Currently set to Index
Currently set to Follow

Apa Itu Kebijakan Fiskal?

DEFINISI

Kebijakan fiskal adalah mengacu pada penggunaan pengeluaran dan perpajakan oleh pemerintah untuk mempengaruhi perekonomian.

Memahami Kebijakan Fiskal

Pemerintah menggunakan kebijakan fiskal untuk membantu menjaga ekonomi suatu negara tetap di jalurnya. Menyesuaikan pembelanjaan (pengeluaran) dan pendapatan (perpajakan) dapat membantu mempercepat atau memperlambat pertumbuhan ekonomi. Kebijakan fiskal ekspansif bertujuan untuk mendorong ekonomi dan menghindari resesi, sementara kebijakan fiskal kontraktif biasanya dirancang untuk mengekang inflasi yang cepat.

Pada akhirnya, tujuan kebijakan fiskal adalah menjaga pertumbuhan ekonomi pada tingkat yang sehat – cukup cepat, tetapi tidak terlalu cepat. Pemerintah menggabungkan kebijakan fiskal dengan kebijakan moneter, yang memengaruhi perekonomian dengan mengelola pasokan uang dan suku bunga.

CONTOH

Pada tahun 2007, Amerika Serikat memasuki Resesi Hebat (Great Recession), penurunan ekonomi terbesar sejak Depresi Hebat (Great Depression) pada tahun 1929. Jutaan orang kehilangan rumah dan tabungan mereka, serta tingkat pengangguran mencapai 10%. Sebagai tanggapan, Kongres menggunakan kebijakan fiskal dalam dua bentuk undang-undang untuk meningkatkan pengeluaran dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Undang-Undang Stimulus Ekonomi (The Economic Stimulus Act) tahun 2008 memotong pajak, sementara Undang-Undang Pemulihan dan Reinvestasi Amerika (American Recovery and Reinveatment Act) tahun 2009 meningkatkan pengeluaran pemerintah untuk infrastruktur. 

Kesimpulan

Kebijakan fiskal adalah sesuatu seperti pedal gas dan rem di dalam mobil …

Pemerintah dapat menggunakan satu jenis kebijakan fiskal (pedal rem) untuk memperlambat pertumbuhan ekonomi ketika bergerak terlalu cepat. Pemerintah juga dapat menggunakan jenis kebijakan lainnya (pedal gas) untuk memberi dorongan ekonomi ketika lesu.

Ketahui Lebih Lanjut …

Apa tujuan kebijakan fiskal?

Jenis kebijakan fiskal

Bagaimana sejarah kebijakan fiskal?

Perbedaan antara kebijakan fiskal dan kebijakan moneter

Apa Tujuan Kebijakan Fiskal?

Tujuan kebijakan fiskal adalah untuk menjaga pertumbuhan ekonomi pada tingkat yang wajar. Pemerintah tidak ingin perekonomian tumbuh terlalu lambat, karena dapat mengakibatkan resesi dan tingkat pengangguran yang tinggi. Namun, pemerintah juga tidak ingin perekonomian tumbuh terlalu cepat, karena hal itu bisa berarti inflasi tinggi dan biaya hidup yang meningkat drastis. Hal ini juga dapat menyebabkan gelembung aset (asset bubble) yaitu ketika harga aset, seperti rumah atau saham, menjadi terlalu tinggi. 

Di A.S., kebijakan fiskal biasanya dilakukan melalui anggaran federal yang disahkan oleh Kongres dan presiden menandatangani undang-undang. Pertama-tama, presiden mengajukan anggaran yang diusulkan ke Kongres, kemudian legislator meninjau dan mengubah anggaran sesuai keinginan mereka. Anggaran federal terdiri dari pengeluaran wajib (inisiatif pemerintah federal secara hukum wajib untuk mendanai), seperti Jaminan Sosial & Asuransi Kesehatan (Medicare), serta pengeluaran diskresioner (inisiatif yang dipilih pemerintah untuk didukung). Kebijakan fiskal adalah bagian dari pengeluaran diskresioner.

Menjaga perekonomian tetap pada jalurnya adalah salah satu peran utama pemerintah. Politisi sangat tidak setuju tentang seberapa banyak pemerintah harus campur tangan di pasar, tetapi sebagian besar setuju bahwa beberapa keterlibatan pemerintah diperlukan untuk menjaga ekonomi yang sehat.

Jenis Kebijakan Fiskal

Ada dua jenis utama kebijakan fiskal: ekspansif dan kontraktif. Seperti namanya, kebijakan fiskal ekspansif dimaksudkan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi, sementara kebijakan fiskal kontraktif bertujuan untuk memperlambatnya.

