level 8.000 dalam satu dekade ke depan. Jika melihat indeks S&P 500 saat ini yang berada di kisaran 4.000, artinya dalam 10 tahun kedepan, indeks tersebut akan bertumbuh ganda.

Hal itu diungkapkan oleh lembaga broker asal Amerika Serikat Sanford C. Bernstein di dalam catatannya kepada investor pada pekan lalu. Dua ahli strategi perusahaan tersebut, Inigo Fraser-Jenkins and Alla Harmsworth, mengatakan bahwa indeks S&P 500  akan bertumbuh seiring tindak-tanduk investor yang mengantisipasi kebijakan pemerintah AS.

Mereka mengatakan, kebijakan pemerintah AS yang belakangan menggelontorkan uang banyak demi pemulihan ekonomi nantinya akan berimbas ke peningkatan inflasi. Meski demikian, mereka memperkirakan bahwa bank sentral AS The Fed pun tidak akan menaikkan suku bunga acuannya demi merespons situasi tersebut. Sebab, mereka masih akan fokus dalam memulihkan ekonomi AS hingga mencapai kestabilan yang mumpuni.

“Kondisi tersebut nantinya akan menggiring investor untuk mencari imbal hasil yang lebih optimal. Sehingga, mereka akan membanjiri pasar ekuitas,” ujar Fraser-Jerkins di dalam laporannya.

Baca juga: Dari Tesla hingga Freeport, Simak Saham-Saham S&P 500 Paling Tokcer Sepanjang 2020

Investasi S&P 500 Akan Bertumbuh Seiring Optimisme Ekonomi AS

Jika ditarik ke belakang, ungkapan Stanford C. Bernstein tersebut bisa jadi ada benarnya.

Beberapa waktu ini, indeks saham utama AS seperti Dow Jones dan S&P 500 terus meroket karena pasar modal merespons sinyal-sinyal penguatan ekonomi yang ada di negara adidaya tersebut. Hal tersebut tercermin dari beberapa data ketenagakerjaan AS pada Maret, seperti angka penciptaan lapangan kerja baru, yang terlihat mumpuni.

Ke depan, Fraser-Jenkins mengatakan bahwa pergerakan indeks S&P 500 akan dimotori oleh realisasi penggelontoran stimulus jumbo AS sebesar US$1,9 triliun untuk menanggulangi pandemi COVID-19 dan US$2 triliun untuk pembangunan infrastruktur dan energi hijau. Jika stimulus tersebut berhasil mengangkan “derajat” ekonomi AS, maka bukan tidak mungkin nilai indeks S&P 500 akan terbang.

Faktor yang mempengaruhi nilai S&P 500

Adapun faktor lain yang mempengaruhi nilai S&P 500 ke depan adalah kebijakan suku bunga acuan AS. Mereka menganggap, ada kemungkinan The Fed memperlambat kenaikan suku bunga acuannya lantaran investor masih tidak siap untuk menghadapi rezim suku bunga acuan yang lebih tinggi. Apalagi, mereka semua masih dalam tahap pemulihan pasca usahanya dihantam pandemi COVID-19.

Pergerakan nilai indeks S&P 500 juga bisa semakin atraktif di luar dua faktor di atas. Laporan tersebut menganggap, investor nantinya akan kelimpungan mencari aset investasi yang bisa menghasilkan imbal hasil riil yang positif selain indeks S&P 500. Mengapa demikian?

Sekadar informasi, rendahnya suku bunga acuan tentu akan membuat aset lain, utamanya obligasi pemerintah AS, menjadi tidak menarik. Sebab, rezim suku bunga rendah akan membuat imbal hasil surat berharga negara AS juga redup. Sehingga, tidak ada alasan bagi investor untuk menggenggam aset yang bebas risiko (default free) tersebut.

Begitu pun dengan emas. Memang, kenaikan inflasi di masa depan bisa menggiring investor menggenggam logam mulia sebagai instrumen investasi yang utama. Namun, ketika pertumbuhan ekonomi lagi kencang, investor tentu akan memilih aset yang benar-benar bisa menghasilkan imbal hasil.

Nah, dalam hal ini, Fraser-Jenkins, mengatakan bahwa investor yang ingin menabung demi mempersiapkan masa pensiun bisa memilih S&P 500 sebagai instrumen investasi jitu.

Baca juga: Mau Jadi Kaya dengan Rebahan di Masa Tua? Yuk, Investasi di S&P 500!

Pengen Tajir? Nilai S&P 500 Diramal Naik 100% 10 Tahun Lagi, Lho, Pluang

Tetap Berpikir Tradisional dalam Menyoal Investasi S&P 500

Pada awal April lalu, Indeks S&P 500 telah menembus level psikologis di angka 4.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah. Hal itu terjadi karena adanya pengumuman program stimulus infrastruktur sebesar US$2 triliun yang akan dijalankan oleh Presiden AS, Joe Biden.

Penguatan tersebut berlanjut hingga pekan ini. Pada Rabu (7/4), indeks saham S&P 500 masih bertengger manis di posisi 4.000.

Meskipun proyeksi indeks S&P 500 akan mencapai 8.000 dalam satu dekade mendatang, bukan berarti investor bebas untuk membenamkan seluruh dananya di salah satu instrumen investasi tersebut.

Analis mengatakan, target tersebut harus disikapi dengan manajemen risiko yang mumpuni. Yakni dengan cara diversifikasi.

Beberapa analis menyarankan investor untuk melakukan rumus 60:40. Yakni, kondisi  di mana 60% portofolio ditujukan untuk saham dan 40% sisanya untuk obligasi. Jangan juga lupa untuk menempatkan dana di model portofolio yang memiliki aset riil dan mata uang non-fiat seperi emas ataupun aset kripto yang potensial.

Tentu saja, cara yang tepat untuk mendiversifikasikan aset adalah dengan berinvestasi di Pluang!

Baca juga: Investasi S&P 500 Bisa Bikin Kamu Sultan Lho, Simak 3 Alasannya!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Bloomberg, Marketwatch

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img