Currently set to Index
Currently set to Follow

Mau Kaya? Warren Buffett Sebut Kamu Harus Taruh 90% Uang di S&P 500!

Ada momen yang tak terduga saat begawan saham dunia, Warren Buffet menghadiri pertemuan tahunan perusahaannya, Berkshire Hathaway. pada Senin (3/5). Ia tiba-tiba memberi wejangan singkat bagi para investor yang baru menginjakkan kaki di kancah investasi. Lantas, apakah wejangan tersebut?

Menurutnya, investor baru tak usah capek-capek berinvestasi di saham tunggal untuk menjadi kaya. Hidup aman dan tenang di masa depan, jelasnya, hanya bisa dicapai jika mereka berinvestasi di reksa dana indeks S&P 500.

“Saya sangat merekomendasikan reksa dana indeks S&P 500,” jelasnya, merujuk pada indeks saham berisikan saham 500 perusahaan paling bonafide seantero AS tersebut. “Sebab, produk ini akan sangat menguntungkanmu dalam jangka panjang.”

Warren Buffett selama ini memang dikenal sebagai sosok yang mampu menghasilkan cuan dari pasar saham. Tak heran, jika segala petuahnya tentang saham laksana titah dewa bagi investor yang kerap mendambakan cuan. Meski demikian, pernyataan itu tentu bikin para investor bertanya: Mengapa harus S&P 500?

Mau Kaya? Warren Buffett Sebut Kamu Harus Taruh 90% Uang di S&P 500!, Pluang

Alasan Buffett Memilih Indeks S&P 500 Dibanding Saham Tunggal

Untuk memahami pernyataannya, Buffett kemudian membagikan satu salindia presentasi yang menggambarkan banyaknya perusahaan otomotif di AS di awal 1900. Ia kemudian menjelaskan gambar tersebut dengan mengatakan bahwa awalnya terdapat 2.000 perusahaan otomotif AS pada saat itu. Seluruhnya ingin mengambil ceruk untung di sektor tersebut lantaran diprediksi punya masa depan cerah.

Sayangnya, ramalan itu meleset. Pada 2009, imbuh Buffett, hanya terdapat tiga perusahaan saja yang masih bertahan dari sekitar 2.000 perusahaan yang dimaksud. Namun, dua diantaranya kemudian harus dinyatakan bangkrut.

Menurutnya, kondisi tersebut memberikan alasan yang kuat mengapa investor seharusnya memilih instrumen aset berbasis indeks. Sebab, investor bisa menggenggam beragam aset yang terdiversifikasi hanya dalam satu produk saja.

Hal ini tentu memiliki risiko lebih kecil dibandingkan menggenggam beberapa saham perusahaan dengan sektor homogen.

“Kalau kamu memiliki serangkaian ekuitas yang terdiversifikasi, apalagi produk ekuitas AS, maka tahanlah [aset] itu. Tapi, tahanlah selama 30 tahun.” kata dia.

Selain itu menurutnya, memilih-milih saham tunggal sebagai tujuan investasi adalah pekerjaan yang pasti akan bikin pusing investor pemula.

Untuk menggambarkan kondisi ini, Buffett kemudian menampilkan salindia lain yang berisi 20 perusahaan yang sahamnya memiliki kapitalisasi pasar besar saat ini. Daftar itu terdiri dari Apple, Saudi Aramco, Microsoft, Amazon, Alphabet, dan Facebook.

Kemudian, ia melempar pertanyaan kepada peserta pertemuan tersebut, apakah 20 perusahaan tersebut masih akan ada di pucuk dalam 30 tahun mendatang? Jawabannya, belum tentu.

Sebab nyatanya, 20 perusahaan yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar 30 tahun lalu, seperti Exxon, GE, Merck dan IBM, tidak mampu mempertahankan posisinya hingga saat ini.

“Ini menjadi pengingat bahwa kejadian luar biasa di masa depan bisa terjadi,” jelasnya.

Baca juga: Penasaran Gimana Perusahaan AS Bisa Masuk Daftar S&P 500? Simak di Sini

Mau Pilihan Investasi Tepat? Masuk di Indeks S&P 500

Saking percayanya dengan indeks S&P 500, Buffet mengklaim bahwa dia sudah menginstruksikan pada wali yang betanggung jawab atas asetnya, untuk menginvestasikan 90% dari uangnya ke dalam reksadana indeks S&P 500.

Sementara itu, sisa 10% akan ia masukkan ke dalam instrumen obligasi jangka pendek, yang nanti akan diberikan ke istrinya ketika kelak Buffett tiada.

“Saya hanya berpikir bahwa hal terbaik untuk dilakukan adalah membeli 90% dalam indeks S&P 500,” ungkapnya.

Sebenarnya, strategi investasi Buffett tersebut sudah dikenal di perencanaan pensiun dengan nama strategi 90/10. Selain karena risikonya yang rendah, strategi ini juga dikenal karena menghasilkan cuan yang mantap di masa depan.

Pertumbuhan Indeks S&P 500

Nah, pilihan Buffett bisa jadi ada benarnya, Sobat Cuan. Soalnya, nilai S&P 500 sudah terbukti menunjukkan performa luar biasa sepanjang sejarahnya di bursa saham AS. Utamanya, dalam angka laju pertumbuhan nilainya.

Indeks S&P 500 pertama kali menembus level 1.000 pada 1998 silam. Kemudian, indeks S&P 500 perlu membutuhkan waktu 16 tahun lamanya sampai akhirnya menembus level 2.000 di tahun 2014.

Namun, apakah S&P 500 membutuhkan waktu 16 tahun lagi demi mengeret nilai dari 2.000 ke 3.000? Jawabannya adalah tidak. Malahan, jangka waktunya kian cepat.

Sebab, S&P 500 hanya membutuhkan waktu lima tahun saja untuk mencapai posisi 3.000 di 2019. Kemudian, ia hanya butuh kurang dari dua tahun untuk mencapai posisi 4.000 di awal April 2021. Bahkan, yang lebih mengagumkannya lagi, nilai indeks S&P 500 sempat menyentuh 4.200 di akhir April.

Berkaca pada peristiwa tersebut, bisa disimpulkan bahwa pertumbuhan return S&P 500 semakin kencang seiring waktu. Alias, cuan investasi S&P 500 makin lama makin mantap.

Hal ini juga terlihat dari pertumbuhan return S&P 500 yang selalu mencatat dua digit setiap tahunnya. Terakhir, pada 2020 lalu, imbal hasil S&P 500 bertumbuh 18,4%.

Pasti Sobat Cuan jadi penasaran investasi di indeks S&P 500, kan? Nah, kamu bisa lho berinvestasi indeks saham terbaik AS itu melalui micro e-mini S&P 500 index futures di Pluang!

Baca juga: Psst.. Ini 5 Rahasia Sukses Warren Buffett, Tokoh Investasi Paling Sukses di Dunia

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: CNBC, The Balance

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img