Ada dua alat utama yang tersedia bagi pemerintah ketika harus menetapkan kebijakan fiskal yaitu : pajak dan pengeluaran. Kedua alat tersebut dapat digunakan untuk kebijakan ekspansif atau kontraktif – Hanya penerapannya saja yang berbeda dalam setiap kasusnya.

Kebijakan Fiskal Ekspansif

Pemerintah menggunakan kebijakan fiskal ekspansif untuk mendorong perekonomian di saat penurunan atau pertumbuhan ekonomi sangat lamban. Tujuannya adalah membuat orang membelanjakan lebih banyak uang. Untuk melakukan ini, pemerintah mencoba untuk mendapatkan lebih banyak uang tunai ke tangan konsumen baik dengan menaikkan pengeluaran pemerintah atau dengan memotong pajak.

Pemerintah mungkin meningkatkan pengeluaran untuk infrastruktur, yang dapat menciptakan lapangan kerja. Atau mungkin menghabiskan lebih banyak dana untuk program kesejahteraan, dan memberikan uang langsung kepada keluarga. Dengan pemotongan pajak, beberapa kebijakan mungkin menargetkan kelas menengah, dengan harapan membuat mereka menghabiskan lebih banyak uang. Yang lain mungkin menargetkan bisnis dengan harapan bahwa mereka dapat berinvestasi dalam pertumbuhan dan mempekerjakan lebih banyak pekerja.

Orang-orang dengan ideologi politik yang berbeda tidak setuju mengenai metode kebijakan fiskal ekspansif mana yang terbaik. Mereka yang percaya pada ekonomi sisi penawaran, juga disebut ekonomi “trickle-down (menetes ke bawah)”, cenderung berpendapat bahwa menurunkan pajak membuat bisnis lebih memungkinkan untuk berinvestasi dalam ekspansi dan mempekerjakan lebih banyak karyawan. Para pekerja itu, pada gilirannya, menghabiskan upah mereka, yang mengarah pada pertumbuhan ekonomi lebih lanjut.

Baca juga: Mengapa Harus Investasi Emas?

Di pihak lain, para pendukung ekonomi sisi permintaan, berpendapat bahwa meningkatnya permintaan akan barang dan jasa adalah yang mendorong perekonomian. Mereka berpendapat bahwa peningkatan pengeluaran pemerintah dapat membantu meningkatkan lapangan kerja dan menempatkan uang ke tangan konsumen, yang pada gilirannya dapat merangsang perekonomian. 

Kebijakan ekspansif dapat menggunakan kedua taktik sekaligus yaitu dengan meningkatkan pengeluaran pemerintah sekaligus memotong pajak. Metode ini menghasilkan banyak uang ekstra untuk meningkatkan perekonomian, dalam jangka panjang, hal ini juga dapat meningkatkan hutang federal. Di A.S., hutang federal telah meningkat drastis berkat penggunaan kebijakan fiskal ekspansif ketika perekonomian sudah berkembang pesat. Misalnya, UU Pemotongan Pajak dan Pekerjaan tahun 2017 mengurangi pajak pada saat ekonomi berjalan baik (berdasarkan pertumbuhan ekonomi, pengangguran rendah, dan kepercayaan konsumen). Kantor Anggaran Kongres memperkirakan RUU itu menambah $ 1,9T ke defisit federal dalam satu dekade, bahkan memperhitungkan setiap pertumbuhan yang dihasilkan. 

Kebijakan Fiskal Kontraktif

Ketika inflasi melonjak dan biaya hidup meningkat dengan cepat, pemerintah mungkin memilih untuk menggunakan kebijakan fiskal kontraktif untuk memperlambatnya. Termasuk menaikkan pajak atau memotong pengeluaran pemerintah. Kebijakan fiskal kontraktif jarang terjadi, sebagian karena kebijakan ini tidak begitu populer di antara para pemilih. Hal itu juga berisiko dapat meningkatkan pengangguran atau mengakibatkan perekonomian melambat terlalu banyak.

Bagaimana Sejarah Kebijakan Fiskal?

Prinsip-prinsip dasar kebijakan fiskal dapat ditelusuri kembali ke John Maynard Keynes, seorang ekonom Inggris yang lahir pada akhir tahun 1800-an dan pendiri ekonomi Keynesian. Keynes percaya bahwa permintaan konsumen adalah faktor utama dalam pertumbuhan ekonomi. Dia mendukung kebijakan fiskal ekspansif sebagai cara untuk membuat orang membelanjakan lebih banyak uang dan berpendapat bahwa pengeluaran pemerintah adalah cara terbaik untuk meningkatkan lapangan kerja. 

AS tidak benar-benar mulai menerapkan kebijakan fiskal hingga tahun 1930-an sebagai tanggapan terhadap Depresi Hebat. Presiden Franklin D. Roosevelt menetapkan kebijakan ekspansif tegas dalam bentuk pengeluaran pemerintah untuk mendorong perekonomian. Termasuk Pekerjaan Kemajuan Administrasi (Works Progress Administration), yang mempekerjakan orang untuk membangun infrastruktur dan melaksanakan proyek-proyek lain, serta Administrasi Jaminan Sosial (Social Security Administration), yang memberikan penghasilan kepada pensiunan dan lainnya. Kebijakan ini membantu mengurangi pengangguran dan mengakhiri Depresi Hebat. 

Baru-baru ini, pemerintah AS menggunakan kebijakan fiskal ekspansif sebagai tanggapan terhadap Resesi Hebat. Pada tahun 2008, Kongres meloloskan Undang-Undang Stimulus Ekonomi, yang memberikan potongan harga kepada wajib pajak – umumnya $ 600 – dengan harapan mereka akan menghabiskan lebih banyak uang. Tahun berikutnya, Kongres mengesahkan Undang-Undang Pemulihan dan Reinvestasi Amerika, yang menginvestasikan miliaran dolar dalam infrastruktur, kemandirian energi, pengembangan bisnis, dan proyek- proyek lain dalam upaya menciptakan dan menghemat pekerjaan. Kedua undang-undang ini adalah contoh kebijakan fiskal ekspansif, menggunakan dua alat berbeda yang dimiliki Kongres.

Perbedaan antara Kebijakan Fiskal dan Kebijakan Moneter

Kebijakan fiskal dan kebijakan moneter adalah dua cara di mana pemerintah mempengaruhi perekonomian. Pada akhirnya, keduanya dimaksudkan untuk bekerja sama.

Kebijakan fiskal biasanya merupakan pekerjaan Kongres dan dilaksanakan melalui perpajakan dan pengeluaran pemerintah. Di sisi lain, kebijakan moneter mengelola jumlah uang yang beredar dan suku bunga negara. Di A.S., kebijakan ini adalah tugas Federal Reserve, bank sentral negara. Tujuan utama kebijakan moneter adalah untuk mengelola inflasi, memaksimalkan lapangan kerja, dan mempertahankan tingkat suku bunga jangka panjang yang moderat. The Fed mencapai tujuan-tujuan ini dengan menaikkan atau menurunkan suku bunga, membeli dan menjual obligasi pemerintah A.S., serta mengubah persyaratan cadangan bank.

Mirip dengan kebijakan fiskal, ada dua jenis utama kebijakan moneter: ekspansif dan kontraktif. Kebijakan moneter ekspansif digunakan untuk menghindari resesi, mengurangi pengangguran, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Sementara yang kontraktif digunakan untuk mengendalikan inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Kebijakan moneter ekspansif dapat mencakup peningkatan jumlah uang yang beredar (memberi bank lebih banyak uang untuk dipinjamkan). Atau The Fed (Bank Sentral A.S) dapat menurunkan suku bunga dengan harapan mendorong lebih banyak orang mengambil pinjaman untuk berinvestasi dalam bisnis dan melakukan pembelian besar-besaran. 

Sementara Kebijakan moneter kontraktif termasuk mengurangi jumlah uang beredar sehingga bank memiliki lebih sedikit untuk meminjamkan. The Fed juga dapat meningkatkan suku bunga, yang berarti lebih sedikit orang akan mengambil pinjaman.

Diversifikasikan Portofoliomu dengan Investasi Emas Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk membeli emas digital dengan harga paling kompetitif di pasaran! Selisih harga jual-beli terendah dan tanpa biaya tersembunyi apapun. Emas yang kamu beli aman karena disimpan di Kliring Berjangka Indonesia (BUMN), produk emas Pluang dikelola oleh PT PG Berjangka yang sudah terlisensi dan diawasi oleh BAPPEBTI. Kamu juga bisa menarik fisik emasnya dalam bentuk logam mulia Antam dengan kadar 999.9 mulai dari kepingan 1 gram hingga 100 gram!

Sumber: Robinhood

Simak juga:

Apa Itu Skala Ekonomis?

Lebih Banyak Menganggur, Ini 5 Alasan Kenapa Jadi Sarjana Saja Tidak Cukup

Analisa Mingguan: Harga Emas Capai Target Rp900,000 per Gram

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img